Pengakuan Pemerkosa Mahasiswi di Makassar Usai Diciduk di Surabaya
Pengakuan Pemerkosa Mahasiswi di Makassar Usai – Dalam kasus pemerkosaan yang terjadi di Makassar, seorang pelaku akhirnya memberikan pengakuan usai ditangkap di Pelabuhan Tanjung Perak, Surabaya, Jawa Timur, pada hari Sabtu (16/5). Pengakuan ini memperjelas kronologi kejadian yang berawal dari penipuan loker palsu yang ditawarkan melalui media sosial. Pemerkosaan terhadap mahasiswi itu terjadi antara tanggal 8 hingga 10 Mei, sebelum pelaku berhasil melarikan diri ke Surabaya. Kasus ini kini menjadi sorotan publik karena mengungkapkan berbagai detail penting dalam proses investigasi dan penangkapan.
Kronologi Pemerkosaan di Makassar
Pelaku, yang bernama Feri, mengaku bahwa ia memperdaya korban dengan menawarkan pekerjaan sebagai baby sitter. Awalnya, korban percaya pada penawaran tersebut dan bersedia ikut serta dalam perjalanan ke Makassar. Namun, setelah tiba di sana, Feri memperkosa korban secara terang-terangan. Dalam pengakuannya, Feri menyatakan bahwa ia menyekap korban di dalam mobilnya hingga akhirnya melakukan tindakan kekerasan. “Saya ikat baru pakai dia, Pak. Iya (perkosa), Pak. Satu hari, saya perkosa,” ucap Feri kepada polisi dalam video yang beredar.
Proses Investigasi dan Penangkapan
Kasus ini awalnya dilaporkan oleh korban ke polisi setelah ia melarikan diri dari tempat kejadian. Dalam investigasi yang dilakukan, polisi berhasil menelusuri jejak Feri dan menemukan bahwa ia telah berada di Surabaya sejak beberapa hari sebelumnya. Setelah mendapat petunjuk dari saksi mata dan rekaman CCTV, tim kepolisian melakukan penangkapan di Pelabuhan Tanjung Perak. Feri kemudian diperiksa lebih lanjut dan diberi kesempatan untuk memberikan pengakuan lengkap. “Saya masuk ke dalam mobil, lalu mengunci pintunya. Korban tidak bisa kabur karena masih dalam kondisi terkejut,” tambah Feri dalam pemeriksaan.
Dalam pemeriksaan, Feri juga mengungkapkan bahwa ia memanfaatkan kesempatan korban tidak waspada untuk melakukan aksinya. Ia mengatakan bahwa korban tidak menolak tindakan kekerasan karena merasa terjebak dan takut. “Korban tidak melawan karena merasa malu dan takut. Saya hanya mengambil kesempatan saat ia tidak siap,” jelas Feri. Pengakuan ini memperkuat bukti bahwa pemerkosaan terjadi secara terencana dan sadar.
Detik-detik Pemerkosaan dan Kecurangan
Kasus pemerkosaan ini bukan hanya tentang kekerasan fisik, tetapi juga melibatkan penipuan dan manipulasi emosional. Feri, yang sebelumnya tinggal di Makassar, menipu korban dengan mengatakan bahwa loker tersebut merupakan pekerjaan yang aman dan menguntungkan. Ia bahkan menawarkan bantuan keuangan agar korban dapat menempuh pendidikan. Namun, setelah korban mempercayai Feri, ia diisolasi dari dunia luar dan dipaksa untuk menuruti keinginan pelaku.
Korban, yang masih dalam usia 20-an, mengalami trauma yang berat. Ia mengungkapkan bahwa perasaannya tidak tenang sejak awal mengetahui Feri mengajaknya ke Makassar. “Saya merasa khawatir, tapi tidak tahu cara keluar. Feri menjanjikan pekerjaan tetap, jadi saya mau ikut,” katanya dalam wawancara dengan detikSulsel. Pengakuan korban ini memberikan gambaran lebih jelas tentang bagaimana korban terjebak dalam skenario pemerkosaan yang dipersiapkan dengan rapi oleh pelaku.
Dalam upaya menegakkan hukum, polisi terus memburu semua bukti terkait pemerkosaan ini. Video wawancara Feri menjadi bukti penting dalam proses penyidikan. Selain itu, petunjuk dari media sosial yang digunakan Feri untuk menipu korban juga diperiksa secara rinci. Kasus ini dianggap sebagai contoh pemerkosaan yang menggabungkan kekerasan fisik dengan manipulasi mental. “Kasus ini menunjukkan bagaimana seseorang bisa memanfaatkan kepercayaan mahasiswi untuk melakukan tindakan tidak terduga,” kata salah satu penyidik dalam pernyataan resmi.
Pengakuan Feri usai ditangkap di Surabaya menjadi titik balik dalam kasus pemerkosaan yang telah berlangsung selama beberapa hari. Dengan pengakuan tersebut, korban kini merasa lega dan bisa berbicara terbuka tentang pengalaman traumatisnya. Kasus ini juga menjadi peringatan bagi masyarakat untuk lebih waspada terhadap penipuan online, terutama yang menargetkan wanita muda. “Pengakuan pemerkosa Mahasiswi di Makassar ini penting untuk memperkuat penuntutan hukum dan melindungi korban lainnya,” tegas kepala penyidik setelah menyelesaikan pemeriksaan.
