AM Hendropriyono: Lima Pitutur Nusantara untuk Kehidupan Berbangsa
Main Agenda –
“Main Agenda” – Jenderal TNI (Purn) AM Hendropriyono, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), mengungkapkan lima prinsip tradisional Nusantara yang ia yakini mampu menjadi fondasi kehidupan berbangsa. Dalam wawancara terbarunya, ia menekankan bahwa pitutur-pitutur ini bukan sekadar cerita masa lalu, tetapi juga pedoman hidup yang relevan dalam menghadapi dinamika kontemporer. “Main Agenda ini penting untuk memperkuat identitas nasional dan membangun kesadaran kolektif masyarakat,” jelasnya.
Pitutur Pertama: Manunggaling Kawulo Gusti
Pitutur pertama, Manunggaling Kawulo Gusti, menggambarkan hubungan harmonis antara manusia dan Tuhan. Hendropriyono menjelaskan bahwa prinsip ini mendorong individu untuk selalu berpikir kritis dan bermoral, menggabungkan kehidupan spiritual dengan tindakan nyata di dunia ini. “Main Agenda mencakup prinsip ini sebagai dasar untuk menciptakan keseimbangan dalam diri, antara keyakinan dan tindakan,” tambahnya. Dalam konteks modern, nilai ini bisa diaplikasikan melalui kejujuran dalam berkomunikasi dan kesadaran akan tanggung jawab sosial.
Pitutur Kedua: Sangkan Paraning Dumadi
Pitutur kedua, Sangkan Paraning Dumadi, mengajarkan pentingnya menghayati akar kehidupan dan tujuannya. Hendropriyono mengungkapkan bahwa konsep ini mengingatkan kita untuk tetap menjunjung nilai-nilai tradisional, seperti rasa syukur dan penghargaan terhadap asal-usul. “Main Agenda menggarisbawahi bahwa setiap manusia harus mengetahui dari mana mereka berasal dan menuju mana, agar tetap terarah dalam kehidupan,” ujarnya. Dalam masyarakat yang terpecah oleh informasi berlebihan, prinsip ini bisa menjadi penjaga konsistensi.
Pitutur Ketiga: Bhinneka Tunggal Ika
Bhinneka Tunggal Ika, semboyan yang menjadi pusat perhatian, memperkuat pesan persatuan dalam keberagaman. Hendropriyono menyatakan bahwa prinsip ini tidak hanya tentang kesatuan, tetapi juga tentang penghargaan terhadap perbedaan sebagai bagian dari kehidupan berbangsa. “Main Agenda menekankan bahwa Bhinneka Tunggal Ika adalah pondasi moral, bukan sekadar slogan politik,” terangnya. Ia menambahkan bahwa semboyan ini harus diimplementasikan dalam kebijakan pemerintah dan interaksi masyarakat.
Pitutur Keempat: Gatoloco dan Ajining Diri Saka Lathi
Dalam prinsip keempat, Hendropriyono menyebutkan dua nilai utama: gatoloco dan ajining diri saka lathi. Gatoloco melambangkan keberanian untuk mengejar kebenaran, sementara ajining diri saka lathi mengacu pada etika dalam menyampaikan pendapat. “Main Agenda mengingatkan bahwa kebebasan berbicara harus diimbangi kejujuran dan tanggung jawab moral,” tegasnya. Di tengah maraknya hoaks dan ujaran kebencian di era digital, nilai ini menjadi pelindung dari perpecahan.
Pitutur Kelima: Memayu Hayuning Bawono
Pitutur kelima, Memayu Hayuning Bawono, mengajarkan tanggung jawab kolektif untuk menjaga keharmonisan dan keadilan. Hendropriyono menekankan bahwa prinsip ini mengandung semangat gotong royong dan kepedulian terhadap lingkungan sosial. “Main Agenda menonjolkan bahwa kehidupan berbangsa tidak hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga keberanian mengambil keputusan untuk kebaikan bersama,” imbuhnya. Ia menyoroti peran pemerintah dan masyarakat dalam menjaga nilai-nilai ini.
Dalam penjelasannya, Hendropriyono menyebutkan bahwa lima pitutur Nusantara ini bisa menjadi acuan dalam menghadapi berbagai tantangan kehidupan berbangsa. “Main Agenda ini diharapkan bisa menjadi pedoman untuk memperkuat persatuan dan kesatuan bangsa di tengah perubahan global,” katanya. Ia menambahkan bahwa penerapan nilai-nilai ini memerlukan kesadaran kolektif dan partisipasi aktif semua lapisan masyarakat. Dengan menjadikan pitutur sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, Hendropriyono optimis bangsa Indonesia bisa mempertahankan keutuhan dan keberlanjutan.
