Lestarikan Budaya, Siswa SRT 5 Ponorogo Tampil di Ajang Nasional
Special Plan – Dalam rangka mengimplementasikan Special Plan pembelajaran berbasis budaya, siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 5 (SRT 5) Ponorogo, Jawa Timur, berhasil menorehkan prestasi di Festival Nasional Reog Ponorogo (FNRP) XXXI yang digelar 11-14 Juni 2026 di Alun-Alun Kabupaten Ponorogo. Ajang ini menawarkan panggung nasional bagi peserta dari berbagai daerah, dan SRT 5 menjadi salah satu sekolah yang memberikan kontribusi signifikan.
Inisiatif Pendidikan Budaya
Kehadiran SRT 5 dalam FNRP XXXI merupakan bentuk keberhasilan Special Plan sekolah dalam mengintegrasikan seni tradisional ke dalam kurikulum. Program ini tidak hanya memperkenalkan reog kepada siswa, tetapi juga membangun kesadaran akan pentingnya pelestarian budaya. Para siswa, terutama dari kelompok Reyog Garudo Djoyo Manggolo, memperlihatkan keahlian yang mengagumkan dalam pertunjukan khas daerah tersebut.
“Melalui Special Plan ini, kami ingin menginspirasi siswa untuk tidak hanya menguasai teknik tari, tetapi juga memahami makna budaya yang dibawakan,” kata Devit Tri Candrawati, Kepala Sekolah SRT 5 Ponorogo, saat ditemui di lokasi festival pada Sabtu (13/6).
Pertunjukan yang menampilkan cerita Prabu Klono Sewandono dan tokoh Barongan ini dibuat dengan perpaduan ekspresi, gerakan, dan musik tradisional Jawa. Musik yang mengandalkan kendang, gong, kenong, kethuk, dan slompret memberi dimensi dramatis yang memperkaya pengalaman penonton. SRT 5 juga menyematkan pusaka cemeti ampuh Kyai Pecut Samandiman sebagai simbol perlindungan dan kebanggaan budaya.
Proses Persiapan yang Intensif
Persiapan untuk tampil di festival nasional memakan waktu dua bulan. Siswa terlibat dalam latihan yang melibatkan hafalan, keterampilan gerakan, serta penyesuaian ekspresi sesuai dengan cerita yang ditampilkan. Virda Amalia, salah satu penari, menyatakan bahwa kesuksesan pertunjukan tergantung pada konsistensi dan komitmen seluruh peserta.
“Latihan sangat intens, tetapi saya merasa puas karena bisa menunjukkan kemampuan kami di panggung nasional,” ujar Virda, yang juga berharap bisa mengembangkan minat terhadap seni tradisional di masa depan.
Kiprah SRT 5 dalam Special Plan ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menjadi contoh bagaimana pendidikan bisa berperan aktif dalam melestarikan warisan budaya. Selain pertunjukan utama, sekolah juga memperkenalkan penampilan paduan suara dan penyenggak yang menambah keunikan acara tersebut.
Kontribusi Siswa untuk Budaya Lokal
Prestasi SRT 5 dalam FNRP XXXI memperkuat harapan bahwa Special Plan bisa menjadi model dalam pendidikan lainnya. Para siswa menunjukkan bahwa kecintaan terhadap seni tradisional tidak hanya berupa pengetahuan, tetapi juga kemampuan mengaplikasikannya secara kreatif. Virda juga menekankan bahwa keikutsertaannya dalam festival ini meningkatkan kepercayaan diri dan kebanggaan terhadap budaya Ponorogo.
Dalam pertunjukan, ekspresi para siswa menggambarkan kegagahan Prabu Klono Sewandono dan keindahan gerakan Barongan. Penampilan ini tidak hanya menarik perhatian lokal, tetapi juga membangkitkan antusiasme masyarakat Indonesia yang tinggal di luar negeri, seperti warga Ponorogo di Korea Selatan.
Harapan Masa Depan untuk Budaya Nusantara
Kiprah SRT 5 dalam Special Plan ini diharapkan bisa menjadi batu loncatan untuk menginspirasi siswa lain. Devit Tri Candrawati menambahkan bahwa sekolah berkomitmen untuk terus mengembangkan program seni tradisional, terutama dalam menghadapi tantangan globalisasi yang sering menggerus nilai lokal.
Pertunjukan yang menampilkan cerita turun-temurun ini juga membantu menjaga keakuratan nilai-nilai budaya. SRT 5 menekankan pentingnya melibatkan siswa dalam proses kreativitas, agar mereka merasa memiliki tanggung jawab dalam melestarikan seni tradisional. “Kami ingin siswa merasa bahwa budaya adalah bagian dari identitas mereka,” lanjut Devit.
Malam puncak FNRP XXXI akan berlangsung pada 15 Juni, dengan kirab pusaka tombak dan lengker, serta pengumuman pemenang. Tampil di ajang nasional menjadi pengalaman berharga bagi siswa SRT 5, yang juga memperkuat hubungan antara sekolah dan komunitas lokal dalam mengembangkan Special Plan budaya. Keberhasilan ini diharapkan bisa menjadi langkah awal menuju pengakuan lebih luas bagi seni reog sebagai bagian dari warisan budaya Indonesia.
