Berita

Latest Program: Persoalan Sampah Jakarta, Kenneth DPRD DKI Minta Camat hingga Lurah Bergerak Masif

Latest Program: Jakarta's Waste Management Crisis, Kenneth Calls for Widespread Action by Camat and Lurah Latest Program - Anggota DPRD DKI Jakarta dari

Desk Berita
Published Mei 25, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Latest Program: Jakarta’s Waste Management Crisis, Kenneth Calls for Widespread Action by Camat and Lurah

Latest Program – Anggota DPRD DKI Jakarta dari Fraksi PDI Perjuangan, Hardiyanto Kenneth, menyoroti kebutuhan keterlibatan aktif camat, lurah, dan pihak terkait dalam penanganan masalah sampah di kota Jakarta. Menurutnya, upaya pengurangan sampah tidak bisa hanya bergantung pada Dinas Lingkungan Hidup, tetapi harus melibatkan seluruh tingkatan pemerintahan lokal dan masyarakat secara keseluruhan. Ia menegaskan bahwa sampah menjadi isu yang tidak hanya terkait kebersihan lingkungan, tetapi juga dampak lingkungan, ekonomi, dan sosial yang luas.

Challenges in Waste Management

Kritik terhadap pendekatan terbatas dalam penanganan sampah Jakarta terus dilontarkan oleh Kenneth. Menurutnya, keberhasilan program pengelolaan sampah bergantung pada keterlibatan masyarakat, mulai dari tingkat RT/RW hingga pengelolaan sampah rumah tangga. “Kesadaran masyarakat masih rendah, banyak yang belum memahami cara memilah sampah atau mengelola dari sumbernya,” jelasnya. Ia menekankan bahwa sosialisasi harus digencarkan secara rutin, bukan hanya sesekali, agar tercipta kesadaran bersama.

Menurut Kenneth, penumpukan sampah di Jakarta saat ini menjadi ancaman besar karena ketergantungan pada sistem angkut dan buang yang belum optimal. Meski TPST Bantargebang masih menjadi tempat penampungan utama, ia mengingatkan bahwa sistem ini rentan terhadap gangguan dan tidak bisa menjadi solusi jangka panjang. “Kita perlu mengubah paradigma, mulai dari pengelolaan sampah rumah tangga hingga pengembangan teknologi daur ulang yang inovatif,” tegasnya.

Historical Context and Lessons Learned

Kent mengingatkan bahwa krisis sampah Jakarta bukanlah hal baru. Sejarah menunjukkan bahwa pada awal 2000-an, kota ini hampir lumpuh akibat penumpukan sampah di TPST Bantargebang. Saat itu, Pemprov DKI mengambil langkah darurat dengan membuka kawasan Nagrak sebagai penampungan sementara. “Situasi itu menunjukkan ketergantungan berlebihan pada sistem angkut dan buang, sehingga perlu adanya transformasi ke pendekatan lebih holistik,” ujarnya.

Dalam konteks ini, Kenneth menyoroti bahwa tata kelola sampah di Jakarta masih mengandalkan metode tradisional yang tidak efektif. Ia menyebutkan bahwa sistem pengelolaan sampah saat ini belum memadai, terutama dalam mengatasi sampah plastik dan organik yang jumlahnya terus meningkat. “Kita perlu membangun sistem yang mandiri, tidak hanya berfokus pada akhir proses, tetapi juga pada sumber sampah,” tambahnya.

Latest Program and Policy Recommendations

Kent menekankan bahwa program penanganan sampah harus menjadi prioritas utama di bawah kepemimpinan Gubernur Pramono Anung dan Wakil Gubernur Rano Karno. Ia mengusulkan adanya mekanisme reward dan punishment untuk memastikan keterlibatan aktif seluruh pihak. “Selain itu, perlu adanya koordinasi yang lebih baik antarinstansi dan penguatan kelembagaan untuk mengawal program ini secara konsisten,” jelasnya.

Menurutnya, keterlibatan RT/RW dan lurah sangat krusial dalam menekan penumpukan sampah. Sosialisasi dan edukasi kepada warga perlu ditingkatkan melalui program jangka panjang, seperti pelatihan daur ulang, pembuatan TPS 3R, serta integrasi teknologi daur ulang modern di tingkat rumah tangga. “Jika semua pihak bekerja sama, Jakarta bisa menjadi contoh kota yang mandiri dalam pengelolaan sampah,” pungkasnya.

Community and Technological Solutions

Kent juga menyoroti peran masyarakat dalam mengurangi sampah. Ia mengusulkan adanya inisiatif lokal, seperti bank sampah dan gerakan pemilahan sampah, yang bisa dimulai dari tingkat kecil. “Masyarakat harus dijadikan mitra utama, karena mereka adalah sumber utama sampah,” ujarnya. Ia menyebutkan bahwa program seperti ini bisa dilakukan secara bersamaan dengan kebijakan pemerintah untuk mempercepat hasil.

Di sisi lain, Kenneth menekankan pentingnya penggunaan teknologi dalam menangani sampah. Ia mengusulkan pengembangan TPS 3R yang lebih efisien, serta adanya penelitian tentang sistem daur ulang yang bisa diadopsi oleh Jakarta. “Teknologi bisa menjadi kunci untuk mengurangi ketergantungan pada TPST Bantargebang dan menghadirkan solusi yang berkelanjutan,” tambahnya. Ia berharap pemerintah daerah mampu melibatkan berbagai pihak, termasuk akademisi dan pengusaha, dalam pengembangan inovasi ini.

Dalam pernyataannya, Kenneth juga menyebutkan bahwa krisis sampah Jakarta tidak bisa diatasi secara sektoral. “Masalah ini membutuhkan kolaborasi lintas wilayah dan peningkatan kapasitas daerah dalam mengelola sampah secara mandiri,” jelasnya. Ia berharap program Latest Program ini bisa menjadi momentum untuk mengubah paradigma pengelolaan sampah Jakarta menjadi lebih efektif dan berkelanjutan.

Leave a Comment