Berita

Gas Metana Bekas Rawa Diduga Jadi Penyebab Rumah di Sleman 39 Kali Kebakaran

leh Gas Metana dari Bekas Rawa Gas Metana Bekas Rawa Diduga Jadi - Penyebab utama 39 kebakaran yang terjadi di Margomulyo, Seyegan, Sleman diduga terkait

Desk Berita
Published Mei 31, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Kebakaran Sleman Diduga Disebabkan oleh Gas Metana dari Bekas Rawa

Gas Metana Bekas Rawa Diduga Jadi – Penyebab utama 39 kebakaran yang terjadi di Margomulyo, Seyegan, Sleman diduga terkait dengan gas metana yang berasal dari bekas rawa. Tim peneliti dari Fakultas Teknologi Mineral dan Energi (FTME) Universitas Pembangunan Nasional (UPN) Jogja tengah menginvestigasi fenomena ini untuk memahami lebih jauh penyebab kebakaran yang terjadi secara berulang di wilayah tersebut. Dengan penelitian yang lebih mendalam, mereka berupaya mengidentifikasi pola migrasi gas dan risiko potensial bagi masyarakat sekitar.

Penemuan Gas di Bawah Jembatan dan Sebabnya

Dalam upaya penyelidikan, tim menemukan semburan gas yang terkonsentrasi di sejumlah rumah. Lokasi ini berada di dekat aliran sungai, sekitar 300 meter dari permukiman warga. “Akhirnya kami menemukan gelembung-gelembung gas yang menunjukkan kemungkinan besar itu adalah gas metana, CH4. Lokasinya berada tepat di bawah jembatan Jalan Nepen,” jelas salah satu anggota tim dilansir detikJogja, Minggu (31/5/2026).

Gas metana yang ditemukan dikaitkan dengan singkapan batuan berwarna gelap yang berada di daerah rawa. Batuan ini dianggap sebagai wadah penimbunan gas, yang kemudian bisa bocor ke permukaan. “Indikasi awal menunjukkan sumber gas ini memang dari bekas rawa. Ini bisa menjadi salah satu bukti kuat bahwa wilayah ini pernah menjadi daerah pertanian air,” tambahnya.

Proses Penyebaran Gas ke Permukiman

Tim peneliti juga menemukan jalur retakan atau patahan yang mengarah ke utara, diindikasikan sebagai saluran gas. “Ada indikasi jalur-jalur semacam patahan dan retakan yang bergerak ke arah utara, dan mungkin gas tersebut menyebar ke rumah Pak Agus,” kata dia. Dengan adanya jalur ini, gas metana bisa mencapai permukiman warga dan memicu kebakaran.

Gas yang ditemukan memiliki tekanan rendah, sehingga risiko bahaya relatif terkendali. Namun, karena sifatnya yang mudah terbakar, keberadaannya tetap menjadi perhatian. Tim akan terus memantau kondisi selama sekitar sebulan untuk memastikan tidak ada ancaman berkelanjutan.

Kondisi Sekitar dan Risiko Lingkungan

Wilayah Margomulyo dikenal memiliki sistem drainase alami yang baik. Namun, perubahan tata guna lahan akibat pembangunan permukiman di atas bekas rawa mungkin memicu gangguan pada aliran air dan akumulasi gas. “Karena rawa berubah fungsi, batuan yang sebelumnya tertutup air kini terbuka, sehingga gas bisa lebih mudah bergerak ke permukaan,” papar salah satu ahli geologi yang terlibat.

Dari hasil observasi, gas metana ini muncul secara sporadis, terutama saat ada perubahan kondisi cuaca seperti hujan atau suhu tinggi. Meski saat ini semburan gas dan api tidak lagi terjadi, tim tetap memperingatkan masyarakat untuk tetap waspada. “Kami menyarankan warga menghindari area yang terdampak, terutama saat memasak atau menggunakan alat elektronik,” imbuh peneliti.

Kemungkinan Penyebab dan Solusi Jangka Panjang

Dalam investigasi lanjutan, tim juga mengumpulkan data historis tentang kejadian serupa di area sekitar. Diperkirakan bahwa daerah bekas rawa memiliki risiko lebih tinggi karena lapisan tanah yang masih mengandung gas alam. “Area ini pernah menjadi rawa, jadi ada kemungkinan gas yang tersisa dari aktivitas alami di bawah permukaan,” jelas salah satu anggota tim.

Untuk mencegah kejadian serupa, pemerintah setempat berencana melakukan pengecekan lebih rinci terhadap lapisan tanah dan mengadakan sosialisasi kepada warga. “Selain itu, kami akan menginstal sistem deteksi gas di sekitar area rawa untuk memberi peringatan lebih dini,” tegas pihak terkait. Dengan langkah-langkah ini, diharapkan risiko kebakaran akibat gas metana bisa diminimalkan.

Berdasarkan data yang terkumpul, kebakaran pertama kali terjadi sekitar tahun 2022, dan sejak saat itu terus berulang. Fenomena ini menunjukkan bahwa gas metana dari bekas rawa masih bisa memicu kejadian serius, terutama jika tidak diatasi secara tepat. “Kami memperkirakan ada hubungan langsung antara perubahan topografi dan peningkatan risiko gas,” ujar salah satu ahli.

Leave a Comment