Berita

Special Plan: Bertemu Dubes China Untuk RI, Bamsoet Tekankan Potensi Ekonomi Indonesia

Special Plan: Bamsoet Tekankan Kerja Sama Ekonomi RI dengan Tiongkok Special Plan - Dalam pertemuan khusus dengan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang

Desk Berita
Published Mei 19, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Special Plan: Bamsoet Tekankan Kerja Sama Ekonomi RI dengan Tiongkok

Special Plan – Dalam pertemuan khusus dengan Duta Besar Tiongkok untuk Indonesia, Wang Lutong, Ketua DPR RI ke-20, Bamsoet, menyoroti Special Plan sebagai strategi utama dalam meningkatkan potensi ekonomi Indonesia melalui kolaborasi dengan Tiongkok. Ia menekankan bahwa Special Plan ini tidak hanya fokus pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjamin keseimbangan kepentingan nasional dalam hubungan bilateral.

Langkah Strategis dalam Pertemuan dengan Dubes Tiongkok

Penekanan pada Special Plan disampaikan Bamsoet setelah pertemuan dengan Dubes Tiongkok, Wang Lutong, di kediaman diplomat tersebut, Senin (18/5). Dalam pertemuan ini, ia menjelaskan bahwa Special Plan menjadi alat penting untuk memperkuat kerja sama ekonomi antara Indonesia dan Tiongkok, yang mencakup sektor infrastruktur, hilirisasi mineral, energi terbarukan, manufaktur, serta digital. Hadir pula Atase Kepolisian Kedubes Tiongkok, Yang Chunyan, dalam diskusi tersebut.

“Kerja sama ekonomi Indonesia-Tiongkok kini tidak lagi terbatas pada perdagangan barang sederhana. Special Plan ini membuka peluang untuk kolaborasi strategis yang mengarah pada kebijakan jangka panjang, termasuk peningkatan kapasitas produksi dan penguasaan teknologi,” ujar Bamsoet.

Dalam Special Plan, Bamsoet menyoroti peran perusahaan Tiongkok seperti JIO Distribusi Indonesia (JDI), PT Sheng Wei New Energy Technology, dan Beijing Jianlong Heavy Industry Group dalam pengembangan smelter nikel dan pabrik baja di Indonesia. Ia menjelaskan bahwa Special Plan ini bertujuan mempercepat hilirisasi sumber daya alam, termasuk nikel, menjadi produk bernilai tambah tinggi yang dapat memenuhi permintaan global, terutama dari Tiongkok.

Perkembangan Ekspor dan Impor dalam Kerangka Special Plan

Berdasarkan laporan perdagangan terbaru, nilai ekspor Indonesia ke Tiongkok pada 2025 diperkirakan mencapai US$67,04 miliar, sementara impor dari Tiongkok ke Indonesia mencapai US$87,54 miliar. Special Plan bertujuan memperbaiki struktur perdagangan ini, dengan memastikan ekspor tidak hanya bahan baku, tetapi juga produk manufaktur dan teknologi yang berasal dari industri dalam negeri.

Special Plan menginginkan kerja sama yang saling menguntungkan, di mana ekspor nikel ke Tiongkok pada 2025 mencapai US$7,86 miliar. Ini membuktikan bahwa Indonesia dapat menjadi mitra strategis dalam ekonomi global,” terang Bamsoet.

Bamsoet menambahkan bahwa Special Plan juga mendorong pertukaran teknologi dan investasi asing yang berkelanjutan. Dengan dukungan perusahaan Tiongkok, sektor hilirisasi nikel di Indonesia diperkirakan akan menjadi salah satu pilar ekonomi yang mampu memberikan keuntungan signifikan. Ia menekankan bahwa Special Plan ini perlu didukung oleh kebijakan pemerintah yang komprehensif, termasuk regulasi, infrastruktur, dan pengembangan SDM.

Kerja sama antara Indonesia dan Tiongkok dalam Special Plan juga mencakup bidang energi terbarukan, seperti solar dan angin, yang dipandang sebagai jalan untuk mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil. Selain itu, industri otomotif dan sektor digital menjadi fokus utama dalam Special Plan ini, dengan menghadirkan investasi modal dan teknologi untuk memperkuat daya saing ekonomi nasional.

Menurut Bamsoet, Special Plan ini juga bertujuan memastikan bahwa ekonomi Indonesia tetap mandiri. Ia mengingatkan bahwa meskipun kerja sama dengan Tiongkok sangat penting, Indonesia harus terus menjaga hubungan dengan negara-negara lain seperti Jepang, AS, Korea Selatan, India, dan Uni Eropa untuk menciptakan keberagaman ekonomi. “Keseimbangan geopolitik adalah kunci sukses Special Plan,” tambah Bamsoet.

Leave a Comment