Berita

Historic Moment: Bareskrim Ungkap Keterlibatan Oknum Polisi di Kampung Narkoba Samarinda

Peristiwa Historis dalam Penindasan Narkoba Historic Moment - Sebuah historic moment dalam sejarah penegakan hukum narkoba di Indonesia terjadi ketika

Desk Berita
Published Mei 18, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Peristiwa Historis dalam Penindasan Narkoba

Historic Moment – Sebuah historic moment dalam sejarah penegakan hukum narkoba di Indonesia terjadi ketika Direktorat Tindak Pidana Narkoba (Dittipidnarkoba) Bareskrim Polri mengungkap keterlibatan oknum polisi dalam kegiatan narkoba di kawasan Gang Langgar, Samarinda, Kalimantan Timur. Ini menjadi bukti nyata bahwa lembaga penegak hukum tidak hanya fokus pada penyelidikan luar, tetapi juga memastikan transparansi dalam lingkungan internalnya. Keterlibatan anggota polisi dalam jaringan narkoba menunjukkan keterbukaan lembaga tersebut dalam mengungkap praktik korupsi di kalangan anggotanya.

Oknum Polisi Terlibat dalam Operasi Narkoba

Bripka Dedy Wiratama, yang dikenal sebagai “sniper” dalam pengawasan aktivitas narkoba di kawasan tersebut, menjadi salah satu sasaran operasi. Ia turut diamankan oleh Satbrimob Polda Kaltim setelah terbukti terlibat langsung dalam kegiatan penyalahgunaan narkoba. “Historic moment ini menunjukkan bahwa Bareskrim tidak hanya mencegah kejahatan narkoba, tetapi juga memastikan akuntabilitas oknum kepolisian yang terlibat,” ungkap Brigjen Eko Hadi Santoso, Dirtipidnarkoba Bareskrim Polri, dalam pernyataannya Senin (18/5/2026).

Brigjen Eko Hadi menjelaskan bahwa Bripka DW telah diperiksa atas pelanggaran kode etik profesi. Selain itu, ia juga dalam proses pemecatan sebagai bagian dari tindakan pencegahan korupsi di dalam instansi. “Historic moment ini memperkuat komitmen kami untuk membersihkan sistem internal dan menegakkan hukum secara tegas,” tegasnya. Penyelidikan terhadap oknum ini dianggap sebagai langkah penting dalam memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap institusi kepolisian.

Razia di Kampung Narkoba Samarinda

Operasi pembersihan kawasan narkoba di Gang Langgar Samarinda berlangsung pada Kamis (16/5) lalu. Tim gabungan yang dipimpin oleh Kombes Handik Zusen dan Kombes Kevin Leleury berhasil menangkap 11 tersangka, termasuk bandar utamanya bernama Fernandes alias Nando. Proses penyitaan barang bukti juga dilakukan, di mana narkoba dan peralatan yang digunakan dalam kegiatan ilegal berhasil diamankan. “Historic moment ini menunjukkan keberhasilan kita dalam meruntuhkan jaringan narkoba yang selama ini tersembunyi di tengah masyarakat,” kata Kombes Handik dalam jumpa pers.

Menurut laporan resmi, operasi tersebut berlangsung intensif selama tiga hari sebelum berhasil mengungkap seluruh struktur kejahatan. Dittipidnarkoba menyatakan bahwa penyelidikan terus berlanjut untuk memastikan tidak ada oknum lain yang terlibat. “Kami akan terus mengejar semua pelaku, baik dari luar maupun dalam tubuh polisi,” tambah Kombes Kevin Leleury. Hasil operasi ini diharapkan bisa menjadi contoh bagi kota lain dalam menangani masalah narkoba secara serius.

Implikasi Historic Moment terhadap Kepolisian

Peristiwa historic moment ini tidak hanya mengungkap kejahatan, tetapi juga memberikan pelajaran penting bagi seluruh kepolisian. Fakta bahwa oknum yang sebelumnya mengawasi kejahatan narkoba kini terlibat langsung dalam praktik yang sama menjadi sorotan. “Ini adalah bukti bahwa jaringan korupsi bisa terjadi di mana pun, bahkan di kalangan yang dianggap andal,” jelas salah satu anggota penyidik. Kejadian ini mendorong pihak berwenang untuk memperketat pengawasan terhadap anggota polisi yang memiliki wewenang dalam operasi anti-narkoba.

Keterlibatan oknum polisi dalam kejahatan narkoba menimbulkan dampak signifikan pada masyarakat setempat. Banyak warga mengungkapkan kekecewaan mereka karena anggota polisi yang sebelumnya dianggap sebagai pelindung keamanan kini menjadi bagian dari masalah. “Kami berharap historic moment ini bisa menjadi titik balik dalam meningkatkan kinerja kepolisian di Samarinda,” kata salah satu warga yang tinggal di sekitar area kampung narkoba.

Dittipidnarkoba juga mengungkap bahwa selain Bripka Dedy, ada beberapa anggota polisi lain yang diperiksa sebagai saksi. Proses ini memakan waktu sekitar seminggu sebelum dapat memastikan keseluruhan keterlibatan mereka. “Historic moment ini menunjukkan bahwa kita tidak hanya mengungkap pelaku, tetapi juga mencari akar dari korupsi tersebut,” papar Brigjen Eko Hadi. Pihaknya menegaskan bahwa tindakan ini adalah bagian dari strategi nasional dalam pemberantasan narkoba.

Langkah Selanjutnya dalam Penegakan Hukum

Setelah berhasil mengungkap seluruh jaringan, Dittipidnarkoba berencana untuk menggelar sidang terbuka bagi para tersangka. “Historic moment ini juga menjadi ajang edukasi bagi masyarakat, agar lebih waspada terhadap kejahatan narkoba yang mungkin terjadi di sekitar mereka,” kata Eko Hadi. Selain itu, pihak kepolisian juga menyiapkan rencana penguatan pengawasan terhadap anggota yang bekerja di wilayah rawan narkoba.

Peristiwa historic moment ini diharapkan menjadi catatan penting dalam sejarah Bareskrim. Dengan menindak oknum yang terlibat, lembaga tersebut menunjukkan komitmen untuk memberantas narkoba di semua lapisan masyarakat, termasuk di dalam tubuh kepolisian. “Ini bukan sekadar kasus narkoba, tetapi juga pengingat bahwa tidak ada ruang bagi korupsi di mana pun,” pungkas Eko Hadi. Dittipidnarkoba juga menargetkan penanganan kasus serupa di kota lain sebagai langkah preventif.

Leave a Comment