Hidayat Nur Wahid Buka Lomba Cerdas Cermat MPR RI di Kalbar
Key Issue – Dalam acara pembukaan lomba Cerdas Cermat MPR RI yang berlangsung di Pontianak, Kalimantan Barat, Hidayat Nur Wahid (HNW) menggarisbawahi pentingnya peran generasi muda dalam menghadapi tantangan perubahan zaman. Ia menekankan bahwa Key Issue terkini adalah kesiapan pemuda Indonesia untuk membangun masa depan yang lebih baik, terutama dalam menghadapi masa emas negara pada 2045. Menurut HNW, generasi Gen Z memiliki tanggung jawab besar untuk menciptakan generasi yang lebih bijak dan bertanggung jawab, sebagai penjamin keberlanjutan kemerdekaan dan keutuhan NKRI.
Program Penguatan Emisi Pemikiran
Lomba Cerdas Cermat MPR RI ini diadakan sebagai bagian dari program penguatan pemahaman emisi pemikiran terhadap empat pilar kehidupan bangsa, yaitu Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Key Issue yang dibahas dalam acara ini adalah bagaimana pengetahuan sejarah dan nilai-nilai kebangsaan bisa ditanamkan secara mendalam ke dalam pola pikir remaja. HNW menilai kegiatan ini tidak hanya sekadar kompetisi intelektual, tetapi juga sarana memperkuat komitmen generasi muda terhadap identitas nasional.
“Kini, Key Issue dalam pendidikan nasional adalah mendorong partisipasi aktif pemuda dalam pembangunan kebijakan dan kebudayaan bangsa. Lomba ini menjadi perwujudan dari upaya memperkenalkan empat pilar MPR RI kepada masyarakat, khususnya generasi muda yang nantinya akan menjadi penentu arah negara di masa depan,”
kata HNW dalam sambutannya.
Pemilihan Peserta dan Proses Penilaian
Sebanyak sembilan sekolah dari Kalimantan Barat ikut serta dalam lomba ini, meliputi SMAN 1 Pontianak, SMAN 3 Singkawang, SMAN 1 Seponti, SMA Santo Paulus Pontianak, SMA Katolik Santu Petrus Pontianak, SMAN 1 Sambas, SMAN 1 Sanggau, MAS Darussalam Sengkubang, dan MAN 1 Sintang. Proses seleksi peserta melibatkan pertanyaan-pertanyaan yang menantang, terkait sejarah perjuangan kemerdekaan, prinsip Pancasila, serta pemahaman tentang pentingnya demokrasi dalam kehidupan sehari-hari. Key Issue dalam lomba ini adalah kesadaran peserta bahwa pengetahuan sejarah adalah dasar untuk membangun kebijakan yang relevan dengan era digital saat ini.
HNW juga menyampaikan bahwa kegiatan ini diharapkan bisa menjadi percontoh bagaimana pendidikan sejarah bisa diterapkan secara kreatif. Ia menegaskan bahwa penanaman nilai-nilai MPR RI harus menjadi bagian dari kurikulum pendidikan, sehingga peserta lomba bisa menjadi agen perubahan yang lebih sadar akan tanggung jawab sosial. “Dengan memahami Key Issue tentang empat pilar kebangsaan, mereka akan lebih mampu menghadapi berbagai konflik dan tuntutan global yang berpotensi memengaruhi persatuan,” tambahnya.
Pemukulan kendang oleh HNW menjadi tanda dimulainya lomba, yang diisi oleh berbagai pertanyaan yang menguji kemampuan peserta dalam mengingat dan menerapkan konsep-konsep kebangsaan. Kegiatan ini dihadiri oleh ribuan peserta dan penggemar, yang menunjukkan antusiasme tinggi terhadap pentingnya sejarah dalam membangun masa depan. Key Issue utama dalam lomba ini adalah kesetiaan terhadap nilai-nilai yang telah diperjuangkan oleh para pendiri bangsa, seperti Sultan Syarief Abdul Hamid Al-Qadri II, yang dikenal sebagai pahlawan nasional.
Kehadiran Sultan Abdul Hamid Al-Qodri II dalam sejarah bangsa Indonesia menjadi Key Issue penting dalam rangkaian kegiatan ini. Dalam kesempatan tersebut, HNW mengingatkan bahwa perjuangan tokoh tersebut tidak hanya terkait perayaan kemerdekaan, tetapi juga tentang bagaimana komitmen terhadap nilai-nilai MPR RI bisa diwariskan secara berkelanjutan. Sultan yang pernah belajar di luar negeri, seperti di Belanda, dikenang karena perannya dalam menciptakan Lambang Negara Garuda Pancasila, yang secara resmi diakui melalui Keputusan Presiden No. 4 tahun 1950.