Berita

Key Discussion: Tanggapan Dandhy Laksono Usai Dipolisikan Mama Sinta Terkait Film Pesta Babi

Bertanggung Jawab Usai Dilaporkan Mama Sinta Soal Film Pesta Babi Key Discussion menjadi fokus utama dalam pembicaraan terkini tentang film dokumenter 'Pesta

Desk Berita
Published Juni 2, 2026
Reading time 2 minutes
Conversation No comments

Key Discussion: Dandhy Laksono Bertanggung Jawab Usai Dilaporkan Mama Sinta Soal Film Pesta Babi

Key Discussion menjadi fokus utama dalam pembicaraan terkini tentang film dokumenter ‘Pesta Babi’ yang menimbulkan polemik di Merauke. Dandhy Dwi Laksono, sutradara dan penulis film tersebut, memberikan tanggapan setelah diberi laporan oleh Mama Sinta, tokoh adat perempuan dan aktivis lingkungan, ke Polda Metro Jaya. Ia menyoroti perbedaan keterlibatan Mama Sinta sebelum dan sesudah film dirilis, yang memicu perdebatan luas di masyarakat.

“Saat Mama Yasinta muncul ke publik membela tanah ulayatnya, kami yang mendukungnya menampakkan identitas yang jelas. Punya nama, punya wajah, punya lembaga,” tulis Dandhy dalam postingan Instagramnya seperti dilaporkan detikcom, Selasa (2/6/2026).

“Kini, Mama Yasinta dimunculkan ke publik oleh mereka yang tak berani menunjukkan identitas mereka sendiri. Tanpa nama, tanpa wajah,” lanjutnya.

Dandhy menilai bahwa laporan Mama Sinta merupakan upaya untuk mengalihkan fokus publik dari isu kolonialisme yang terus diangkat di Papua. Ia mengklaim bahwa film ‘Pesta Babi’ tidak hanya menjadi bentuk ekspresi seni, tetapi juga menyampaikan kritik terhadap politik tanah di wilayah tersebut. Pernyataan ini menimbulkan perdebatan, dengan pihak yang berbeda menilai film tersebut sebagai bentuk perlawanan atau penistaan.

Dandhy Turut Dipolisikan Oleh Mama Sinta

Dandhy Laksono bersama Ketua LBH Merauke, berinisial JTW, menjadi korban laporan dari Mama Sinta. Polda Metro Jaya menerima laporan tersebut pada Jumat (29/5/2026), yang terdaftar dengan nomor LP/B/3843/V/2026/SPKT. Penyidik Ditreskrimum akan memeriksa lebih lanjut apakah ada pelanggaran hukum dalam pemutaran film yang mengangkat kisah Mama Sinta.

“Ini masih dalam proses pemeriksaan karena baru hari Jumat. Tapi tadi kami koordinasikan dengan Ditreskrimum, sudah menerima laporan polisi,” jelas Kombes Budi Hermanto, Kabid Humas Polda Metro Jaya, kepada wartawan di Jakarta Selatan, Selasa (2/6/2026).

Konteks Film ‘Pesta Babi’ dan Konflik Tanah

Key Discussion tentang film ‘Pesta Babi’ muncul setelah film ini dianggap menggambarkan konflik antara pihak adat dan pemerintah terkait penggunaan lahan. Mama Sinta menilai bahwa film tersebut menciptakan kesan negatif terhadap perjuangannya dalam melindungi tanah ulayat. Ia mengklaim bahwa pembuat film tidak memberi kesempatan untuk berdiskusi sebelum digunakan dalam konten.

Sebelumnya, Mama Sinta menyampaikan rasa sakit hati terhadap pemutaran film yang memperlihatkan wajahnya. “Mereka putar film ‘Pesta Babi’ itu di mana-mana, saya sakit hati, kecewa sekali. Tanpa izin dari saya, tanpa pembicaraan. Itu penjahat itu mereka,” katanya dalam wawancara. Pernyataan ini memicu reaksi dari pihak-pihak lain yang melihat film sebagai bentuk dokumentasi kritis.

Key Discussion juga menyoroti bagaimana film tersebut dianggap sebagai alat untuk memperkuat narasi politik tertentu. Dandhy menjelaskan bahwa film dirancang untuk menyoroti peran individu dalam menghadapi ketimpangan. Namun, Mama Sinta berpendapat bahwa film tersebut digunakan untuk menyamarkan agenda kolonialisme yang lebih luas.

“Yang jelas terlihat adalah upaya menghilangkan fokus kita pada fenomena di tanah Papua,” ujar Dandhy.

“Di sinilah, mereka sedang mencemarkan akal sehat kita semua,” imbuhnya.

Key Discussion terkait film ini terus berkembang di media sosial dan komunitas adat. Banyak pihak mengkritik cara film tersebut menggambarkan perjuangan Mama Sinta, sementara yang lain mengapresiasi upaya pengungkapan isu yang kompleks. Dandhy menyatakan bahwa film ini adalah bagian dari kegiatan kreatif yang memicu refleksi kolektif.

Leave a Comment