Berita

Topics Covered: Andre Rosiade Cek Solar Subsidi Sumbar, Tegaskan Kelangkaan Bukan karena Kuota Kurang tapi PETI

Topics Covered: Andre Rosiade Pantau Kelangkaan Solar Subsidi di Sumbar, Tegaskan Bukan Kuota Kurang tapi PETI Topics Covered - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI

Desk Berita
Published Juni 6, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Topics Covered: Andre Rosiade Pantau Kelangkaan Solar Subsidi di Sumbar, Tegaskan Bukan Kuota Kurang tapi PETI

Topics Covered – Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Andre Rosiade melakukan inspeksi langsung terkait kelangkaan bahan bakar subsidi (BBM) di Sumatra Barat (Sumbar) saat berkunjung ke kantor Pertamina Patra Niaga di Padang, Jumat (5/6/2026). Dalam kunjungan tersebut, ia memastikan bahwa kekurangan solar di daerah tersebut bukan disebabkan oleh kuota BBM yang tidak mencukupi dari pemerintah pusat, melainkan karena aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) yang mengakibatkan penggunaan bahan bakar secara tidak sah.

Kunjungan bersama Manajer Wilayah dan Pengawasan Lapangan

Dalam inspeksi yang dihadiri oleh Sales Area Manager (SAM) Retail Sumatera Barat, Fakhri Rizal Hasibuan, Andre Rosiade meninjau proses distribusi solar subsidi di seluruh wilayah Sumbar. Mereka mengawasi operasional Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) melalui sistem pengawasan terintegrasi, termasuk perekaman CCTV di setiap lokasi. Dalam pernyataannya, Andre menegaskan bahwa kuota solar yang diberikan kepada Sumbar selama lima tahun terakhir sudah cukup dan bahkan mengalami peningkatan setiap tahun.

“Kuota BBM di Sumbar telah terus meningkat, termasuk untuk solar subsidi. Tahun lalu, kuota bertambah 15 persen, sementara tahun ini penjualan melebihi 5 persen dari total kuota. Meski data tersebut menunjukkan ketersediaan yang memadai, kelangkaan tetap terjadi. Dari sini, kami menyimpulkan bahwa penyebab utamanya adalah PETI,” jelas Andre dalam siaran resmi.

Data Penyaluran Solar dan Tren Penambahan Kuota

Data menunjukkan bahwa selama 16-23 Mei 2026, penyaluran Biosolar JBT mencapai 14.264 kiloliter, atau rata-rata 1.788 kiloliter per hari. Angka ini lebih tinggi 18 persen dari kuota harian yang dialokasikan. Di periode 27 Mei hingga 2 Juni 2026, total penyaluran mencapai 11.640 kiloliter dengan rata-rata 1.669 kiloliter per hari, atau 110,2 persen dari kuota harian. Fakta ini menegaskan bahwa konsumsi solar di Sumbar telah melampaui kemampuan distribusi yang direncanakan.

“Penyaluran solar subsidi di Sumbar meningkat signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Namun, peningkatan ini terutama terjadi di wilayah yang dianggap rentan terhadap PETI. Faktor ini menyebabkan kelangkaan yang lebih serius, meski kuota BBM sudah memadai,” tambah Fakhri Rizal Hasibuan.

Operasi Gabungan dan Dampak pada Masyarakat

Menurut Fakhri, operasi gabungan yang dilakukan Pertamina, pemerintah daerah, dan pihak penegak hukum pada Mei lalu berhasil mengurangi konsumsi solar subsidi. Data menunjukkan bahwa konsumsi harian turun drastis dari sekitar 1.800 kiloliter per hari menjadi 1.100-1.200 kiloliter. Andre Rosiade mengapresiasi langkah tersebut sebagai bukti bahwa tindakan penindasan PETI dapat mengatasi masalah kelangkaan BBM.

“Kemajuan ini menunjukkan efektivitas operasi gabungan dalam memerangi penyalahgunaan BBM subsidi. Dengan menekan aktivitas PETI, ketersediaan solar di Sumbar dapat ditingkatkan, sehingga masyarakat bisa memperoleh bahan bakar sesuai haknya,” ujar Andre.

Dalam wawancara tambahan, Andre menyebutkan bahwa masyarakat Sumbar terutama yang berasal dari kalangan ekonomi lemah sangat terdampak oleh kelangkaan solar subsidi. Ia menekankan bahwa BBM subsidi adalah kebutuhan vital untuk mendukung kegiatan sehari-hari, termasuk transportasi dan produksi. “Topics Covered ini penting karena menunjukkan adanya masalah sistemik dalam distribusi bahan bakar, yang perlu diperbaiki secara komprehensif,” tegasnya.

Peningkatan Kuota dan Tantangan Pemerintah

Kuota solar subsidi di Sumbar tahun ini telah ditambah sebesar 15 persen dibandingkan tahun sebelumnya, tetapi peningkatan tersebut belum cukup untuk menutupi kebutuhan BBM yang terus meningkat. Andre Rosiade mengingatkan pemerintah pusat agar mengevaluasi mekanisme alokasi kuota secara lebih teliti, terutama di daerah dengan risiko tinggi terhadap PETI. “Topics Covered ini menunjukkan bahwa kuota yang diberikan perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan, bukan hanya berdasarkan proyeksi nasional,” tambahnya.

Menurut Fakhri, Pertamina terus berupaya memperkuat pengawasan di lapangan dengan memperbesar jumlah personel pengawas dan meningkatkan keterlibatan masyarakat. “Kami juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian dan dinas terkait untuk memastikan tidak ada pelaku PETI yang mengambil bahan bakar secara ilegal,” jelasnya. Dengan langkah-langkah ini, Andre berharap kelangkaan solar dapat diminimalkan secara signifikan.

Keberlanjutan Penyaluran dan Rekomendasi Politik

Andre Rosiade menekankan bahwa penyaluran BBM subsidi harus menjadi prioritas dalam kebijakan energi nasional. Ia meminta pemerintah daerah dan Pertamina untuk terus meningkatkan transparansi dan akuntabilitas dalam distribusi bahan bakar. “Topics Covered ini menunjukkan bahwa adanya PETI mengganggu keadilan distribusi BBM. Oleh karena itu, harus ada langkah konkret untuk menyelesaikan masalah ini,” imbuhnya.

Di sisi lain, Andre juga mengapresiasi upaya Pertamina dalam mengadakan penyaluran BBM secara efisien. Ia menegaskan bahwa pihak-pihak yang terlibat dalam penyebab kelangkaan harus dihukum sesuai aturan yang berlaku. “Dengan menindak PETI, kita bisa memberikan ruang bagi masyarakat yang benar-benar membutuhkan BBM subsidi,” tutup Andre dalam penutupan wawancaranya.

Leave a Comment