Ahmad Muzani Bicara Relevansi Qanun Asasi dalam Perkuat Persatuan Bangsa
Penguatan Empat Pilar kebangsaan menjadi kunci utama dalam mewujudkan persatuan serta mendukung pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045
Table of Contents
Muzani Soroti Peran Qanun Asasi untuk Memperkokoh Persatuan Nasional
Wahanaberita.com – Penguatan Empat Pilar kebangsaan menjadi kunci utama dalam mewujudkan persatuan serta mendukung pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, saat menjadi pembicara utama pada Halaqah Kebangsaan dan Qanun Asasi yang diselenggarakan di Gedung Nusantara V, Kompleks Parlemen, Jakarta, pada hari ini.
Acara tersebut dihadiri sejumlah tokoh penting, termasuk Wakil Presiden RI ke-13, Ma’ruf Amin, pengurus Pesantren Tebuireng, Abdul Hakim Mahfudz, Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, akademisi Yudi Latief, serta seluruh anggota Ikatan Keluarga Alumni Pesantren Tebuireng (IKAPETE).
Keterkaitan Qanun Asasi dengan Sejarah Kebangsaan
Muzani menyoroti bahwa pembahasan Qanun Asasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan perjalanan sejarah bangsa Indonesia. Hal ini mencakup upaya membangun kesadaran kebangsaan, menjaga persatuan, serta merawat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Menurut Muzani, Gedung Nusantara V menyimpan makna khusus karena memiliki sejarah panjang dalam ketatanegaraan Indonesia. Bangunan ini juga menjadi bagian dari proses pembahasan dan perubahan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.
“Kalau hari ini kita membicarakan tentang Qanun Asasi, itu sesuatu yang sangat mendasar bagi perjuangan kita semua. Qanun Asasi ini sudah panjang lebar berbicara tentang bagaimana dasar-dasar perjuangan disusun dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara,” kata Muzani, Sabtu (8/8/2026).
Qanun Asasi sebagai Jawaban atas Tantangan Kebangsaan
Gagasan Qanun Asasi yang dirumuskan para pendahulu Nahdlatul Ulama (NU) menunjukkan adanya kesadaran bahwa persoalan kebangsaan harus dijawab dengan pendekatan yang mampu merangkul seluruh elemen masyarakat. Muzani menilai semangat tersebut relevan dengan tantangan kehidupan berbangsa dan bernegara saat ini.
Persatuan tidak cukup dibangun hanya dengan kesamaan identitas, tetapi juga melalui kemampuan untuk merawat keberagaman dan menjadikan perbedaan sebagai kekuatan bersama. Muzani menambahkan bahwa NU harus menjadi jaminan tentang persatuan dan menjadi kekuatan yang merangkul kekuatan-kekuatan minoritas.
“Qanun Asasi menjadikan edukasi dan kesadaran sebagai solusi bagi problem umat. NU harus menjadi jaminan tentang persatuan dan menjadi kekuatan yang merangkul kekuatan-kekuatan minoritas,” katanya.
Peran Ulama dalam Perjuangan Kemerdekaan
Muzani juga menyampaikan bagaimana para ulama dan tokoh NU pada masa perjuangan kemerdekaan memiliki perhatian besar terhadap masa depan negara. Perjuangan membangun Indonesia tidak hanya dilakukan melalui jalur fisik dan militer, tetapi juga melalui perjuangan politik dan pembangunan kesadaran kebangsaan.
Sejarah menunjukkan bahwa para ulama dan tokoh bangsa selalu berada di garis depan ketika negara menghadapi ancaman perpecahan maupun gangguan terhadap keutuhan pemerintahan. Dinamika politik dan pemberontakan pada dekade 1950-an menjadi salah satu contoh bagaimana para pendahulu bangsa berusaha mencari jalan keluar untuk menyelamatkan negara dari ancaman disintegrasi.
“Setiap ada ancaman terhadap negara, setiap ada ancaman perpecahan, NU selalu tampil di depan untuk membela bangsa dan negara. Ini adalah semangat filosofi yang begitu kuat dalam perjalanan bangsa Indonesia,” tegasnya.
Empat Pilar sebagai Pedoman Kehidupan
Muzani mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperkuat nilai-nilai kebangsaan melalui penghayatan dan pengamalan Empat Pilar MPR RI, yakni Pancasila, UUD NRI Tahun 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika. Empat Pilar tidak boleh berhenti sebagai konsep, melainkan harus menjadi pedoman dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.
Penguatan nilai-nilai tersebut menjadi semakin penting di tengah berbagai tantangan yang dihadapi bangsa menuju Indonesia Emas 2045. Muzani menekankan bahwa Indonesia harus beruntung karena memiliki bangsa yang dibangun di atas kesadaran untuk hidup bersama.
“Indonesia harus beruntung karena memiliki bangsa yang dibangun di atas kesadaran untuk hidup bersama. Tugas kita sekarang adalah menjaga persatuan itu, memperkuat fondasi kebangsaan, dan memastikan pembangunan nasional berjalan untuk seluruh rakyat Indonesia,” pungkasnya.
Abdul Hakim Mahfudz: Qanun Asasi sebagai Landasan Perjuangan
Sementara itu, Abdul Hakim Mahfudz menekankan pentingnya menghidupkan kembali nilai-nilai Qanun Asasi sebagai landasan perjuangan dan budaya organisasi dalam menghadapi tantangan zaman. Qanun Asasi lahir dari kesadaran para ulama untuk melakukan konsolidasi umat, membangun persatuan, dan memberikan arah perjuangan di tengah perubahan sosial, politik, dan keagamaan.
Karena itu, Qanun Asasi tidak cukup hanya dipahami sebagai dokumen sejarah, tetapi harus diaktualisasikan dalam kehidupan organisasi dan kebangsaan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Ahmad Muzani Bicara Relevansi Qanun Asasi?
Ahmad Muzani Bicara Relevansi Qanun Asasi is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Ahmad Muzani Bicara Relevansi Qanun Asasi matter?
Ahmad Muzani Bicara Relevansi Qanun Asasi matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
