Internasional

Diadili ICC, Eks Presiden Duterte Alami Gangguan Ingatan Parah

mantan-presiden-filipina-rodrigo-duterte-1789618135752_169

Kondisi Memori Duterte Jadi Sorotan dalam Proses Penilaian ICC

Wahanaberita.com – Kondisi kesehatan mental mantan Presiden Filipina Rodrigo Duterte menjadi fokus utama di Mahkamah Pidana Internasional atau ICC di Den Haag. Dalam sidang pada Rabu, 16 September 2026 waktu setempat, tim pembela menyampaikan bahwa Duterte mengalami gangguan ingatan berat yang dapat memengaruhi kemampuannya mengikuti proses hukum.

Duterte, yang kini berusia 81 tahun, hadir di hadapan ICC untuk pertama kalinya sejak dipindahkan ke lembaga itu sekitar 18 bulan sebelumnya. Ia menghadapi tuduhan kejahatan terhadap kemanusiaan yang berkaitan dengan kebijakan perang melawan narkoba selama masa pemerintahannya di Filipina.

Jaksa ICC menilai kebijakan tersebut menyebabkan ribuan orang kehilangan nyawa. Namun sebelum perkara masuk ke tahap persidangan penuh yang dijadwalkan berlangsung pada 30 November, para hakim perlu memastikan apakah Duterte secara mental mampu menjalani proses peradilan.

Tiga Pakar Diminta Menilai Kondisi Duterte

ICC telah memerintahkan tiga ahli untuk melakukan pemeriksaan medis terhadap Duterte. Kesimpulan dari pemeriksaan itu belum diumumkan kepada publik. Meski demikian, pandangan dari pihak pembela dan penuntut telah muncul dalam dokumen tertanggal 14 September yang dipublikasikan di situs ICC pada Selasa, 15 September.

Peter Haynes, ketua tim pembela Duterte, menyatakan gangguan memori kliennya bukan persoalan ringan. Ia menggambarkan Duterte kesulitan menyimpan informasi baru sekaligus memanggil kembali ingatan secara konsisten.

Duterte mengalami gangguan ingatan signifikan yang menghambat kemampuannya untuk menyimpan informasi terkini dan mengakses ingatan secara andal.

Haynes menilai keadaan tersebut menghalangi Duterte untuk memahami perkara yang sedang dihadapinya secara utuh. Dalam pembelaan pidana internasional, kemampuan terdakwa memahami tuduhan, berkomunikasi dengan kuasa hukum, serta memberikan arahan bagi strategi pembelaan merupakan bagian penting dari hak atas pengadilan yang adil.

Apalagi memberikan instruksi yang memadai kepada Ketua Tim Pembelanya — yang namanya pun hanya kadang-kadang dia ingat.

Tim pembela menyatakan persiapan untuk menghadapi persidangan harus dilakukan tanpa masukan yang berarti dari Duterte. Situasi ini menimbulkan pertanyaan apakah seorang terdakwa masih dapat berpartisipasi secara nyata dalam pembelaannya ketika ingatan dan orientasinya terganggu.

Kebingungan Soal Tahun dan Identitas Presiden AS

Dokumen pembela memuat sejumlah temuan pemeriksaan yang memperlihatkan kemungkinan disorientasi pada Duterte. Dalam beberapa kesempatan, ia disebut merasa sedang berada pada tahun 2007 atau 2008. Ia juga diyakini pernah menyebut usianya 84 atau 85 tahun, meski usianya saat ini 81 tahun.

Selain itu, Duterte dilaporkan tidak dapat menyebut nama presiden Amerika Serikat yang sedang menjabat. Rangkaian temuan tersebut dipakai tim hukumnya untuk memperkuat argumen bahwa kapasitas kognitif Duterte harus menjadi pertimbangan sebelum perkara pokok dimulai.

Penilaian kelayakan mental dalam proses pidana tidak sama dengan penentuan bersalah atau tidak bersalah. Tahap ini bertujuan menjawab pertanyaan mendasar: apakah terdakwa memahami sifat dakwaan, mengetahui konsekuensi proses hukum, dan mampu mengambil bagian dalam pembelaan secara bermakna.

Jaksa ICC Menilai Duterte Tetap Layak Diadili

Pandangan berbeda disampaikan oleh jaksa penuntut ICC. Dalam dokumen tujuh halaman yang sejumlah bagiannya telah disunting, jaksa berpendapat Duterte masih dapat menggunakan hak-hak proseduralnya dan memperoleh perlindungan peradilan yang adil.

Mampu menggunakan hak-hak prosedural dan hak atas peradilan yang adil secara bermakna, dan layak untuk menjalani persidangan.

Perbedaan pandangan ini akan menjadi salah satu isu penting bagi majelis hakim. Hakim perlu menimbang hasil pemeriksaan pakar, dokumen medis, pengamatan terhadap perilaku Duterte, serta kemampuan praktisnya untuk berkomunikasi dengan tim hukum.

Aturan ICC tidak mengizinkan proses pengadilan berlanjut apabila terdakwa tidak sanggup memahami dakwaan atau tidak dapat mengambil bagian secara bermakna dalam pembelaan. Karena itu, keputusan tentang kondisi Duterte dapat menentukan jadwal dan arah lanjutan perkara yang telah lama dinantikan ini.

Jika hakim menyimpulkan ia mampu diadili, persidangan dapat bergerak menuju agenda yang telah direncanakan pada akhir November. Sebaliknya, apabila kapasitasnya dianggap tidak memadai, ICC harus mempertimbangkan langkah hukum berikutnya dengan tetap menjaga hak terdakwa dan kepentingan proses keadilan bagi para pihak yang terdampak.

Kasus Duterte menunjukkan bahwa persidangan kejahatan internasional tidak hanya membahas tuduhan yang sangat serius, tetapi juga menuntut kepastian bahwa terdakwa benar-benar dapat memahami dan menghadapi proses yang berjalan terhadap dirinya.

Frequently Asked Questions

What is Diadili ICC Eks Presiden Duterte Alami?

Diadili ICC Eks Presiden Duterte Alami is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Diadili ICC Eks Presiden Duterte Alami matter?

Diadili ICC Eks Presiden Duterte Alami matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *