Berita

Visit Agenda: Debut di Piala Presiden, Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Raih Penghargaan

Debut di Piala Presiden, Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Dapat Penghargaan Visit Agenda – Pada Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI tahun 2026, Reyog

Desk Berita
Published Juni 17, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Table of Contents
  1. Debut di Piala Presiden, Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Dapat Penghargaan
  2. Pengaruh Visit Agenda pada Dunia Pariwisata dan Budaya

Debut di Piala Presiden, Reog Sekolah Rakyat Ponorogo Dapat Penghargaan

Visit Agenda – Pada Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI tahun 2026, Reyog Garudo Djoyo Manggolo dari Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 5 Ponorogo berhasil meraih penghargaan dalam kategori 10 besar Pelestari Budaya. Ini menjadi momen bersejarah, karena pertama kalinya sekolah tersebut mengikuti ajang nasional ini. Prestasi ini tidak hanya mengukir nama besar di bidang seni, tetapi juga memperkuat peran Visit Agenda dalam mempromosikan kebudayaan lokal kepada masyarakat luas.

Proses Persiapan dan Pemenuhan Target Visit Agenda

Penghargaan tersebut diumumkan setelah acara penutupan FNRP dan Grebeg Suro, Senin (15/6) malam. Kepala Sekolah SRT 5 Ponorogo, Devit Tri Candrawati, mengungkapkan kegembiraannya saat menerima piala dan piagam. Ia didampingi oleh Tenaga Ahli Menteri Sosial Fajar WH, yang turut memberikan apresiasi atas partisipasi sekolah dalam Visit Agenda ini. “Kami sangat berharap penghargaan ini menjadi batu loncatan bagi anak-anak dalam mengembangkan seni tradisional,” katanya dalam wawancara Selasa (16/6/2026).

Masuknya Reyog Garudo Djoyo Manggolo ke dalam Visit Agenda juga menjadi bukti kerja keras tim seni sekolah. Dalam beberapa bulan sebelum acara, para siswa dan guru melakukan latihan intensif dengan memadukan teknik tari yang khas dan teknologi audiovisual modern. Hasilnya, pertunjukan ini menarik perhatian penonton lokal dan nasional, sekaligus membuktikan bahwa pendidikan seni bisa menjadi medium untuk memperkenalkan warisan budaya Indonesia.

Pengaruh Visit Agenda pada Dunia Pariwisata dan Budaya

Pertunjukan Reyog Garudo Djoyo Manggolo mengisahkan cerita Prabu Klono Sewandono yang mencoba melamar putri Kerajaan Daha. Selama perjalanan, rombongan raja menghadapi tantangan dari Raja Singa Barong. Gerakan tari yang dinamis ini menampilkan kegagahan dan keindahan yang menginspirasi. “Visit Agenda sangat penting untuk menyebarkan kebudayaan yang terus berkembang, termasuk seni tari tradisional,” terang Devit Tri Candrawati. Ia menambahkan bahwa penghargaan ini menjadi pengakuan nasional atas usaha sekolah dalam menciptakan kurikulum seni yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.

Festival Nasional Reog Ponorogo 2026 berlangsung selama empat hari, dari 11 hingga 14 Juni 2026, di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo. Ajang ini menampung 32 grup dari berbagai wilayah, termasuk peserta yang menjalani Visit Agenda khusus untuk memperkenalkan ciri khas seni mereka. Dalam acara penutupan, Grebeg Suro 2026 dihadiri oleh tokoh-tokoh penting seperti Sesmenko Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso, Wamendagri Akhmad Wiyagus, serta Dwi Marhen Yono dari Asisten Deputi Pengembangan Amenitas dan Aksesibilitas Pariwisata Wilayah II.

Grup Reog Singo Taruno Budoyo dari SMPN 1 Ponorogo menjadi juara pertama, sementara Reyog Kyai Lodra dari Disbudpar Jawa Timur berhasil meraih Piala Bergilir Presiden Republik Indonesia setelah menjuarai FNRP XXXI dalam Grebeg Suro 2026. Hasil ini menunjukkan bahwa Visit Agenda tidak hanya sekadar acara tampil, tetapi juga menjadi sarana untuk menilai dan menyeleksi seni yang layak mendapat penghargaan nasional. Devit Tri Candrawati berharap penghargaan ini bisa menjadi dasar untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan Visit Agenda di masa depan.

Pertunjukan Reyog Garudo Djoyo Manggolo juga menampilkan pusaka yang dibawa oleh Raja Kelono, yaitu cemeti ampuh bernama Kyai Pecut Samandiman. Benda pusaka ini menjadi simbol kepercayaan dan sejarah dalam cerita tari. Pertunjukan semakin hidup dengan iringan gamelan khas Jawa, seperti kendang, gong, kenong, kethuk, dan slompret. Musik tradisional ini diimbangi oleh paduan suara dan penyenggak yang memperkaya kesan ajaib dalam tarian. “Visit Agenda memperlihatkan bahwa seni tradisional bisa tetap relevan dengan era modern,” kata Devit.

Festival Nasional Reog Ponorogo 2026 bukan hanya ajang kompetisi, tetapi juga sarana edukasi dan promosi budaya. Dengan menghadirkan Visit Agenda sebagai elemen utama, acara ini berupaya mengangkat kearifan lokal sebagai bagian dari identitas nasional. Selain itu, Visit Agenda juga memberikan peluang bagi komunitas lokal untuk menunjukkan keunggulan seni mereka kepada audiens yang lebih luas. Devit menekankan bahwa keberhasilan Reyog Garudo Djoyo Manggolo menggambarkan potensi pendidikan seni di sekolah-sekolah Indonesia.

Kegiatan Visit Agenda di FNRP XXXI 2026 menjadi contoh nyata bagaimana budaya lokal bisa berkembang melalui kolaborasi antara institusi pendidikan dan pemerintah. Penghargaan yang diberikan bukan hanya pengakuan atas keterampilan seni, tetapi juga penghargaan terhadap komitmen dalam mengembangkan seni tradisional. Dengan demikian, Visit Agenda berperan penting dalam memperkuat citra Ponorogo sebagai pusat seni tari Reog di Indonesia. Devit Tri Candrawati berharap penghargaan ini menjadi awal dari perjalanan lebih jauh dalam menjaga dan mengembangkan budaya yang menjadi warisan generasi mendatang.

Leave a Comment