Berita

Solving Problems: Korban Deepfake Vulgar di Kalbar Diduga Lebih dari 1, Terungkap dari HP Pelaku

Korban Deepfake Vulgar di Kalbar Diduga Lebih dari 1, Terungkap dari HP Pelaku Solving Problems - Menyelesaikan masalah menjadi prioritas utama bagi korban

Desk Berita
Published Mei 15, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Korban Deepfake Vulgar di Kalbar Diduga Lebih dari 1, Terungkap dari HP Pelaku

Solving Problems – Menyelesaikan masalah menjadi prioritas utama bagi korban deepfake vulgar di Kalimantan Barat (Kalbar). Dalam laporan detikKalimantan, Jumat (15/5/2026), diceritakan bagaimana RY dan teman-temannya terlibat dalam praktikum kuliah minggu lalu, saat seorang teman meminjam ponselnya untuk keperluan dokumentasi. Masalah ini muncul setelah teman RY menemukan sejumlah foto perempuan yang dikenalnya, yang telah diubah menjadi konten tidak senonoh oleh pelaku.

Penemuan dan Penyebab Keterkejutan

“Saat itu, temannya sedang praktikum… Mereka meminjam HP dia untuk tujuan dokumentasi,” ujar salah satu korban, S, kepada detikKalimantan, Kamis (14/5/2026).

Setelah proses pemotretan selesai, teman RY terkejut saat mengakses galeri foto. Foto-foto yang ditemukan terlihat tidak biasa, karena melibatkan wajah perempuan yang dikenalnya. S melaporkan bahwa pelaku telah mengedit foto tersebut menjadi konten vulgar yang memicu rasa gundah dan penasaran pada korban.

“Pas buka galeri, temannya heran kok banyak muka orang yang dia kenal. Pas dicek ternyata banyak sekali foto-foto tidak senonoh yang sudah diedit pelaku,” tuturnya.

Dari situasi tersebut, korban memutuskan untuk menyelesaikan masalah secara diam-diam, sambil menunggu teman-temannya mengumpulkan bukti. S mengungkapkan bahwa ia terganggu setelah mengetahui kejadian tersebut, tetapi berusaha mengatasi rasa marah dan sedih dengan cara yang tidak terlalu memperhatikan.

Strategi Mengatasi dan Psikologis Korban

Korban deepfake vulgar di Kalbar mengalami tekanan psikologis yang berdampak pada kehidupan sehari-hari. Dalam wawancara dengan detikKalimantan, S menjelaskan bahwa ia memilih untuk tidak langsung mengungkapkan perasaannya. “Jadi, pada saat itu, karena waktu itu saya juga lagi capek banget, banyak kegiatan dan lain-lain, saya mau marah juga nggak bisa, mau nangis juga kayak sudah capek, jadi saya brush it off lah masalah itu, berusaha buat melupakan. Karena kalau misalnya ingin dipikirkan lebih lama, dipikirkan lebih lanjut, itu hanya akan merusak mental saya sendiri,” kata S.

Mengatasi masalah yang dihadapi ini tidak hanya tentang mengungkap kebenaran, tetapi juga memulihkan rasa percaya diri dan kepercayaan terhadap teknologi. S menekankan pentingnya adaptasi dan pengambilan keputusan tepat waktu untuk mengurangi dampak negatif dari kejadian vulgar ini.

Penyelidikan dan Langkah Selanjutnya

Setelah menemukan bukti, korban memutuskan untuk mengambil langkah nyata. Mereka mengumpulkan foto-foto yang telah diubah serta memastikan bahwa kejadian tersebut tidak hanya terjadi sekali, tetapi terus berulang. Menyelesaikan masalah ini memerlukan kolaborasi antara korban dan pihak berwenang untuk memastikan pelaku dikenai sanksi yang sesuai.

DetikKalimantan melaporkan bahwa beberapa korban lainnya juga mengalami peristiwa serupa. Meski tidak semua korban langsung melaporkan kejadian tersebut, mereka memilih untuk mengumpulkan informasi dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar tidak terjadi kembali. Dengan cara ini, korban berusaha untuk menyelesaikan masalah secara aktif.

Korban deepfake vulgar di Kalbar memperlihatkan bagaimana tehnologi digital bisa menjadi alat yang berbahaya jika tidak digunakan dengan tepat. Dalam kasus ini, menyelesaikan masalah memerlukan kesadaran dan upaya yang lebih besar dari para korban, serta dukungan dari masyarakat dan lembaga terkait untuk mencegah penyebaran konten tidak senonoh lebih lanjut.

Baca selengkapnya di sini.

Leave a Comment