Main Agenda: Anggota DPRD Jember Minta Maaf Usai Bermain Game Saat Rapat
Main Agenda – Seorang anggota DPRD Jember, Syahri, mengungkapkan rasa penyesalan atas aksi tidak sopan yang dilakukannya selama rapat, yaitu bermain game sambil merokok. Tindakan ini menjadi sorotan publik setelah video aksinya memicu reaksi di media sosial. Main Agenda dalam rapat tersebut membahas isu penting seperti penanganan stunting di wilayah Jember, namun Syahri mengakui kesalahan dalam menjalankan tugas dengan mengambil kesempatan untuk bermain game.
Konteks Rapat dan Reaksi Masyarakat
Rapat yang dihadiri Syahri berlangsung di Gedung DPRD Jember pada hari Kamis (14/5/2026). Pada sesi Main Agenda tentang stunting, anggota dewan tersebut menunjukkan sikap tidak konsentrasi dengan memainkan game Clash of Clans (CoC) sambil merokok. Video aksinya yang terekam dan beredar luas di media sosial membuat masyarakat mengkritik ketidaksopanan yang ditunjukkan dalam ruang formal. Syahri mengakui bahwa tindakannya berpotensi merusak citra DPRD dan Partai Gerindra.
“Saya sadar sepenuhnya apa yang saya lakukan selama rapat. Saya khilaf karena tidak memperhatikan Main Agenda yang sedang dibahas. Semoga kejadian ini menjadi pelajaran untuk saya dan anggota DPRD lainnya,” ujarnya.
Permintaan Maaf dan Harapan Perbaikan
Syahri secara resmi meminta maaf kepada warga Jember, yang menjadi konstituen partainya, serta kepada pimpinan Partai Gerindra. Ia menyatakan bahwa sikap tidak profesional selama rapat menunjukkan kurangnya kesadaran sebagai anggota legislatif. “Saya mohon maaf sebesar-besarnya kepada masyarakat Jember dan pimpinan partai atas perbuatan yang tidak sopan selama sesi Main Agenda,” tambahnya.
“Saya siap menerima sanksi dari dalam partai maupun lembaga DPRD Jember jika dianggap perlu. Ini adalah langkah perbaikan untuk menunjukkan komitmen menjaga kepercayaan publik,” katanya.
Aksi Syahri memicu diskusi di kalangan politikus dan masyarakat. Banyak yang menilai tindakan ini tidak sesuai dengan tanggung jawab seorang anggota DPRD, terutama dalam sesi Main Agenda yang harus dihadapi secara serius. Kritik tersebut juga dianggap sebagai refleksi dari budaya kerja di lembaga legislatif. “Main Agenda adalah bagian dari upaya menyampaikan kebijakan, bukan untuk bermain game,” tambah salah satu anggota DPRD lainnya yang turut mengomentari kejadian ini.
Dalam konteks ini, Syahri mengakui bahwa tindakannya menggambarkan kurangnya disiplin dalam menjalankan tugas. Ia menegaskan bahwa sesi Main Agenda dihadiri oleh sejumlah anggota dewan, dan tindakan tidak fokusnya bisa mengganggu pembahasan yang sedang berlangsung. “Dengan Main Agenda yang sangat penting, saya merasa bertanggung jawab untuk menunjukkan sikap profesional,” katanya.
Pengungkapan video Syahri memicu reaksi luas di media sosial. Berbagai komentar mengkritik kejadian ini, sementara ada pula yang mendukung Syahri dengan alasan bahwa kejadian tersebut bisa menjadi momen humor. Namun, di tengah kritik, Syahri meminta maaf dan berharap masyarakat bisa memahami kejadian tersebut sebagai bagian dari proses belajar dalam membangun sikap lebih baik. “Main Agenda tidak hanya tentang kebijakan, tapi juga tentang keberanian mengakui kesalahan,” ujarnya.