Berita

Key Discussion: Menlu Sugiono Akan Hadiri BRICS FMM di India 14 Mei

Menlu Sugiono Akan Hadiri BRICS FMM di India 14 Mei Key Discussion - Dalam agenda kegiatan internasional bulan Mei 2026, Menteri Luar Negeri (Menlu)

Desk Berita
Published Mei 13, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments

Menlu Sugiono Akan Hadiri BRICS FMM di India 14 Mei

Key Discussion – Dalam agenda kegiatan internasional bulan Mei 2026, Menteri Luar Negeri (Menlu) Indonesia, Bambang Sudibyo, akan menghadiri pertemuan Forum Kemitraan Multilateral (FMM) BRICS yang diadakan di New Delhi, India, pada 14 Mei. Pertemuan ini diharapkan menjadi key discussion penting dalam meningkatkan koordinasi antara anggota BRICS terkait isu-isu global yang mendesak, terutama dalam bidang ekonomi, keamanan, dan keberlanjutan lingkungan. Sebagai salah satu negara anggota BRICS, Indonesia menunjukkan komitmen kuat untuk menjadi bagian dari diskusi strategis yang berdampak luas di kancah internasional.

Pertemuan FMM BRICS: Isu yang Menjadi Fokus Utama

“BRICS FMM 2026 akan menjadi key discussion mengenai peningkatan kerja sama ekonomi dan kebijakan luar negeri antaranggota konsorsium,” ujar Sugiono dalam wawancara bersama dengan korresponden Antara, Selasa (12/5/2026). Ia menegaskan bahwa agenda utama pertemuan akan mencakup pembahasan mengenai transisi energi, ekonomi digital, dan upaya memperkuat peran BRICS dalam memimpin perubahan global.

Pertemuan ini menandai pertemuan ketiga secara berturut-turut di bawah kepemimpinan India sebagai penyelenggara. Negara-negara BRICS, yang terdiri dari Brasil, Rusia, India, China, dan Afrika Selatan, akan mengusung tema ‘BRICS@20: Membangun Ketahanan, Inovasi, Kerja Sama, dan Keberlanjutan’ sebagai pilar utama dalam diskusi. Tema ini dirancang untuk menyoroti peran BRICS dalam menciptakan kerangka kerja yang lebih inklusif dan responsif terhadap tantangan kontemporer.

Komitmen Indonesia dan Peran BRICS dalam Perdamaian Global

Juru bicara Kementerian Luar Negeri (Kemlu) Indonesia, Yvonne Mewengkang, menambahkan bahwa key discussion dalam pertemuan ini juga akan menekankan pentingnya BRICS sebagai pilar multilateralisme dalam mempromosikan keamanan dan stabilitas internasional. “Indonesia akan memperkuat upaya BRICS dalam menghadapi isu-isu yang mengancam perdamaian, seperti perubahan iklim, konflik regional, dan ketimpangan ekonomi global,” jelas Yvonne.

Menlu Sugiono menyampaikan bahwa kehadiran Indonesia di pertemuan ini sejalan dengan prioritas pemerintah dalam memperluas hubungan diplomatik dan ekonomi dengan negara-negara BRICS. Ia menekankan bahwa key discussion mengenai ekonomi digital akan menjadi salah satu topik yang menarik karena kemunculan teknologi baru dianggap sebagai peluang besar untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kawasan berkembang.

India sebagai Tuan Rumah: Strategi dan Harapan Masa Depan

India mengambil alih peran sebagai penyelenggara BRICS FMM pada 14-15 Mei 2026, sebagai bagian dari perannya sebagai negara penggerak dalam dialog multilateral. Menteri Luar Negeri India, S. Jaishankar, akan memimpin acara ini, dengan harapan menghasilkan keputusan yang berdampak jangka panjang dalam penyesuaian kebijakan global. Menurut laman resmi Kemlu India, pertemuan ini akan diikuti oleh para menteri luar negeri BRICS, serta delegasi negara-negara anggota dan mitra seperti Australia dan Jepang.

Sebagai negara dengan populasi terbesar di dunia, India berharap pertemuan ini dapat meningkatkan keterlibatan BRICS dalam isu-isu seperti energi terbarukan, perdagangan bebas, dan kerja sama teknis. “BRICS FMM adalah key discussion untuk menjawab tantangan ekonomi dan politik yang dihadapi oleh negara-negara berkembang,” kata Jaishankar. Ia menambahkan bahwa pertemuan ini juga akan menjadi panggung untuk membahas rencana pembangunan keberlanjutan dan reformasi sistem internasional yang lebih adil.

Agenda Utama: Tantangan dan Peluang dalam Kerja Sama BRICS

Dalam laman resmi BRICS, agenda utama pertemuan akan mencakup empat tema utama: ketahanan ekonomi, inovasi teknologi, keberlanjutan lingkungan, dan kerja sama multilateral. Menlu Sugiono menyebut bahwa key discussion mengenai keberlanjutan lingkungan akan menjadi fokus utama karena perubahan iklim dianggap sebagai ancaman global yang memerlukan solusi kolaboratif. “Kita harus memastikan bahwa pertemuan ini tidak hanya menjadi diskusi rutin, tetapi juga bermuara pada tindakan konkret,” tegasnya.

Salah satu poin penting dalam agenda adalah diskusi tentang reformasi tata kelola global, yang melibatkan pengurangan dominasi negara-negara Barat dalam organisasi internasional seperti IMF dan Bank Dunia. Indonesia menilai bahwa key discussion ini dapat menjadi ajang untuk menekankan pentingnya peran aktif negara-negara berkembang dalam menyusun kebijakan global. “Kerja sama BRICS harus menjadi platform untuk menyeimbangkan kepentingan semua pihak,” imbuh Sugiono.

Kontribusi Indonesia: Perspektif Regional dan Global

Menlu Sugiono menyatakan bahwa Indonesia akan memberikan pandangan yang relevan dalam key discussion mengenai isu-isu regional, seperti stabilitas politik di Asia Tenggara dan keterlibatan negara-negara kawasan dalam kerja sama ekonomi. “Kita ingin menunjukkan bahwa BRICS bukan hanya pilar ekonomi, tetapi juga menjadi mitra penting dalam membangun kebijakan yang inklusif,” ujarnya. Ia juga menyoroti pentingnya dialog antara BRICS dengan negara-negara lain, termasuk negara-negara ASEAN, sebagai langkah untuk memperkuat kerja sama Asia.

Dalam sesi pers yang diselenggarakan sebelum pertemuan, Sugiono menyampaikan bahwa Indonesia akan memperkenalkan inisiatif baru dalam bidang ekonomi digital, terutama terkait pembangunan ekosistem startup dan kebijakan data. “Ini adalah key discussion penting untuk menyiapkan langkah-langkah konkret dalam meningkatkan transparansi dan akses ke teknologi di tingkat global,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa kehadiran Indonesia di BRICS FMM 2026 akan memperkuat posisi negara sebagai negara penghubung antara Asia Tenggara dan pasar global.

Acara BRICS FMM 2026 diharapkan menjadi titik balik dalam memperkuat kepercayaan antaranggota konsorsium. Dengan key discussion yang menitikberatkan pada ekonomi digital dan keberlanjutan, pertemuan ini dianggap sebagai langkah strategis untuk menjawab tantangan global yang kompleks. Partisipasi aktif Indonesia dan negara-negara lain diharapkan mendorong kolaborasi yang lebih dinamis, serta memperkuat BRICS sebagai kekuatan multilateral yang relevan dalam era krisis global saat ini.

Leave a Comment