Key Strategy: Program SLV Bangun Model Desa Berkelanjutan melalui Madu Trigona
Key Strategy menjadi fokus utama dalam pengembangan Program Sustainable Living Village (SLV) yang bertujuan membangun model desa berkelanjutan. Dengan mengintegrasikan prinsip ekonomi hijau dan lingkungan, SLV berupaya menciptakan pola kehidupan masyarakat yang seimbang, sekaligus menjawab tantangan pembangunan yang sering merusak ekosistem. Pendekatan ini tidak hanya menawarkan solusi lokal, tetapi juga menjadi contoh strategi global dalam memperkuat keberlanjutan ekonomi dan lingkungan.
Mengatasi Tantangan Rantai Pasok Sawit
Di tengah kenaikan kesejahteraan petani yang dipicu oleh ekspansi lahan sawit, Key Strategy SLV menghadirkan alternatif penghasilan yang lebih ramah lingkungan. Madu Trigona, yang diproduksi secara alami tanpa mengorbankan hutan, menjadi komoditas strategis dalam mengurangi ketergantungan masyarakat pada sektor yang merusak ekosistem. Dengan memprioritaskan produksi berkelanjutan, program ini memastikan pertumbuhan ekonomi tidak mengorbankan keanekaragaman hayati.
Key Strategy ini berlandaskan prinsip NDPE (No Deforestation, No Peat, No Exploitation), yang menjadi dasar untuk menjaga keberlanjutan rantai pasok. Apical Group, sebagai pengembang, mendorong praktik pengolahan minyak nabati yang tidak hanya berfokus pada hasil akhir, tetapi juga menyertakan kegiatan produksi dari para petani swadaya. Dengan demikian, SLV tidak hanya mendukung perekonomian lokal, tetapi juga menciptakan ekosistem pasokan yang lebih sehat dan berkelanjutan.
“Apical beroperasi di bidang pengolahan minyak nabati, di mana rantai pasok adalah komponen kritis dalam aktivitas bisnis. Kita perlu memastikan setiap tahapan dipertahankan dengan prinsip keberlanjutan,” ujar Sugiantoro, Manager Corporate Social Responsibility Apical, kepada detikcom pada Rabu (15/4/2026).
Pendekatan Lokal untuk Solusi Global
Key Strategy SLV mengadaptasi model berkelanjutan berdasarkan potensi setiap wilayah, memungkinkan kegiatan ekonomi lokal menjadi bagian dari solusi global. Di Aceh Singkil, misalnya, program ini menitikberatkan pada budidaya madu Trigona sebagai alternatif penghidupan di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Leuser. Dengan memanfaatkan pekarangan rumah tangga, madu Trigona tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tetapi juga memperkuat tata kelola lingkungan.
“Madu Trigona dibudidayakan tanpa perlu membuka lahan baru. Lebah ini memanfaatkan pekarangan, tidak menyengat, dan bahkan membantu penyerbukan tanaman sekitar,” terang Sugiantoro.
Di Kutai Timur, Kalimantan Timur, Key Strategy ini berupa pengembangan kakao sebagai pengganti sawit. Pendekatan lokal ini menunjukkan fleksibilitas SLV dalam menyesuaikan solusi dengan kebutuhan masyarakat. Melalui budidaya madu Trigona, Key Strategy tidak hanya mendorong perekonomian lokal, tetapi juga mengurangi tekanan terhadap hutan serta memperkuat kesejahteraan petani secara berkelanjutan.
Kolaborasi Multipihak dalam Penerapan Key Strategy
Key Strategy SLV tidak bisa dipenuhi secara mandiri, melainkan memerlukan kolaborasi antar institusi. Apical Group bekerja sama dengan Yayasan Inisiatif Dagang Hijau (IDH), Yayasan Ekosistem Lestari (YEL), Forum Konservasi Leuser (FKL), serta Pemerintah Kabupaten Aceh Singkil. Kerja sama ini menciptakan tata kelola lanskap yang inklusif, dengan melibatkan berbagai pihak dalam proses pengambilan keputusan dan pelaksanaan program.
Peran IDH sebagai mitra strategis sangat vital dalam mendukung Key Strategy ini. Mereka menghubungkan berbagai pemangku kepentingan, menyediakan pendanaan, dan merancang program yang terukur. Anne Fadilla Rachmi, Program Manager IDH, menegaskan bahwa kolaborasi multipihak menjadi kunci sukses Key Strategy dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan konservasi.
Kerangka NISCOPS: Key Strategy yang Berkelanjutan secara Internasional
Key Strategy SLV tidak hanya berlaku lokal, tetapi juga terintegrasi dalam kerangka National Initiatives for Sustainable & Climate Smart Oil Palm Smallholders (NISCOPS), yang didukung oleh pemerintah Belanda dan Inggris. Dengan keikutsertaan NISCOPS, Key Strategy ini menjadi bagian dari upaya global untuk mengubah paradigma pertanian yang berdampak lingkungan.
Implementasi Key Strategy di Aceh Singkil menunjukkan skalabilitas program ini. Saat ini, sekitar 1.000 petani telah menerima pelatihan tentang praktik pertanian yang baik (Good Agricultural Practices), sementara lebih dari 800 Surat Tanda Daftar Budidaya (STDB) telah dikeluarkan. Hasilnya, enam kelompok binaan berhasil menghasilkan 279 liter madu Trigona, dengan nilai penjualan lebih dari Rp80 juta yang dibagikan kepada 61 penerima manfaat.
“SLV tidak bisa dijalankan secara proyek per proyek. Perbaikan lanskap harus dilihat sebagai manajemen holistik yang melibatkan semua pemangku kepentingan,” kata Anne Fadilla Rachmi, Program Manager IDH.
