Menjadi Poin Utama: KDM Mendorong Kajian Akademik Prasasti Batutulis & Mahkota Binokasih
Main Agenda menjadi isu utama dalam upaya menjaga kekayaan budaya Indonesia, khususnya melalui kajian akademik terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih. Dalam forum diskusi kecagarbudayaan yang berlangsung di Kota Bogor, KDM (Kepala Daerah Mandala) menegaskan bahwa keberadaan Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih memerlukan penelitian mendalam untuk memahami nilai-nilai sejarah dan budaya yang terkandung di dalamnya. Dengan membangun buku akademik khusus, KDM ingin memastikan bahwa warisan budaya ini tidak hanya dipelajari, tetapi juga dijaga sebagai bagian dari identitas nasional.
“Main Agenda ini bertujuan untuk menciptakan pengakuan global terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih sebagai bukti kejayaan Kerajaan Sunda. Dengan kajian yang komprehensif, kita bisa menghindari kesalahpahaman dalam menginterpretasikan sejarah,” ujar Dedi Mulyadi, dalam pernyataan tertulis, Kamis (21/5/2026).
Prasasti Batutulis: Warisan Budaya yang Bersejarah
Kota Bogor dianggap sebagai pusat strategis Kerajaan Pakuan Pajajaran, yang sekaligus menjadi tempat kelahiran Prasasti Batutulis. Karena itu, sejarah lokal perlu dipahami secara utuh agar bisa menjadi dasar dalam merancang kebijakan budaya, seperti perlindungan situs sejarah atau pengembangan pariwisata berbasis warisan budaya. KDM menekankan bahwa Prasasti Batutulis bukan hanya tulisan bersejarah, tetapi juga mengandung makna filosofis yang berkaitan dengan kehidupan sosial dan politik Kerajaan Sunda.
Kajian akademik tentang prasasti ini diharapkan dapat menjadi Main Agenda utama dalam membentuk kesadaran masyarakat akan pentingnya melindungi warisan budaya. Selain itu, penelitian ini akan memberikan wawasan baru tentang hubungan antara kekuasaan raja, kepercayaan spiritual, dan sistem kehidupan masyarakat di era lampau. Dengan demikian, Main Agenda ini tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga memperkuat identitas nasional dalam konteks sejarah Indonesia.
Mahkota Binokasih: Simbol Sistem Kosmologi Tritangtu
Mahkota Binokasih, yang terkait erat dengan sistem kosmologi Tritangtu, dianggap sebagai representasi kekuasaan dan filosofi masyarakat Sunda. Harry Octavianus Sofian, ahli arkeometalurgi dari BRIN, mengatakan bahwa mahkota ini memiliki tiga simbol yang masing-masing merepresentasikan hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan alam. Dalam Main Agenda kajian akademik, mahkota ini menjadi bahan analisis untuk memahami struktur sosial dan hierarki Kerajaan Sunda.
“Main Agenda penelitian ini adalah mengungkapkan bagaimana Mahkota Binokasih mencerminkan kosmologi Tritangtu, yang membentuk pola hidup masyarakat Sunda sejak dulu,” jelas Harry.
Dalam konteks kecagarbudayaan, Mahkota Binokasih juga menjadi simbol kebijakan yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal dalam pembangunan masa kini. Penelitian lebih lanjut akan membantu memperjelas peran mahkota dalam menjaga kestabilan politik dan spiritual Kerajaan Sunda, sekaligus memberikan basis ilmiah untuk program pelestarian budaya di masa depan.
KDM menekankan bahwa Main Agenda dalam kajian akademik ini harus melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi, pejabat pemerintah, dan masyarakat setempat. Dengan kerja sama yang baik, harapannya adalah bahwa Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih akan tetap menjadi sumber inspirasi dalam kehidupan masyarakat modern. Kedua artefak ini tidak hanya bersejarah, tetapi juga menjadi bagian dari budaya yang hidup dan relevan.
Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih: Titik Temu Budaya dan Politik
Kajian akademik terhadap Prasasti Batutulis dan Mahkota Binokasih juga menjadi Main Agenda dalam upaya menjembatani antara sejarah dan kehidupan kontemporer. Menurut Titi Surti Nastiti, pakar epigrafi, prasasti tersebut dibuat untuk mengenang peran penting Prabu Siliwangi dalam membangun Kota Pakuan Pajajaran sebagai ibu kota Kerajaan Sunda. Selain itu, Mahkota Binokasih diberikan oleh empat utusan sebagai simbol legitimasi raja-raja Sunda, menunjukkan hubungan erat antara kekuasaan dan kepercayaan spiritual.
Dalam konteks Main Agenda, kajian ini juga menyoroti bagaimana prasasti dan mahkota menjadi bukti kekuasaan dan kebudayaan yang tidak hanya lokal, tetapi juga berpengaruh pada wilayah lain di Nusantara. Perluasan penelitian akan membantu memahami perjalanan sejarah Kerajaan Sunda, termasuk interaksi dengan kerajaan-kerajaan Islam yang memengaruhi perkembangan budaya Jawa Barat. KDM berharap bahwa Main Agenda ini bisa mendorong peningkatan kualitas pendidikan sejarah dan penghargaan terhadap budaya daerah.
