Berita

Facing Challenges: Wamendagri Tekankan Pentingya Penguatan Karakter Berbasis Nilai Budaya

Wamendagri Tekankan Pentingnya Penguatan Karakter Berbasis Budaya Facing Challenges - Dalam menghadapi tantangan zaman modern, Bima Arya Sugiarto, Wakil

Desk Berita
Published Juni 14, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Wamendagri Tekankan Pentingnya Penguatan Karakter Berbasis Budaya

Facing Challenges – Dalam menghadapi tantangan zaman modern, Bima Arya Sugiarto, Wakil Menteri Dalam Negeri, menekankan pentingnya penguatan karakter berbasis nilai budaya saat menghadiri acara Pengukuhan Pengurus Ikatan Sarjana Melayu Indonesia (ISMI) di Jakarta, Sabtu (13/6/2026). Kegiatan ini menegaskan bahwa budaya tidak hanya sebagai identitas, tetapi juga sebagai alat untuk membentuk kepribadian dan nilai-nilai kebangsaan yang kuat. Wamendagri mengatakan bahwa tantangan yang dihadapi bangsa Indonesia saat ini membutuhkan generasi muda yang memiliki akar budaya yang dalam dan karakter yang tangguh.

Peran Budaya dalam Pembentukan Karakter Generasi Muda

Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa keberhasilan suatu bangsa tidak hanya bergantung pada kecakapan ilmu pengetahuan, tetapi juga pada kemampuan karakter yang mumpuni. Menurutnya, peradaban besar dibangun dengan pengetahuan dan dipertahankan melalui karakter kuat. “Kemajuan suatu bangsa melibatkan dua aspek: pengetahuan yang menjadi fondasi dan karakter yang menjaga arahnya. Karena itu, kita harus memprioritaskan pembentukan karakter sekarang,” ujarnya.

Dalam konteks facing challenges yang kini semakin kompleks, Wamendagri menekankan bahwa pendidikan karakter harus diintegrasikan dalam sistem pendidikan nasional. Ia menyoroti bahwa nilai-nilai luhur seperti kejujuran, tanggung jawab, dan gotong royong, yang diwariskan oleh budaya Melayu, bisa menjadi penopang utama dalam menghadapi dinamika global. “Tanpa karakter yang solid, kemajuan teknologi dan ekonomi akan mudah tergoyahkan oleh praktek-praktek negatif yang menyebar melalui media,” tambahnya.

Tantangan Digital dan Kebutuhan Literasi Budaya

Kepuasan Wamendagri terhadap peningkatan kompetensi pendidikan formal tidak menghilangkan kebutuhan untuk memperkuat aspek moral dan budaya. Ia menyoroti bahwa perkembangan media sosial mempercepat aliran informasi, tetapi sering kali melewatkan proses pengujian kebenaran. Dalam facing challenges era digital, generasi muda diharapkan memiliki kemampuan analitis serta kepekaan terhadap nilai-nilai kebenaran.

Menurut Bima, tantangan utama saat ini adalah menumbuhkan rasa nasionalisme dan integritas budaya di tengah arus informasi yang sering kali memengaruhi cara berpikir remaja. “Kita harus mengajarkan mereka bahwa setiap informasi harus dikritik, diuji, dan dilestarikan dengan nilai-nilai lokal,” imbuhnya. Ini berarti bahwa pendidikan karakter tidak hanya tentang kebaikan moral, tetapi juga tentang keterampilan memilah informasi yang relevan dalam masyarakat digital.

Warisan Budaya sebagai Penguat Identitas Bangsa

Bima Arya Sugiarto menyebutkan bahwa tradisi intelektual Melayu telah menghasilkan banyak pemimpin nasional, seperti Raja Ali Haji dan Buya Hamka. Menurutnya, pemikiran serta teladan mereka masih relevan dalam membentuk karakter generasi saat ini, meski dihadapkan pada tantangan zaman modern. “Dari budaya lokal, mereka berpikir secara nasional, dan berkiprah di tingkat internasional,” jelasnya.

Dalam facing challenges menciptakan masyarakat yang berkarakter, Wamendagri menekankan bahwa budaya harus menjadi bahan baku dalam pembelajaran sehari-hari. Ia mencontohkan bahwa nilai-nilai yang diwariskan oleh para pendahulu, seperti keadilan, kerja keras, dan kegotongroyongan, bisa menjadi dasar dalam menghadapi perubahan sosial dan ekonomi. “Budaya bukan hanya untuk dilestarikan, tetapi juga untuk dikembangkan agar sesuai dengan kebutuhan zaman sekarang,” ujarnya.

Strategi Menuju Indonesia Emas 2045

Bima berharap ISMI bisa menjadi ruang yang aktif dalam menghidupkan kembali nilai-nilai budaya dan kebangsaan. Upaya ini, menurutnya, penting untuk menciptakan generasi muda yang siap menghadapi tantangan masa depan serta memanfaatkan peluang bonus demografi menuju Indonesia Emas 2045. Ia menegaskan bahwa penguatan karakter berbasis budaya tidak bisa dipisahkan dari visi kebangsaan yang ingin dicapai.

Menurut Wamendagri, facing challenges dalam transformasi masyarakat membutuhkan kolaborasi antara institusi pendidikan, keluarga, dan komunitas. “Kami perlu menciptakan lingkungan yang mendukung nilai-nilai luhur, sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri dalam warisan budaya kita,” katanya. Hal ini diharapkan bisa menjawab tantangan global seperti globalisasi, digitalisasi, dan kompetisi internasional.

Dalam kesimpulannya, Bima mengingatkan bahwa setiap facing challenges yang dihadapi bangsa ini harus dijawab dengan karakter yang kuat. “Karakter yang dibangun berdasarkan nilai-nilai budaya akan menjadi fondasi untuk menciptakan pemimpin yang tegas, berintegritas, dan berpikir jernih,” tutupnya. Penguatan ini, menurutnya, adalah kunci untuk menjaga keutuhan dan keberlanjutan bangsa di masa depan.

Leave a Comment