Berita

New Policy: Plt Bupati Cilacap Lirik Batako FABA Karya Napi Nusakambangan

Plt Bupati Cilacap Tertarik Gunakan Batako FABA Buatan Tahanan Nusakambangan New Policy yang baru saja diumumkan oleh Plt Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma

Desk Berita
Published Juni 21, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Plt Bupati Cilacap Tertarik Gunakan Batako FABA Buatan Tahanan Nusakambangan

New Policy yang baru saja diumumkan oleh Plt Bupati Cilacap, Ammy Amalia Fatma (AAF), menarik perhatian publik karena mengintegrasikan penggunaan batako Fly Ash Bottom Ash (FABA) yang dihasilkan oleh warga binaan di Pulau Nusakambangan, Jawa Tengah. Sebagai bagian dari upaya transformasi tata ruang wilayah, kebijakan ini bertujuan memperkuat keberlanjutan lingkungan sekaligus memberdayakan napi melalui program ekonomi kreatif. Dalam kunjungan kerja ke kawasan tersebut, AAF mengungkapkan bahwa FABA menjadi salah satu bahan penting yang bisa dimanfaatkan dalam pembangunan infrastruktur dan permukiman.

“Dalam New Policy ini, kita ingin mengeksplorasi sumber daya lokal yang bisa memberikan dampak positif baik secara ekonomi maupun lingkungan. FABA bukan hanya sebagai bahan baku, tetapi juga sebagai simbol inovasi dalam memanfaatkan limbah industri untuk kebutuhan sehari-hari masyarakat,” jelas AAF kepada detikcom.

Bahan FABA sendiri merupakan hasil pengolahan limbah batu bara yang diubah menjadi material konstruksi. Proses ini menggunakan teknologi spesifik yang mampu menghasilkan paving block dan batako dengan kekuatan mekanik lebih tinggi dibanding bata merah tradisional. Menurut AAF, produk ini memiliki potensi menjadi solusi keberlanjutan karena mengurangi volume limbah yang dibuang ke lingkungan sekaligus memberikan nilai tambah bagi penggunaan sumber daya lokal.

Program Pemanfaatan FABA sebagai Bagian dari New Policy

Sebagai bagian dari New Policy, pemanfaatan FABA di Pulau Nusakambangan ditujukan untuk mempercepat pembangunan infrastruktur di wilayah Cilacap. AAF menjelaskan bahwa bahan ini bisa digunakan dalam proyek-proyek seperti pembangunan jalan raya, jembatan, serta bangunan umum. Dengan menggandeng Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, program ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem usaha yang berkelanjutan dan melibatkan partisipasi aktif napi dalam produksi.

“Kita sedang menyiapkan kerja sama yang lebih luas agar FABA bisa dipasarkan secara masif. New Policy ini juga menargetkan pengurangan ketergantungan pada bahan baku ekspor, sehingga lebih menguntungkan masyarakat lokal,” tambah AAF.

Selain itu, kebijakan ini memiliki dampak sosial yang signifikan. Napi yang terlibat dalam produksi FABA diharapkan mampu memperoleh keterampilan kerja serta penghasilan tambahan, yang bisa menjadi pendorong untuk perbaikan kualitas hidup mereka. AAF menegaskan bahwa program ini adalah langkah konkrit dalam menegakkan visi pembangunan inklusif yang telah diusung dalam New Policy.

Detail Produksi FABA di Lapas Nirbaya

Workshop produksi batako dan paving block FABA berdiri di lahan seluas lebih dari 11.250 meter persegi. Di sana terdapat dua mesin cetak, satu untuk batako dan satu untuk paving block, yang dioperasikan secara otomatis serta manual. Workshop ini didirikan dengan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Cilacap dan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, dengan tujuan mengoptimalkan sumber daya yang ada.

“Kami memiliki 20 narapidana yang terlibat dalam produksi FABA. Setiap hari, mereka mampu menghasilkan 2.000 buah paving block dan 480 buah batako. Saat ini, total produksi telah mencapai 44.700 buah, dari total pesanan 50.500 buah. New Policy ini memberikan ruang bagi pengembangan produksi yang lebih masif,” kata AAF.

Proses produksi FABA di Lapas Nirbaya memang memerlukan pengawasan ketat untuk memastikan kualitas material yang dihasilkan sesuai standar. Selain itu, pihak pemerintah juga berupaya menekan biaya produksi agar harga jual batako FABA bisa bersaing dengan produk konvensional. Ini menjadi salah satu strategi utama dalam mewujudkan New Policy yang menekankan efisiensi dan keterjangkauan.

New Policy ini juga bertujuan mendorong kolaborasi antara instansi pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat. Dengan memanfaatkan keterampilan narapidana, program ini diharapkan mampu menjadi contoh keberhasilan dalam pembangunan berbasis komunitas. AAF menambahkan bahwa pihaknya terus berupaya meningkatkan jumlah peserta program serta memperluas jaringan pemasaran FABA ke berbagai wilayah lain.

Adapun, penyiapan New Policy ini didasari oleh kebutuhan masyarakat Cilacap untuk infrastruktur yang lebih ramah lingkungan. Kebijakan tersebut juga berdampak pada pengurangan emisi karbon dan penghematan biaya pembangunan, karena FABA bisa menggantikan bahan baku berbasis batu bara. Dengan menggunakan batako FABA, proyek pembangunan diharapkan mampu mencapai target keberlanjutan tanpa mengorbankan kualitas konstruksi.

Leave a Comment