Erick Thohir Sorot Dampak AI di Dunia Kerja: Banyak Pekerjaan Bisa Hilang
Topics Covered: Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir mengungkapkan peran penting kecerdasan buatan (AI) dalam mengubah dinamika dunia kerja global. Ia menyatakan bahwa kemajuan teknologi ini menimbulkan tantangan besar bagi keberlanjutan pekerjaan, dengan banyak posisi yang berpotensi tergantikan oleh sistem otomatis. Pernyataan ini menegaskan bahwa AI bukan sekadar alat bantu, melainkan faktor utama yang memengaruhi struktur tenaga kerja di masa depan.
Rapat Kerja Komisi X DPR
Dalam rapat kerja Komisi X DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, pada Selasa (2/6/2026), Erick Thohir menyebut beberapa inisiatif untuk memperkuat kompetensi pemuda, seperti Youth Camp dan program magang. Ia menjelaskan bahwa tantangan pekerjaan generasi muda tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga global, akibat akcelerasi digitalisasi yang mempercepat penggantian manusia dalam berbagai tugas. “Kami merasa bahwa AI bisa menjadi peluang sekaligus ancaman bagi pekerjaan, terutama di sektor yang berbasis data,” tambahnya.
“Dalam beberapa tahun terakhir, AI sudah mulai mengubah cara kita bekerja, mulai dari bidang kreatif hingga keuangan. Pekerjaan yang sebelumnya membutuhkan tenaga manusia kini bisa diakuisisi oleh algoritma, termasuk tugas yang dianggap sebagai pekerjaan masa depan seperti data scientist,” ujar Erick.
Perubahan Struktur Pekerjaan
Menurut Erick Thohir, AI tidak hanya memengaruhi jumlah pekerja, tetapi juga jenis pekerjaan yang ada. Ia mencontohkan industri film, di mana sistem AI mampu menghasilkan 470 buah film dalam sehari. “Ini menunjukkan bahwa pekerjaan manual dan kreatif bisa tergantikan secara cepat, sehingga pemuda harus siap beradaptasi dengan perubahan ini,” jelasnya. Ia menambahkan bahwa perusahaan besar seperti Open AI dan Meta sudah mengalihkan sebagian tugas teknis ke sistem otomatis, termasuk pekerjaan yang sebelumnya dianggap memerlukan keahlian tinggi.
“Di bidang akuntansi, analisis data yang dulu membutuhkan tim profesional kini bisa dilakukan secara otomatis. Namun, ini juga menciptakan kebutuhan akan keterampilan baru, seperti pengoperasian AI dan kecerdasan emosional,” lanjut Erick. Menurutnya, penggantian pekerjaan oleh AI adalah bagian dari evolusi industri, bukan akhir dari pekerjaan manusia.
Erick Thohir juga menyebut bahwa pergeseran ini memengaruhi kebutuhan pendidikan dan pelatihan. Ia menekankan bahwa pemuda harus mempersiapkan diri dengan mempelajari teknologi dan mengembangkan keterampilan yang tidak bisa digantikan oleh mesin. “Dengan AI, manusia tidak lagi terbatas pada tugas rutin. Mereka harus fokus pada kreativitas, pengambilan keputusan, dan kemampuan berinteraksi dengan manusia,” terang Erick.
“Penggunaan AI di dunia kerja tidak bisa dihindari. Jika kita tidak segera beradaptasi, banyak pekerjaan yang bisa hilang, terutama di sektor-sektor yang sudah terdigitalisasi. Pemuda harus memahami bahwa AI adalah bagian dari lingkungan kerja yang mereka hadapi,” tegas Erick.
Di sisi lain, Erick Thohir mengajak pemerintah dan lembaga pendidikan untuk berkolaborasi dalam mempersiapkan generasi muda. Ia menyarankan adanya pelatihan di bidang teknologi, manajemen proyek, dan kemampuan berpikir kritis. “Pengembangan program seperti Youth Camp dan magang harus disesuaikan dengan kebutuhan pasar kerja yang berubah. Topics Covered juga mencakup bagaimana AI bisa menciptakan peluang baru, seperti pekerjaan di bidang pengembangan algoritma atau pemantauan sistem otomatis,” tambahnya.
Analisis Erick Thohir menunjukkan bahwa AI tidak hanya mengurangi pekerjaan, tetapi juga mengubah cara kerja dan keterampilan yang dibutuhkan. Ia meminta pemerintah untuk terus mengawasi dampak teknologi ini terhadap ekonomi dan mencari solusi agar pemuda tidak terlantar dalam perubahan struktur pekerjaan. “Topics Covered dalam diskusi ini adalah perubahan global yang harus diantisipasi sejak dini, agar kita bisa membangun sistem yang inklusif dan berkelanjutan,” pungkas Erick.
