Berita

Solving Problems: Terungkap Atlet Dilecehkan Pengurus Perbakin Surabaya hingga 6 Kali

Pengurus Perbakin Surabaya Hingga 6 Kali Solving Problems menjadi topik utama dalam kasus pelecehan seksual yang terjadi di Persatuan Menembak Sasaran dan

Desk Berita
Published Juni 12, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Solving Problems: Terungkap Atlet Dilecehkan Pengurus Perbakin Surabaya Hingga 6 Kali

Solving Problems menjadi topik utama dalam kasus pelecehan seksual yang terjadi di Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Seluruh Indonesia (Perbakin) Surabaya. Seorang mantan pengurus Perbakin Surabaya, berinisial JL, diduga melakukan pelecehan seksual terhadap atletnya sendiri, DS (15), sebanyak enam kali. Informasi ini diungkapkan oleh paman korban, E, kepada media lokal, detikjatim.

Latar Belakang Peristiwa

Kasus ini memicu perdebatan mengenai pentingnya Solving Problems dalam menangani masalah internal organisasi. Menurut laporan detikjatim, Jumat (12/6/2026), E menjelaskan bahwa korban dan pelaku pertama kali bertemu di akhir 2024 atau awal 2025. Saat itu, DS mulai mengikuti pelatihan menembak dengan didampingi orang tuanya. Namun, karena adanya kendala, orang tua korban menyerahkan pengawasan ke pelaku, yang juga bertindak sebagai pelatih.

Pengakuan dan Pengalaman Korban

“Peristiwa ini terjadi sebanyak enam kali. Awalnya, korban diberi hukuman di lingkungan lapangan tembak, termasuk gelitik. Perlahan, hukuman tersebut menjadi rutinitas dan berkembang menjadi pegangan,” ujar E pada hari Kamis (11/6/2026).

Solving Problems dalam kasus ini menunjukkan bagaimana pengurus klub bisa mengubah hubungan guru-murid menjadi situasi yang tidak sehat. Pelecehan pertama terjadi sebelum bulan Ramadan 2026, dimulai di lingkungan tempat latihan yang berupa ruangan tertutup. Setelah korban membuat kesalahan lagi, pelaku memberinya hukuman tambahan di dalam mobil. Proses ini berlanjut hingga akhirnya korban dibawa ke hotel untuk melakukan aksi kekerasan.

Dalam proses penanganannya, E menegaskan bahwa korban tidak mengalami pencabulan secara fisik selama kejadian terakhir. Namun, dampak psikologis dari Solving Problems yang kurang tepat ini berdampak besar terhadap kepercayaan korban terhadap lingkungan pelatihan. Selain itu, kasus ini juga mengungkapkan kelemahan sistem pengawasan internal Perbakin Surabaya.

Komunikasi dengan Korban dan Peran Orang Tua

Korban DS (15) awalnya mengikuti pelatihan menembak dengan didampingi orang tuanya, tetapi kepercayaan tersebut berubah setelah pelaku menunjukkan dominasi dalam pengambilan keputusan. E mengungkapkan bahwa pelaku memanfaatkan posisinya sebagai pelatih untuk memperkuat kontrol terhadap korban. Solving Problems dalam hal ini seharusnya diwujudkan melalui transparansi dan komunikasi yang baik antara pelatih dan atlet.

Salah satu aspek krusial dalam Solving Problems adalah pemahaman akan tindakan yang dilakukan pelaku. Proses hukuman yang diberikan tidak hanya mengarah pada kekerasan fisik, tetapi juga menyebabkan ketidaknyamanan psikologis. E menegaskan bahwa penggunaan hukuman sebagai alat intimidasi menjadi bagian dari ritual yang dilakukan pelaku, terutama ketika korban mengalami kesalahan dalam pelatihan.

Respons dari Perbakin Surabaya

Kasus ini memicu respons dari Perbakin Surabaya yang menyatakan kekecewaan atas tindakan pelaku. Dalam pernyataannya, organisasi tersebut mengakui kelemahan dalam pengawasan dan berkomitmen untuk menyelesaikan masalah ini melalui Solving Problems yang lebih sistematis. Meski demikian, E menyebut bahwa upaya ini masih butuh waktu dan kejelasan.

Pelaku JL, yang kini dikenal sebagai mantan pengurus, dianggap tidak hanya melakukan pelecehan fisik, tetapi juga menyingkirkan proses Solving Problems yang seharusnya mengatasi konflik secara bijak. Korban dan keluarga menunggu klarifikasi lebih lanjut, sementara masyarakat mengkritik kurangnya tindakan preventif dalam lingkungan olahraga.

Kasus ini juga menunjukkan pentingnya Solving Problems dalam pencegahan kekerasan. Dengan memperkuat mekanisme pengawasan dan menyediakan ruang untuk dialog, organisasi seperti Perbakin Surabaya dapat menghindari kejadian serupa. E berharap kasus ini menjadi pelajaran bagi pengurus lainnya, agar tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Leave a Comment