Key Discussion: RDF Rorotan Siap Proses 2.400 Ton Sampah, Pansus Ungkap Kendala Infrastruktur
Key Discussion – Komite Khusus DPRD DKI Jakarta yang mengawasi pengelolaan sampah mengungkapkan beberapa tantangan yang menghambat optimalisasi operasional RDF Plant Rorotan di Jakarta Utara. Meski fasilitas ini dirancang untuk memproses 2.400 ton sampah per hari, kinerjanya masih terbatasi akibat masalah infrastruktur. Fasilitas ini menjadi salah satu solusi utama dalam mengurangi ketergantungan Jakarta terhadap Tempat Pemrosesan Sampah (TPS) Bantargebang, Kota Bekasi, namun hambatan teknis terus mengganggu efisiensinya.
Komite Khusus Dorong Peningkatan Kapasitas RDF Rorotan
Ketua Komite Khusus Pengelolaan Sampah DPRD DKI Jakarta, Judistira Hermawan, menjelaskan bahwa kunjungan Pansus ke RDF Rorotan adalah bagian dari Key Discussion untuk mengevaluasi kemampuan fasilitas tersebut dalam mendukung pengurangan sampah plastik dan limbah organik. “Kehadiran Pansus hari ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat pengoperasian RDF, agar dalam satu tahun ke depan kapasitasnya dapat mencapai 1.500 hingga 2.000 ton sampah per hari,” ujarnya dalam pernyataan, Kamis (11/6/2026).
“Dengan memperbaiki infrastruktur dan mengoptimalkan seluruh jalur pengolahan, RDF Rorotan akan menjadi pusat pengolahan sampah yang lebih efektif,” tambah Judistira, yang juga merupakan anggota Fraksi Golkar DPRD DKI Jakarta.
Pansus telah melakukan peninjauan langsung ke fasilitas tersebut untuk menilai keadaan operasional. Dari tiga jalur pengangkutan sampah yang tersedia, hanya dua yang aktif sementara satu sedang menjalani perawatan. “Kendala tidak terletak pada teknologi, tapi pada infrastruktur yang belum memadai,” jelas Judistira. Hal ini menunjukkan bahwa Key Discussion yang dilakukan Pansus menghasilkan temuan penting yang perlu segera ditindaklanjuti.
Kendala Infrastruktur Terbongkar dalam Key Discussion
Menurut Judistira, masalah utama yang muncul dalam Key Discussion adalah kondisi jalan menuju RDF Rorotan yang dinilai belum memadai. Kondisi ini menyebabkan hambatan dalam pengangkutan sampah dari berbagai wilayah, terutama di Jakarta Utara. “Jalan yang tidak optimal membuat armada pengangkut sampah sulit mencapai fasilitas dengan cepat, sehingga memperlambat proses pengolahan,” terangnya.
Pansus menyatakan bahwa pembangunan infrastruktur jalan harus menjadi prioritas untuk memastikan kelancaran operasional RDF Rorotan. Dinas Bina Marga DKI Jakarta akan dipersiapkan sebagai mitra utama dalam percepatan proyek ini. “Kolaborasi antara Pemprov dan DPRD akan menjadi kunci untuk mempercepat perbaikan infrastruktur, agar RDF Rorotan bisa beroperasi maksimal dalam Key Discussion ini,” ujar anggota komite lainnya, Elly Rosyida.
Keluhan Masyarakat tentang Armada Pengangkut Sampah
Dalam Key Discussion, Pansus juga mendengar keluhan warga terkait kondisi armada pengangkut sampah. Truk uzur yang digunakan menuju RDF Rorotan sering kali menghasilkan bau dan kebocoran air lindi, yang berdampak negatif pada lingkungan sekitar. “Bau dan air lindi yang menetes di jalan sangat mengganggu warga, terutama di area rawan banjir,” kata salah satu warga yang hadir dalam kunjungan.
Judistira menyatakan bahwa Pemprov DKI Jakarta berkomitmen untuk mengganti truk pengangkut sampah dengan armada yang lebih modern. “Kami akan mendorong penggunaan truk kompaktor tertutup untuk mengurangi dampak negatif, agar pengolahan sampah bisa lebih bersih dan tidak mengganggu kehidupan warga,” jelasnya. Ini menunjukkan bahwa Key Discussion tidak hanya fokus pada infrastruktur, tetapi juga mencakup perbaikan kualitas layanan pengelolaan sampah.
Pengelolaan Sampah DKI Jakarta Masih Perlu Perbaikan
Judistira menegaskan bahwa Jakarta tidak bisa hanya bergantung pada satu fasilitas pengolahan. Ia menyoroti pentingnya memaksimalkan seluruh instrumen yang sudah ada, termasuk RDF Bantargebang, UPK Badan Air, serta 61 TPS 3R di seluruh wilayah DKI Jakarta. “Kami berharap semua fasilitas ini bisa beroperasi secara optimal, sebelum pembangunan infrastruktur energi listrik dari sampah selesai dalam beberapa tahun ke depan,” pungkasnya.
Key Discussion yang dilakukan Pansus juga menggarisbawahi kebutuhan integrasi sistem pengelolaan sampah antarwilayah. “Kerja sama antara TPS, RDF, dan UPK harus terjalin dengan baik, agar sampah bisa diproses secara efisien dan berkelanjutan,” tambahnya. Pansus berharap hasil Key Discussion ini bisa menjadi dasar untuk perubahan kebijakan yang lebih baik dalam jangka panjang.
Langkah-Langkah Peningkatan dalam Key Discussion
Berdasarkan hasil Key Discussion, Pansus menyarankan beberapa langkah percepatan untuk meningkatkan kapasitas RDF Rorotan. Pertama, perbaikan infrastruktur jalan menuju fasilitas tersebut, termasuk pengerasan jalur dan penambahan jumlah akses. Kedua, penggantian armada pengangkut sampah dengan truk yang lebih baik. “Kami juga akan merekomendasikan pelatihan operator dan peningkatan keandalan mesin,” jelas Elly Rosyida.
Key Discussion ini menunjukkan bahwa komitmen Pemprov dan DPRD DKI Jakarta terhadap pengurangan sampah sangat penting. Judistira menambahkan bahwa hasil evaluasi akan diserahkan ke Badan Anggaran untuk disesuaikan dengan rencana anggaran tahun depan. “Dengan memperbaiki seluruh aspek, RDF Rorotan bisa menjadi contoh sukses dalam pengelolaan sampah,” pungkasnya.
