Berita

Solving Problems: Rekrutmen Manajer KDMP Viral Mirip Latihan Militer, Ini Kata Dirut Agrinas

l Mirip Latihan Militer, Ini Kata Dirut Agrinas Solving Problems - Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mencuri perhatian publik setelah proses rekrutmen

Desk Berita
Published Juni 18, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Solving Problems: Rekrutmen Manajer KDMP Viral Mirip Latihan Militer, Ini Kata Dirut Agrinas

Solving Problems – Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) mencuri perhatian publik setelah proses rekrutmen manajernya dianggap menyerupai latihan semimiliter. Video rekrutmen tersebut viral di media sosial, terutama dalam unggahan yang diakses pada Rabu (17/6/2026). Peserta yang berpakaian loreng dan mengikuti diklat di lingkungan barak memicu tafsir tentang kekhasan metode perekrutan yang digunakan. Dalam konteks Solving Problems, langkah ini dianggap sebagai upaya untuk membangun kualitas manajer yang siap menghadapi tantangan sistem ekonomi koperasi.

Mekanisme Rekrutmen dan Pelatihan yang Diadopsi

Direktur Utama Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menjelaskan bahwa proses rekrutmen ini tidak hanya menguji kemampuan teknis, tetapi juga karakteristik peserta dalam menghadapi situasi kompetitif. “Secara umum, kita nanti penerima tenaga kerja, gitu,” katanya kepada wartawan, Kamis (18/6/2026). Ia menegaskan bahwa pihaknya bertindak sebagai end-user, artinya penjelasan dari pengguna akhir akan menjadi acuan utama dalam pemilihan manajer.

“Kalau saya kan penerima ya, pengguna ya. Jadi saya itu kan end-user-nya,”

Joao menyebut pelatihan sebagai bagian dari proses Solving Problems, di mana calon manajer diberi kesempatan untuk mengasah kemampuan manajerial melalui lingkungan yang mirip dengan militer. “Kalau masalah untuk, ada pelatihan dasar militer itu kan nation character building ya,” tambahnya. Ini menjadi strategi untuk menciptakan manajer yang tidak hanya kompeten, tetapi juga memiliki mental tangguh dan dedikasi tinggi.

Makna Pelatihan di Balik Proses Rekrutmen

Menurut Joao, rekrutmen manajer KDMP diselenggarakan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian PAN-RB dan BKN. Pelaksanaan diklat dijalankan bersama Kementerian Pertahanan (Kemhan), mirip dengan model SPPI (Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia) sebelumnya. “Setahu saya yang menyelenggarakan ini kan BKN ya, kemudian BKN bersama PAN-RB melakukan proses perekrutannya. Mereka minta tolong pada Kemhan untuk pelatihan,” katanya.

“Jadi saya pikir itu sangat relevan ya dengan kegiatan ini mengingat bahwa koperasi ini kan perintah konstitusi,”

Dalam menjelaskan urgensi pelatihan, Joao menyampaikan bahwa sistem ekonomi koperasi perlu dikembangkan kembali sesuai amanat konstitusi. “Selama 80 tahun Indonesia berdiri, arah ekonomi Indonesia ini kan sudah berjalan di arah pasar bebas. Artinya kita kan mencoba mengembalikan arah ekonomi Indonesia kepada arah konstitusional,” ujarnya. Ini sejalan dengan upaya Solving Problems dalam membangun ekonomi yang lebih inklusif.

Proses rekrutmen juga mencakup berbagai tahap penilaian, seperti wawancara, simulasi pengambilan keputusan, dan pengecekan kinerja. Joao menjelaskan bahwa ketatnya proses ini bertujuan untuk memastikan manajer yang dihasilkan mampu menghadapi berbagai tantangan dalam pengelolaan koperasi. “Solving Problems adalah inti dari kegiatan ini, karena kita ingin menghasilkan pemimpin yang tidak hanya mampu memahami kebutuhan masyarakat, tetapi juga mampu mengambil tindakan tepat saat ada masalah,” terangnya.

Para peserta yang lolos seleksi akan menjadi pegawai kontrak di Agrinas Pangan Nusantara. “Pegawai kontrak di Agrinas nantinya setelah mereka selesai rekrutmen,” tambah Joao, menegaskan bahwa kontrak kerja adalah bentuk penerapan hasil pelatihan tersebut. Sistem ini diharapkan mampu menciptakan manajer yang memiliki kompetensi tinggi dan loyalitas terhadap visi koperasi.

Dalam konteks Solving Problems, keberhasilan rekrutmen ini juga dipengaruhi oleh partisipasi masyarakat desa. “Koperasi Desa Merah Putih didirikan untuk mengakar pada kebutuhan warga desa. Maka, proses perekrutan ini tidak hanya tentang kemampuan teknis, tetapi juga komitmen untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul dalam pengelolaan kegiatan ekonomi desa,” jelas Joao. Ini menegaskan bahwa kekhasan pelatihan semimiliter bukan sekadar simbol, tetapi juga alat untuk memperkuat komitmen sosial dan ekonomi peserta.

Leave a Comment