Viral Pemulung dan Pengemis Penuhi Trotoar Mampang, Kini Dibawa ke Panti
Topics Covered – Video yang viral di media sosial menunjukkan kepadatan warga yang menggunakan tikar dan spanduk sebagai tempat duduk di trotoar Jalan Mampang Prapatan, Jakarta Selatan. Fenomena ini terjadi di sepanjang jalur dari Halte Mampang hingga Warung Buncit, menyebabkan penggunaan ruang kaki pejalan kaki dan kepadatan lalu lintas yang nyata. Fenomena ini menjadi sorotan publik karena terlihat mengganggu kenyamanan dan kebersihan kota.
Deskripsi Masalah dan Aktivitas di Trotoar
Keberadaan pemulung dan pengemis di trotoar Mampang Prapatan memicu kecaman dari warga sekitar. Mereka memadati area tersebut, terutama di malam hari, saat jumlah pengunjung meningkat. Aktivitas ini mencakup berbagai kegiatan, seperti menjual barang bekas, menunggu sumbangan, atau hanya berkerumun. Para pengemis sering kali duduk di sepanjang trotoar, menunggu pelanggan yang bersedia memberikan bantuan.
“Selama beberapa hari, kami mengamati bahwa kegiatan ini berlangsung secara rutin, bahkan hampir setiap malam. Pemulung dan pengemis menempati ruang yang semestinya digunakan oleh pejalan kaki,” tutur salah satu warga yang mengeluhkan situasi ini, Jumat (14/5/2026).
Fenomena ini tidak hanya mengganggu kebersihan kota, tetapi juga berpotensi menyebabkan kecelakaan karena kondisi trotoar yang sempit dan penuh.
Upaya Penertiban oleh Satpol PP dan Polisi
Dalam upaya memperbaiki kondisi, Satpol PP DKI Jakarta melakukan penertiban pada Rabu (13/5). Sejumlah personel memindahkan delapan individu yang tergolong PPKS (Penjaga Pusat Karya Sosial) ke Panti Sosial Bina Insan Bangun Daya 1. Menurut pernyataan Satriadi, anggota Satpol PP menyebutkan bahwa kegiatan para penjual dan pengemis di trotoar dianggap mengganggu kepentingan masyarakat. Polisi juga memberikan himbauan agar warga mematuhi peraturan lalu lintas dan penggunaan ruang jalan yang tepat.
Topics Covered – Penertiban ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga kota tetap bersih dan teratur. Sebelumnya, pihak Satpol PP DKI Jakarta sering menangani keluhan serupa, dengan menindak para pengemis yang menempati ruang trotoar. Selain itu, pihak kepolisian juga berperan dalam mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan aturan kota.
Profil dan Latar Belakang PPKS yang Dibawa ke Panti
Kelompok delapan PPKS yang dibawa ke panti sosial terdiri dari warga berusia lanjut yang tergolong rentan. Mereka antara lain Suwino (74) dari Tegal, Udin (63) asal Brebes, Waskam (73) berasal dari Kuningan, Budi Cahyono (61) dari Kediri, Slamet Basuki (65) berdomisili di Jakarta, Umardani (56) asal Jakarta, Juni Marlis (45) dari Padang, serta Abdul Hadi (61) yang tinggal di Jakarta. Semua individu ini terlibat dalam kegiatan penjualan atau pengemisan yang berlangsung di trotoar.
Topics Covered – Penertiban ini dianggap sebagai langkah kecil untuk memperbaiki kondisi trotoar. Meski sebagian besar warga mengeluhkan pengaruh negatif dari aktivitas tersebut, pihak pemerintah juga berupaya memastikan kebutuhan sosial mereka tetap terpenuhi. Sebagai contoh, para PPKS yang dipindahkan diharapkan dapat mengakses fasilitas layanan masyarakat di panti sosial.
Konteks Penyelesaian Masalah di Trotoar Mampang
Keberadaan pemulung dan pengemis di trotoar Mampang tidak terlepas dari ketersediaan ruang publik yang terbatas. Kota Jakarta yang padat berpengaruh pada kondisi ini, di mana para pengemis mencari tempat yang nyaman untuk beraktivitas. Penertiban oleh Satpol PP DKI Jakarta dilakukan secara bertahap, dengan harapan dapat mencegah kepadatan yang berkelanjutan.
Topics Covered – Dalam jangka panjang, pemerintah berencana menyelesaikan masalah ini dengan mengintegrasikan kebijakan sosial dan lingkungan. Selain penertiban, perlu adanya peningkatan akses ke layanan sosial bagi warga yang membutuhkan, agar mereka tidak terpaksa berada di trotoar untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pihak terkait juga sedang merancang program pemulangan yang lebih sistematis.