Staf Lokal Afghanistan Menanti Janji Dibawa ke Jerman
Menentukan janji mana dari politisi Jerman yang paling dipercaya oleh "staf lokal" bukanlah hal mudah. Istilah ini merujuk pada warga Afghanistan yang telah
Table of Contents
Janji Jerman untuk Staf Lokal Afghanistan: Antara Harapan dan Kekecewaan
Wahanaberita.com – Menentukan janji mana dari politisi Jerman yang paling dipercaya oleh “staf lokal” bukanlah hal mudah. Istilah ini merujuk pada warga Afghanistan yang telah mendukung misi negara tersebut di tanah air mereka.
Salah satu komitmen yang sering diingat adalah pernyataan Heiko Maas, Menteri Luar Negeri kala itu. Pada 26 Agustus 2021, atau sekitar 11 hari setelah Taliban merebut kendali, ia berjanji bahwa tugas mereka akan terus berjalan sampai seluruh orang yang menjadi tanggung jawab Jerman di Afghanistan berada dalam keadaan selamat.
Angka yang Terus Bertambah
Hingga Juni 2026, lebih dari 37.000 warga Afghanistan telah tiba di Jerman sejak Taliban kembali berkuasa. Kelompok ini mencakup mereka yang pernah bekerja bersama Bundeswehr atau program bantuan Jerman, serta anggota keluarga mereka. Angka tersebut juga memasukkan individu berisiko tinggi, seperti aktivis dan jurnalis yang memperjuangkan hak asasi manusia dan menentang rezim Taliban.
Bagi Ahmad Samid, seorang teknisi audio di Bundeswehr, pemerintah Jerman telah memenuhi komitmen mereka. Sebaliknya, Javad Niazi, yang bekerja di Kementerian Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan, merasakan hal berbeda. Ia masih terjebak di Kota Peshawar, Pakistan. Keduanya menggunakan nama samaran karena rasa takut terhadap Taliban serta konsekuensi buruk yang mungkin menimpa diri mereka dan keluarga.
Ratusan Orang Masih Menunggu
Samid kini bekerja sebagai resepsionis di sebuah hotel di kota besar Jerman. Ia berbicara kepada DW dengan fasih menggunakan bahasa Jerman.
“Saya sangat berterima kasih kepada Jerman. Namun, jika seseorang berkata, ‘Saya akan membantu Anda,’ maka janji itu harus ditepati. Orang harus menepati janji.”
Pada Agustus 2026, lima tahun setelah Taliban dengan cepat merebut kembali kekuasaan di Afghanistan, sepertinya Jerman mulai melupakan janji-janji besar yang pernah diucapkannya.
Niazi merasa Jerman telah mengingkari komitmen mereka. Ia berada dalam situasi serupa dengan 600 warga Afghanistan lainnya yang bertahan dengan putus asa di Peshawar dan Kabul. Mereka terus berharap bisa berangkat ke Jerman. Kepada DW, ia dan keluarganya menyampaikan perasaan terjebak dalam sangkar kecil.
Tabungan mereka telah habis. Niazi tidak memiliki izin tinggal di Pakistan dan enggan meninggalkan tempat tinggal sementara karena takut pada pasukan keamanan Pakistan yang setiap hari menangkap dan mendeportasi warga Afghanistan.
“Anak laki-laki saya yang berusia 14 tahun pergi berbelanja saat hari mulai gelap di sini. Kami tidak bisa pergi ke pasar, taman, atau rumah sakit mana pun, anak-anak saya tidak bisa bersekolah. Ini merupakan beban yang sangat berat bagi kami. Kami tidak pernah menyangka bahwa negara seperti Jerman akan menarik kembali keputusannya, ini sungguh tak bisa dipercaya.”
Pemerintahan Baru Mengubah Kebijakan
Pemerintahan baru Jerman di bawah Friedrich Merz, yang terdiri dari koalisi blok konservatif CDU/CSU serta Partai SPD dengan haluan tengah-kiri, telah mengeluarkan keputusan untuk menghentikan program pemindahan warga Afghanistan sejak Mei 2025. Pernyataan ini juga dikonfirmasi oleh Javad Niazi.
Sembilan bulan kemudian, mereka yang merasa ditinggalkan pemerintah Jerman mengajukan permohonan bantuan langsung kepada kanselir melalui surat dua halaman. “Kami ingin dan perlu melarikan diri dari kekuasaan Taliban demi bertahan hidup. Kami tidak bisa kembali ke Afganistan. Kebanyakan dari kami, hal itu akan berakhir dengan cara yang kejam dan brutal,” tulis mereka.
Namun, pemerintahan Merz tetap teguh pada pendiriannya. Di saat yang sama, pemerintah tersebut juga bekerja sama dengan Taliban “di level teknis” lewat misi perwakilan diplomatik Afghanistan di Jerman untuk memulangkan warga yang diduga telah melakukan aktivitas kriminal di wilayah federal Jerman. Baru-baru ini, Jerman juga mendeportasi orang pertama dari Afghanistan yang tidak memiliki catatan kriminal.
Menteri Luar Negeri Jerman Alexander Dobrindt menawarkan uang kepada para pengungsi Afghanistan yang sedang menunggu sebagai imbalan agar mereka membatalkan keberangkatan ke Jerman. Pembayaran satu kali sebesar hingga €2.500 (sekitar Rp51 juta) sebelum keberangkatan, hingga €10.000 (sekitar Rp205 juta) untuk kembali ke Afghanistan atau negara ketiga, ditambah perawatan medis, makan, dan akomodasi selama beberapa bulan. Sejauh ini, 300 orang telah menerima tawaran ini, sehingga mereka melepaskan harapan akan masa depan di Jerman.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Staf Lokal Afghanistan Menanti Janji Dibawa?
Staf Lokal Afghanistan Menanti Janji Dibawa is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Staf Lokal Afghanistan Menanti Janji Dibawa matter?
Staf Lokal Afghanistan Menanti Janji Dibawa matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
