Berita

Cerita Berliana Korban Ditampar dan Ditendang Wanita di Jaklingko

erliana Korban Ditampar dan Ditendang Wanita di Jaklingko Cerita Berliana Korban Ditampar dan Ditendang menjadi perhatian publik setelah video kejadian

Desk Berita
Published Mei 23, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Cerita Berliana Korban Ditampar dan Ditendang Wanita di Jaklingko

Cerita Berliana Korban Ditampar dan Ditendang menjadi perhatian publik setelah video kejadian tersebut viral di berbagai platform media sosial. Insiden penganiayaan terjadi di dalam angkutan umum Jaklingko, tepatnya di rute 47 yang menghubungkan Lebak Bulus dan Cipulir. Berliana (27), seorang korban, mengungkap bahwa dirinya menjadi sasaran kekerasan oleh seorang wanita berinisial NS (30) yang duduk di bagian belakang pengemudi bus.

Detik-detik Pertengkaran di Bus

Korban menjelaskan bahwa NS mengemudi dari Bintaro ke Jakarta Selatan, dengan posisi duduk di sudut kiri belakang supir. Lokasi ini biasanya diisi oleh penumpang umum, tetapi NS tiba-tiba memulai aksi kekerasan tanpa ada tanda-tanda awal. “Awalnya dia hanya menumpang seperti biasa, meminta bantuan menapkan kartu pembayaran. Tapi tiba-tiba dia membentak penumpang lain, bahkan menendang saya saat saya berusaha menolongnya,” tutur Berliana.

Keterangan dari korban menunjukkan bahwa NS menunjukkan perubahan sikap drastis dari kondisi normal ke penganiayaan dalam waktu singkat. Peristiwa tersebut terjadi pada Kamis (21/5), di Jalan Raya Ulujami Raya, Pesanggrahan, Jakarta Selatan. Dalam situasi yang kritis, Berliana mengalami tiga hingga empat kali pukulan serta tendangan yang mengakibatkan rasa sakit di bagian wajah dan tubuh.

Proses Investigasi oleh Kapolsek

Kapolsek Pesanggrahan, Kompol Seala Syah Alam, memberikan penjelasan bahwa NS telah diamankan oleh polisi setelah insiden berlangsung. Menurut Kapolsek, NS baru saja keluar dari Rumah Sakit Jiwa (RSJ) kurang dari setahun yang lalu. “Terduga pelaku berinisial NS, usia 30 tahun, memang mengalami gangguan kejiwaan. Ia sebelumnya menjalani perawatan di RSJ dan kini dianggap cukup stabil untuk berinteraksi secara biasa,” jelas Seala.

Dalam penjelasan lebih lanjut, polisi menyebutkan bahwa NS tidak memiliki riwayat penganiayaan serupa sebelumnya. Namun, gangguan mental yang dialaminya memicu reaksi impulsif saat menumpang di bus. “Kami sedang memeriksa kembali kondisi kejiwaan NS untuk memastikan bahwa ia memang tidak berada dalam keadaan normal saat kejadian. Kita juga mengecek bukti-bukti dari rekaman video dan saksi mata,” tambah Kapolsek.

Rekaman Video sebagai Bukti Utama

Kejadian tersebut direkam oleh Berliana menggunakan ponselnya. Video pertama berdurasi sekitar 25 detik, kemudian ia merekam ulang dalam durasi 33 menit untuk menangkap aksi pelaku secara lebih rinci. Dalam video kedua, terlihat NS tiba-tiba menendang Berliana setelah menampar. “Aksi kekerasan terjadi dalam waktu yang sangat cepat. Saya sempat bingung, karena tidak ada pemberitahuan sebelumnya. Tapi saya cukup jelas menangkap setiap gerakannya,” kata Berliana.

Konten video viral tersebut menjadi bukti utama bagi polisi dalam mengungkap peristiwa keterlibatan NS. Para penumpang lain dalam bus juga terlihat terkejut dan menyaksikan aksi tak terduga dari NS. Video tersebut segera menarik perhatian banyak pihak, termasuk warga sekitar dan media online, yang membanjiri komentar serta permintaan klarifikasi lebih lanjut.

Kondisi Korban dan Dampak Insiden

Berliana mengatakan bahwa kondisinya saat ini masih dalam pemeriksaan medis di rumah sakit. Ia mengalami luka di wajah dan bagian tubuh yang cukup parah, meski belum ada konfirmasi resmi mengenai tingkat keparahan cedera. “Saya sedang berusaha bangkit, tapi perasaan takut dan cemas masih menghantui saya setiap kali naik kendaraan umum,” ujar Berliana.

Peristiwa kekerasan ini mengundang berbagai reaksi dari masyarakat, baik dukungan maupun kritik terhadap cara penanganan NS. Banyak warga menilai bahwa NS harus diberikan pengawasan lebih ketat, terutama setelah kembali dari RSJ. “Wanita itu sempat tampil tenang, tapi tiba-tiba menjadi sangat agresif. Ini menunjukkan bahwa gangguan kejiwaan bisa memicu reaksi tak terduga,” tutur seorang warga yang juga menonton video tersebut.

Analisis dan Tindak Lanjut

Pengungkapan mengenai Cerita Berliana Korban Ditampar dan Ditendang memberikan gambaran bahwa insiden ini bisa terjadi kapan saja, bahkan di tempat umum yang seharusnya aman. Polisi menekankan bahwa NS dikenai hukuman administratif dan sedang dalam proses penyelidikan lebih lanjut. “Kami juga akan mengumpulkan data dari saksi lain yang melihat kejadian tersebut, termasuk mengecek latar belakang NS,” ungkap Seala Syah Alam.

Sebagai bagian dari peningkatan kesadaran masyarakat, polisi menyarankan bahwa setiap orang yang mengalami gangguan kejiwaan harus dilibatkan dalam program rehabilitasi atau pelatihan interaksi sosial. “Cerita Berliana Korban Ditampar dan Ditendang menjadi contoh bagus bahwa kekerasan bisa terjadi meski dari individu yang terlihat normal, sehingga kita harus tetap waspada,” jelas Kapolsek.

Leave a Comment