MPR Goes to Campus di Unhan: Fokus Utama pada Ketahanan Energi
Main Agenda menjadi tema utama dalam kegiatan MPR Goes to Campus (MPR GTC) yang mencapai jumlah ke-50 di Universitas Pertahanan (Unhan), Selasa (2/7/2026). Eddy Soeparno, wakil ketua MPR dari Fraksi PAN, menjadi pembicara utama dalam acara ini, yang diselenggarakan untuk memperkuat peran lembaga legislatif dalam menghadirkan wacana strategis ke kampus. Selama pidatonya, Eddy menekankan bahwa ketahanan energi tidak hanya menjadi isu teknis, tetapi juga aspek kritis dalam menjaga stabilitas bangsa, sekaligus sebagai bagian dari agenda nasional yang harus diprioritaskan.
Makna Kegiatan MPR Goes to Campus ke-50
Kunjungan ke-50 MPR GTC ke Unhan menjadi momen penting yang menunjukkan komitmen lembaga MPR dalam menjembatani antara kebijakan negara dan perspektif akademik. Acara ini merupakan bagian dari upaya meningkatkan partisipasi masyarakat akademik dalam membentuk kebijakan publik. Dalam kesempatan tersebut, Eddy Soeparno menjelaskan bahwa Unhan dipilih karena memiliki kompetensi unggul dalam mempelajari isu-isu strategis, seperti ketahanan energi, yang sangat relevan dengan tantangan masa depan Indonesia. “Ketahanan energi kini menjadi prioritas utama dalam pemerintahan, dan Unhan mampu menjadi tempat diskusi yang produktif,” kata Eddy.
Dalam rangkaian kegiatan yang berlangsung di kampus Unhan, beberapa peserta diskusi lainnya juga menyampaikan pandangan tentang bagaimana pendidikan tinggi dapat berkontribusi pada peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya energi terbarukan. Eddy menggarisbawahi bahwa keberhasilan program ini menunjukkan bahwa kolaborasi antara institusi politik dan akademik dapat menghasilkan solusi yang lebih holistik. Ia menambahkan, “Dengan melibatkan mahasiswa dan akademisi, kita mampu menggali potensi inovasi yang selaras dengan visi bangsa.”
Peran Unhan dalam Kebijakan Energi Nasional
Universitas Pertahanan, sebagai institusi pendidikan yang fokus pada keamanan dan pertahanan, dikenal memiliki program studi yang memadukan ilmu teknik dengan strategi nasional. Eddy Soeparno menyoroti bahwa keberadaan Unhan memberikan perspektif unik dalam membahas ketahanan energi, khususnya di tengah dinamika geopolitik yang memengaruhi rantai pasok global. “Kegiatan ini menggambarkan bagaimana universitas pertahanan dapat menjadi mitra strategis dalam membangun kebijakan energi yang berkelanjutan,” ujar Eddy dalam siaran pers.
Dalam konteks tersebut, Eddy menekankan bahwa transisi energi harus diimbangi dengan kebijakan yang mengutamakan kemandirian nasional. Ia menyebutkan bahwa transisi ini tidak hanya tentang pergeseran sumber daya, tetapi juga tentang menciptakan infrastruktur dan kebijakan yang tahan terhadap risiko eksternal. “Indonesia harus menjadi contoh bagaimana negara dapat mencapai swasembada energi sambil tetap menjaga pertumbuhan ekonomi dan lingkungan,” tambahnya. Pernyataan ini sejalan dengan visi Asta Cita Prabowo-Gibran, yang menempatkan energi sebagai komponen utama pembangunan nasional.
Dalam pidatonya, Eddy juga menyoroti dampak dari konflik di Timur Tengah, sebagai salah satu penghasil energi terbesar dunia. “Gangguan pasokan energi akibat konflik global berdampak langsung pada harga energi dan kestabilan ekonomi,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa ini menjadi momentum untuk memperkuat kerja sama antara pemerintah, lembaga legislatif, dan akademisi dalam merancang strategi energi yang lebih resilien. Eddy berharap kegiatan MPR Goes to Campus dapat menjadi sarana terus-menerus untuk menggali ide-ide inovatif yang berkontribusi pada keberlanjutan bangsa.
Dalam konteks penyelenggaraan kegiatan ini, Eddy Soeparno menekankan bahwa Main Agenda MPR GTC ke-50 di Unhan tidak hanya membahas ketahanan energi, tetapi juga mengeksplorasi dampaknya terhadap pertumbuhan ekonomi. “Ketahanan energi adalah dasar dari kestabilan perekonomian, dan kampus menjadi tempat ideal untuk membahas isu ini secara mendalam,” ujarnya. Ia menyoroti bahwa mahasiswa, sebagai generasi penerus bangsa, perlu memahami kebijakan nasional secara komprehensif, termasuk peran energi dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan lingkungan.
Dengan memperkuat hubungan antara MPR dan kampus, Eddy menilai bahwa program ini dapat menciptakan solusi yang lebih kreatif dan berkelanjutan. “Kunjungan ke Unhan kali ini menunjukkan bahwa agenda utama MPR GTC bukan hanya tentang kuantitas, tetapi kualitas wacana yang dihasilkan,” pungkasnya. Eddy berharap program ini terus berkembang, terutama di daerah-daerah yang membutuhkan perhatian lebih untuk mewujudkan visi Indonesia Emas 2045, di mana ketahanan energi dan keberlanjutan menjadi prioritas mutlak.
