Berita

Solving Problems: Waka MPR Nilai Pentingnya Bangun Ekosistem Literasi dengan Langkah Nyata

usi Nyata untuk Peradaban yang Berkembang Solving Problems - Kemampuan literasi menjadi fondasi utama dalam menyelesaikan tantangan dan mengatasi

Desk Berita
Published Mei 17, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Table of Contents
  1. Penguatan Literasi: Solusi Nyata untuk Peradaban yang Berkembang
  2. Kondisi Literasi Indonesia: Tren yang Memicu Perhatian
  3. Kinerja Siswa dan Tantangan Literasi
  4. Langkah Nyata: Membentuk Budaya Membaca yang Aktif

Penguatan Literasi: Solusi Nyata untuk Peradaban yang Berkembang

Solving Problems – Kemampuan literasi menjadi fondasi utama dalam menyelesaikan tantangan dan mengatasi masalah-masalah yang menghadang peradaban suatu bangsa. Dalam wawancara eksklusif dengan Lestari Moerdijat, Wakil Ketua MPR, ia menekankan bahwa menyelesaikan masalah melalui literasi adalah kunci utama dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. “Literasi tidak hanya tentang membaca, tetapi juga tentang kemampuan menyelesaikan masalah secara efektif,” jelasnya, Minggu (17/5/2026).

Sejarah Hari Buku Nasional

Hari Buku Nasional pertama kali dirayakan pada 17 Mei 2002, sebagai bentuk penghargaan terhadap peran buku dalam memperkaya pengetahuan dan membangun masyarakat yang cerdas. Ide ini diusung oleh Menteri Pendidikan Nasional Abdul Malik Fadjar, yang memilih tanggal 17 Mei karena sesuai dengan hari berdirinya Perpustakaan Nasional Indonesia (Perpusnas) pada tahun 1980. Menyelesaikan masalah melalui literasi telah menjadi tema utama dalam perayaan tersebut, mengingat pentingnya buku sebagai alat edukasi dan transformasi sosial.

Kondisi Literasi Indonesia: Tren yang Memicu Perhatian

Kondisi literasi di Indonesia saat ini menunjukkan perubahan signifikan yang membutuhkan upaya khusus untuk menyelesaikan masalah. Survei yang diolah oleh Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan penurunan minat baca dari 72,44% pada tahun 2024 menjadi 54,80% pada tahun 2025. Ini menunjukkan tantangan besar dalam meningkatkan kualitas literasi di tengah perkembangan teknologi digital. Selain itu, data dari GoodStats 2025 menyebutkan bahwa hanya 20,7% responden yang rutin membaca buku setiap hari, menandai kebutuhan akan strategi penyelesaian masalah yang lebih tepat.

Perbandingan Literasi dengan Negara Lain

Menurut laporan World Population Review 2025, rata-rata warga Indonesia menghabiskan 129 jam per tahun untuk aktivitas membaca, yang jauh lebih rendah dibandingkan negara-negara seperti India (352 jam) dan Amerika Serikat (357 jam). Menyelesaikan masalah dalam literasi harus diimbangi dengan peningkatan akses dan kesadaran masyarakat akan kebutuhan membaca. “Kita harus menyadari bahwa menyelesaikan masalah memerlukan literasi yang baik dan berkelanjutan,” tambah Lestari.

Kinerja Siswa dan Tantangan Literasi

Kemampuan inferensial siswa Indonesia menurut TKA 2025 Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah hanya mencapai 43,21%, sementara kemampuan mengevaluasi dan mengapresiasi teks baru sebesar 45,32%. Menyelesaikan masalah melalui literasi tidak hanya bergantung pada jumlah buku yang dibaca, tetapi juga pada kualitas pemahaman dan penerapan ilmu yang diperoleh. “Siswa harus diajarkan cara menyelesaikan masalah dengan berpikir kritis dan analitis,” lanjutnya.

Kolaborasi dalam Peningkatan Literasi

Menyelesaikan masalah literasi membutuhkan kerja sama antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Lestari menyoroti pentingnya kolaborasi untuk menciptakan ekosistem literasi yang tangguh. Dalam konteks ini, pendekatan kolaboratif menjadi strategi utama untuk mengatasi tantangan yang ada. “Jika tidak ada kerja sama yang kuat, menyelesaikan masalah dalam literasi hanya akan bersifat sementara,” ujarnya.

Langkah Nyata: Membentuk Budaya Membaca yang Aktif

Menyelesaikan masalah literasi memerlukan tindakan konkret yang dapat diukur. Salah satu strategi adalah membangun komunitas baca yang terstruktur, baik berbasis digital maupun fisik, untuk mendorong kebiasaan membaca yang sehat. Lestari juga menekankan pentingnya mengubah pendekatan pengajaran di sekolah, fokus pada penguatan kemampuan berpikir kritis sebagai inti dari menyelesaikan masalah melalui literasi.

“Kita harus menyadari bahwa menyelesaikan masalah tidak bisa tercapai tanpa literasi yang baik. Tantangan terbesar saat ini adalah mengubah cara orang berpikir dan mengambil keputusan berdasarkan informasi yang valid,” pungkasnya.

Langkah untuk Meningkatkan Ketersediaan Literasi

Menyelesaikan masalah dalam literasi juga berkaitan erat dengan akses yang mudah dan terjangkau. Lestari menyarankan peningkatan ketersediaan buku, baik fisik maupun digital, melalui kebijakan pendukung seperti penghapusan pajak buku dan keringanan biaya kertas. “Dengan akses yang lebih baik, masyarakat akan lebih mampu menyelesaikan masalah secara mandiri,” jelasnya. Langkah-langkah ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem literasi dan mengubah paradigma membaca di Indonesia.

Leave a Comment