Dw

Iran-Oman Sepakati Rute Selat Hormuz, Apa Dampaknya?

Teheran telah mencapai titik kesepakatan dengan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kedua negara kini sedang menyelesaikan pengaturan pengelolaan

Desk Dw
Published Agustus 6, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
Foto : Robert Brown - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Iran dan Oman Finalisasi Kesepakatan Rute Pelayaran Selat Hormuz
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Iran dan Oman Finalisasi Kesepakatan Rute Pelayaran Selat Hormuz

Wahanaberita.com – Teheran telah mencapai titik kesepakatan dengan Oman terkait jalur pelayaran di Selat Hormuz. Kedua negara kini sedang menyelesaikan pengaturan pengelolaan bersama atas jalur perairan strategis tersebut. Menurut pernyataan dari Teheran, rancangan dokumen bersama telah masuk ke dalam tahap akhir penyusunan.

Meskipun demikian, pihak Iran menekankan bahwa keamanan di perairan selat tersebut masih bergantung pada penyelesaian blokade laut yang dilakukan Amerika Serikat terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

Koordinat Geografis Telah Disepakati

Pada Rabu, 5 Agustus, Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, mengonfirmasi bahwa koordinat geografis rute yang disepakati kedua negara telah selesai. Pembicaraan dengan Oman terus menunjukkan kemajuan positif.

“Koordinat geografis rute yang dirancang kedua pihak telah disepakati dan, jika pihak ketiga tertentu tidak menghalangi proses tersebut, pernyataan bersama kedua negara yang memuat pertimbangan utama dan poin-poin kesepakatan juga telah memasuki tahap akhir peninjauan dan penyusunan,” kata Baqaei.

Kantor berita negara IRNA melaporkan bahwa dokumen bersama tersebut akan segera diterbitkan selama tidak ada hambatan dari pihak ketiga.

Keamanan Masih Bergantung pada AS

Baqaei menegaskan bahwa kesepakatan rute pelayaran tidak serta merta menjamin keamanan Selat Hormuz untuk semua kapal yang melintas. Faktor-faktor yang menyebabkan ketidakamanan masih berasal dari pihak Amerika Serikat.

“Faktor-faktor yang membuat Selat Hormuz tidak aman masih ada di pihak AS, terutama blokade laut dan berbagai tindakan agresif serta ancaman lainnya terhadap Iran dan kepentingannya,” ujar Baqaei.

Semenjak AS dan Israel melancarkan perang terhadap Iran pada 28 Februari, Teheran telah menjalankan kendali de facto atas Selat Hormuz. Iran juga mengancam kapal-kapal yang menggunakan rute yang dianggap tidak sah.

Posisi Iran dan Pernyataan Trump

Presiden AS Donald Trump beberapa kali menyatakan bahwa Teheran menginginkan kesepakatan untuk membuka kembali Selat Hormuz. Namun, Iran membantah adanya negosiasi semacam itu dan menyatakan lebih memilih untuk mengatur mekanisme pelayaran bersama Oman, negara yang terletak di seberang selat tersebut.

Menurut laporan AFP, setelah menerapkan blokade efektif di Selat Hormuz, Iran mewajibkan kapal-kapal menggunakan jalur dekat pantai Iran. Banyak kapal memilih melintas melalui jalur selatan yang lebih dekat ke Oman, meskipun sesekali berada di bawah ancaman serangan.

Iran juga menginginkan kendali penuh atas selat tersebut serta penerapan pungutan bagi kapal yang melintas. Kewenangan ini sebelumnya tidak dijalankan sebelum perang dimulai. Langkah tersebut diperkirakan akan mendapat penolakan keras dari AS.

Insiden Keamanan di Kawasan Selat

Pada hari yang sama, sejumlah insiden keamanan kembali terjadi di sekitar kawasan Selat Hormuz. Badan keamanan maritim Inggris, UKMTO, melaporkan bahwa nakhoda sebuah kapal tanker minyak mendengar dua ledakan saat melintasi Selat Hormuz. Letak kejadian ini berada sekitar sembilan mil laut atau 17 kilometer di tenggara Kumzar, Oman.

Laporan tersebut menyatakan bahwa awak kapal dan tanker berada dalam keadaan selamat.

Di sisi lain, kelompok Houthi dari Yaman mengklaim telah menyerang dua kapal tanker minyak milik Arab Saudi. Kelompok tersebut menyatakan bahwa rudal mereka menghantam kapal tanker Wafa di lepas pantai Yanbu, Laut Merah bagian utara, serta kapal tanker Daisy di Teluk Aden.

Juru bicara militer Houthi, Yahya Saree, menjelaskan bahwa kedua kapal tersebut menjadi sasaran terbaru sejak kelompok itu melancarkan blokade terhadap Arab Saudi pada bulan lalu. Hingga laporan AFP diterbitkan, otoritas Arab Saudi belum memberikan komentar resmi.

Perundingan AS-Iran Diperkirakan Rumit

Perkembangan diplomatik juga diwarnai oleh pernyataan Wakil Presiden AS, JD Vance, yang mengakui bahwa proses menuju kesepakatan dengan Iran tidak akan berlangsung cepat.

Dalam wawancara dengan Fox News yang disiarkan pada Rabu, 5 Agustus, Vance mengatakan perundingan membutuhkan waktu karena adanya perbedaan dalam kepemimpinan Iran.

“Prosesnya akan rumit dan membutuhkan waktu untuk mencapainya,” kata Vance.

Vance menambahkan bahwa orang-orang Iran sangat sulit diajak berunding dan mereka memiliki sistem yang terpecah.

AFP juga melaporkan bahwa Trump pekan lalu kembali mengancam akan menyerang Iran “dengan sangat keras”, termasuk kemungkinan menyerang infrastruktur sipil. Ancaman tersebut kemudian disusul dengan isyarat bahwa kesepakatan mungkin sudah dekat. Namun, Kementerian Luar Negeri Iran membantah bahwa negosiasi dengan Washington sedang berlangsung.

Pakistan Harap Dialog Berlanjut

Sehari kemudian, pada Kamis, 6 Agustus, Pakistan menyatakan harapannya agar dialog antara pihak-pihak terkait kembali berlanjut untuk menjaga stabilitas kawasan.

Frequently Asked Questions

What is Iran Oman Sepakati Rute Selat Hormuz?

Iran Oman Sepakati Rute Selat Hormuz is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Iran Oman Sepakati Rute Selat Hormuz matter?

Iran Oman Sepakati Rute Selat Hormuz matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment