Historic Moment: Universitas Trilogi Pecahkan Rekor MURI dengan Sketsa Soeharto Terbanyak
Perayaan Ulang Tahun Soeharto yang Dibuka dengan Karya Seni
Historic Moment—Sebagai bagian dari perayaan ulang tahun ke-105 Presiden RI ke-2, Soeharto, Universitas Trilogi mengadakan acara yang memecahkan rekor MURI (Majelis Ulama Indonesia) sebagai jumlah sketsa yang paling banyak dihasilkan. Acara ini berlangsung di kampus Universitas Trilogi, Jakarta Selatan, pada Rabu (24/6/2026), dan dihadiri oleh lebih dari seribu peserta yang berlomba membuat karya seni berupa sketsa dalam upaya menghormati peran tokoh nasional tersebut.
Sejarah dan Arti Rekor MURI dalam Karya Seni
Kegiatan ini tidak hanya menjadi Historic Moment bagi masyarakat Indonesia, tetapi juga menjadi peristiwa penting dalam dunia seni dan pendidikan. Soeharto, yang dikenal sebagai Bapak Pembangunan dan tokoh utama masa Orde Baru, masih menjadi inspirasi bagi banyak generasi. Universitas Trilogi mengambil inisiatif untuk menggambarkan kehidupan dan kepemimpinan beliau melalui sketsa, sebagai bentuk pelestarian sejarah dan penghargaan atas kontribusinya.
Acara ini menyatukan elemen seni, sejarah, dan pendidikan dalam satu kesatuan. Peserta yang terdiri dari pelajar, mahasiswa, serta seniman lokal menunjukkan antusiasme tinggi dengan menggunakan alat lukis dan teknik sketsa yang beragam. Setiap karya tidak hanya mencerminkan keahlian artistik, tetapi juga ekspresi historis yang dipahami secara mendalam oleh peserta. Untuk memperkuat makna Historic Moment ini, panitia juga menyediakan bimbingan teknis dari para ahli seni dan sejarawan.
Peluncuran Rekor MURI: Karya Seni sebagai Bahan Kajian
“Melalui lomba ini, kita ingin menciptakan sebuah Historic Moment yang menyatukan seni dan sejarah sebagai media edukasi,” kata Rektor Universitas Trilogi, Dr. Anwar Arief, dalam pembukaan acara. Acara ini juga menyertakan seminar nasional yang mengeksplorasi peran Soeharto dalam membangun Indonesia melalui kepemimpinannya yang penuh dedikasi.
Rekor MURI yang berhasil dicapai menjadi bukti bahwa seni bisa menjadi alat untuk memperkaya pemahaman sejarah. Sebanyak 1.200 sketsa Soeharto dihasilkan dalam satu hari, dengan berbagai variasi gaya dan pendekatan. Dari jumlah tersebut, 800 karya terpilih untuk ditampilkan dalam pameran yang berlangsung selama tiga hari di kampus. Pemecahan rekor ini juga menjadi ajang untuk memotivasi peserta agar terus mengeksplorasi potensi kreatif mereka dalam menggambarkan tokoh-tokoh penting.
Interaksi dan Inspirasi dari Pembicara Kunci
Para pembicara yang hadir dalam seminar Nasional menyampaikan penjelasan tentang bagaimana Soeharto membangun bangsa melalui kebijakan ekonomi, politik, dan sosial. Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, menekankan bahwa sketsa ini merupakan representasi dari perjuangan Soeharto yang masih relevan hingga hari ini. “Karya seni adalah bagian dari peninggalan sejarah yang bisa dilestarikan,” ujarnya.
Historic Moment ini juga menjadi sarana untuk membangun kesadaran generasi muda akan pentingnya mempelajari tokoh sejarah. Fuad Bawazier, mantan Menteri Keuangan, menjelaskan bahwa Soeharto dikenang karena kemampuannya dalam membangun infrastruktur dan sistem pendidikan. “Melalui sketsa, kita bisa menyampaikan nilai-nilai kepemimpinan yang selama ini dianggap kunci bagi perjalanan Indonesia,” tambahnya.
Langkah Nyata dalam Pelestarian Budaya
Rektor Universitas Pertahanan, Anton Nugroho, menyoroti bagaimana kegiatan ini menjadi langkah nyata dalam melestarikan budaya kreatif. “Ini adalah Historic Moment yang menunjukkan betapa seni dan pendidikan bisa saling mendukung dalam menciptakan generasi yang lebih waspada terhadap nilai-nilai sejarah,” katanya. Kepala BPIP, Yudi Latif, juga menekankan bahwa karya seni seperti ini membantu memperkaya narasi sejarah dalam masyarakat.
Peserta acara menyampaikan bahwa mereka merasa bangga bisa menjadi bagian dari Historic Moment ini. “Saya berharap sketsa ini bisa menjadi pengingat tentang bagaimana Soeharto membangun Indonesia dari awal hingga akhir,” ungkap salah satu pelajar. Kegiatan ini tidak hanya memicu kebanggaan, tetapi juga mendorong peserta untuk terus menggali tema-tema sejarah yang relevan.
“Setiap goresan kanvas adalah perwujudan dari pikiran dan perasaan peserta, serta narasi sejarah yang mereka ciptakan,” pungkas Abdul Muti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, dalam sambutan penutupan. Ia menegaskan bahwa rekor MURI ini akan menjadi bagian dari perjalanan pendidikan Indonesia yang terus berkembang.
Dengan munculnya Historic Moment ini, Universitas Trilogi menunjukkan komitmen untuk mengintegrasikan sejarah dalam pendidikan seni. Selain menambah jumlah peserta, acara ini juga menyoroti pentingnya kreativitas dalam menyampaikan pesan nasional. Kegiatan ini diharapkan menjadi contoh bagus bagi institusi pendidikan lain untuk menciptakan kesempatan serupa dalam menghormati tokoh-tokoh besar melalui karya seni.
