Berita

Special Plan: Dari Modal Rp 600 Ribu, Dewi Bawa Batik Garutan Tembus Pasar Amerika

Dari Modal Rp 600 Ribu, Dewi Bawa Batik Garutan Tembus Pasar Amerika dengan Special Plan Mulai dari Langkah Kecil, Sambut Perubahan Special Plan - Dewi

Desk Berita
Published Juli 1, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Dari Modal Rp 600 Ribu, Dewi Bawa Batik Garutan Tembus Pasar Amerika dengan Special Plan

Mulai dari Langkah Kecil, Sambut Perubahan

Special Plan – Dewi Agustiati, seorang perempuan berusia 59 tahun, memulai usahanya dengan niat sederhana: menjaga penghasilan hingga usia tua. Dengan modal kecil sebesar Rp 600 ribu, ia membangun Kaaseeh Apparel, usaha batik yang awalnya hanya bermimpi mengirim kain batik Indonesia ke luar negeri, terutama Amerika Serikat. Dalam special plan yang ia bangun, Dewi menggabungkan kebutuhan lokal dengan potensi pasar internasional, sekaligus menciptakan strategi berkelanjutan untuk memperkuat bisnisnya.

“Niat utamanya sebenarnya untuk menjadi ibu rumah tangga yang tetap bisa berpenghasilan. Jadi, tidak tergantung pada pekerjaan suami, yang juga wiraswasta. Tapi gimana caranya agar usaha ini bisa bertahan hingga usia 70 tahun?”

Strategi Pemasaran dan Penyesuaian Produk

Dewi awalnya mencoba mengirimkan produknya ke luar negeri. Namun, ia menyadari bahwa pasar Amerika memiliki selera yang berbeda dari pasar dalam negeri. Dalam special plan yang ia kembangkan, Dewi melakukan riset panjang untuk memahami preferensi konsumen, mulai dari warna hingga motif batik yang paling diminati. Hasilnya menunjukkan bahwa motif dan warna batik yang diterima cukup terbatas, sehingga ia mengambil langkah untuk menyesuaikan produk.

“Ada warna-warna tertentu yang nggak laku. Nah itu kan riset, panjang itu. Itu panjang,”

Setelah menemukan batik Garutan yang cocok, Dewi memilih bahan katun dan rayon karena cuaca di California berbeda dengan iklim Indonesia. Dengan special plan ini, ia memastikan kenyamanan konsumen di sana, sekaligus menjaga kualitas produk yang sesuai standar internasional.

Kesulitan di Pasar Lokal dan Adaptasi Bisnis

Ketika memasuki pasar Jakarta, Dewi menghadapi tantangan baru. Banyak pelaku usaha batik yang sudah lebih dulu terjun, sehingga kompetisi semakin ketat. Dalam special plan yang ia jalani, Dewi memutuskan untuk menyesuaikan strategi pemasaran. Awalnya, ia menjual batik yang sama untuk pasar Amerika di tempat lokal, tetapi tidak langsung diterima.

“Sama sekali beda, beda sama sekali. Akhirnya, berarti saya harus punya modal baru. Saya dari nol, nol banget, modal dengkul awalnya sih,”

Ia kembali melakukan riset untuk memahami preferensi konsumen Jakarta. Hasilnya menunjukkan bahwa selera pasar di sini jauh berbeda. Konsumen lebih menyukai motif berani dan warna yang mencolok, sehingga Dewi mengubah strategi produksi dan pemasaran dalam special plan untuk memenuhi kebutuhan lokal.

Kurasi Produk dan Kesempatan Internasional

Dari situ, Dewi mengikuti program Jakpreneur. Sebelumnya, ia bahkan tidak mengetahui tentang program tersebut. Setelah mencari informasi dari lingkungan sekitar, ia mendaftar di tingkat kecamatan. Dengan dukungan dari special plan yang ia bangun, Dewi berhasil menarik perhatian para pengambil kebijakan dan mengikuti proses kurasi di Jakarta Creative Hub.

“Kurasi ini membuka jalan ke pameran internasional, yang sebelumnya saya tidak pernah bayangkan,”

Setelah melewati penilaian terhadap kualitas jahitan, keakuratan motif, hingga kemasan, produk Dewi mendapatkan nilai A. Dalam special plan yang ia jalani, ini menjadi titik balik yang memberi peluang bisnisnya berkembang pesat. Ia diberi kesempatan mengikuti pameran di berbagai tempat, mulai dari Balai Kota hingga Grand Indonesia, yang membantu meningkatkan visibilitas usahanya.

Koneksi dengan BUMN dan Pertumbuhan Bisnis

Dewi kemudian menemui Rumah BUMN Jakarta. Di sana, ia kembali menceritakan perjalanan usahanya, yang sebelumnya tidak banyak diketahui. Setelah itu, ia mengetahui tentang program inkubator BRI yang bisa memberikan dukungan lebih besar. Dalam special plan yang ia kembangkan, koneksi ini menjadi bagian penting untuk memperluas jaringan dan akses pasar.

“Dukungan dari BUMN membuat saya lebih percaya diri mengembangkan bisnis. Dengan special plan, saya bisa menjual produk ke luar negeri, tapi juga tetap memenuhi permintaan lokal. Sekarang, konsumen bisa memilih motif dan warna yang sesuai dengan preferensi mereka,”

Keberhasilan Dewi dalam special plan ini tidak hanya terlihat dari peningkatan penjualan, tetapi juga dari keberlanjutan usaha yang ia bangun. Dengan memadukan inovasi dan adaptasi, usahanya menjadi contoh nyata bahwa bisnis kecil pun bisa bersaing di pasar internasional.

Impak Special Plan dan Harapan untuk Masa Depan

Dalam perjalanan usahanya, special plan menjadi strategi utama Dewi untuk menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang. Dukungan dari program Jakpreneur, Jakarta Creative Hub, serta BUMN Jakarta memberikan bantuan signifikan. Hasilnya, usaha batik Garutan yang awalnya bermodal kecil kini bisa menembus pasar Amerika, yang dianggap sebagai salah satu pasar yang paling kompetitif.

“Dengan special plan ini, saya ingin menunjukkan bahwa produk lokal Indonesia bisa menarik minat global. Keberhasilan ini juga memberikan harapan bagi para wanita lain yang ingin memulai usaha sambil tetap menjaga keseimbangan rumah tangga,”

Leave a Comment