Berita

Cerita Warga Medan Cari WiFi Buat Hubungi Keluarga Saat Listrik Padam

t Hubungi Keluarga Saat Listrik Padam Cerita Warga Medan Cari WiFi Buat - Selama beberapa jam di tengah kegelapan, warga Medan terpaksa bergerak cepat untuk

Desk Berita
Published Mei 23, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Cerita Warga Medan Cari WiFi Buat Hubungi Keluarga Saat Listrik Padam

Cerita Warga Medan Cari WiFi Buat – Selama beberapa jam di tengah kegelapan, warga Medan terpaksa bergerak cepat untuk menemukan sumber WiFi yang masih beroperasi. Berita ini muncul dari detikSumut, Jumat (22/5/2026), saat jaringan listrik di sejumlah jalan utama kota mati total. Penerangan jalan dan lampu lalu lintas di daerah seperti Jalan Balai Kota, Jalan Guru Patimpus, Jalan Gatot Subroto, Jalan Gajah Mada, hingga Jalan S.Parman lengkap hilang, memicu kekacauan dan ketidaknyamanan di sekitar kota. Situasi ini tidak hanya mengganggu aktivitas sehari-hari, tetapi juga mengubah cara warga berkomunikasi dan menjaga hubungan dengan keluarga.

Impak Kejadian pada Kehidupan Sehari-hari

Pascatindakan listrik padam, kehidupan masyarakat Medan terasa lebih berat. Banyak warga yang terjebak di rumah tanpa cahaya dan sinyal internet, terutama di area yang tidak memiliki cadangan listrik. Sebagai contoh, Risma, seorang ibu rumah tangga, mengalami kesulitan saat beribadah salat magrib di masjid. Meski gelap, ia tetap bisa melanjutkan salat karena suara imam terdengar jelas, tetapi setelah selesai, keterbatasan akses internet menjadi permasalahan utama.

“Saya lagi salat magrib di masjid tiba-tiba listrik padam. Solat dilakukan dalam kegelapan, tapi untung suara imam masih terdengar jadi bisa terus berjamaah,” ujar Risma.

Kesulitan ini membuat Risma terpaksa berjalan kaki ke berbagai tempat untuk mencari jaringan WiFi. Ia mengakui bahwa kondisi jaringan internet tiba-tiba hilang total, sehingga perlu mencari alternatif lain. “Saya keliling mencari jaringan WiFi agar bisa memastikan kondisi rumah. Jaringan tiba-tiba hilang total, jadi harus cari sumber lain,” katanya sambil menunjukkan kebingungan.

Upaya untuk Tetap Terhubung

Menghadapi tantangan ini, warga Medan menunjukkan inisiatif dan adaptasi tinggi. Banyak yang menggunakan generator mini sebagai sumber daya listrik sementara, sementara yang lain mengandalkan perangkat ponsel dengan baterai penuh untuk menjaga koneksi internet. Sejumlah toko elektronik dan kafe di kawasan perbelanjaan terpaksa menjadi pusat pernapasan bagi warga yang ingin tetap terhubung dengan keluarga.

Dalam situasi darurat, beberapa warga bahkan memanfaatkan keberadaan WiFi dari kendaraan bermotor yang masih bertenaga. Contohnya, seorang tukang becak mengaku menjual sinyal internet melalui perangkat yang ia bawa ke berbagai sudut kota. “Kalau ada yang mau nonton video atau mengirim pesan, saya bisa bantu sambil menunggu listrik kembali,” ujarnya sambil tersenyum.

Respons dari Pihak Terkait

Menyadari adanya kekacauan akibat kejadian listrik padam, pihak PLN dan pemerintah setempat berupaya memperbaiki layanan. Namun, hingga beberapa jam kemudian, kondisi listrik belum sepenuhnya stabil. Selama masa kepadaman, para pekerja teknis dan petugas darurat terus bergerak di berbagai titik kritis untuk memulihkan pasokan tenaga listrik. Pihak kecamatan juga memberikan bantuan kecil seperti pembagian lampu senter dan solar.

Banyak warga yang mengeluhkan ketidaknyamanan, tetapi juga bersyukur karena akses internet tetap bisa diakses melalui beberapa tempat. “Meski gelap, saya bisa tetap menghubungi anak yang sedang di luar kota, jadi rasa tidak sendirian,” ujar Ade, seorang pemuda yang mengaku menghabiskan waktu berjam-jam untuk menemukan WiFi di satu tempat. Kejadian ini justru memperlihatkan seberapa penting jaringan internet bagi kehidupan sehari-hari, terutama saat layanan listrik terganggu.

Perubahan Pola Komunikasi

Dengan adanya kejadian listrik padam ini, kebiasaan masyarakat Medan berubah sementara. Banyak yang beralih menggunakan media sosial sebagai alat komunikasi utama, sementara yang lain mengandalkan telepon seluler dengan baterai penuh. Kebutuhan untuk mencari WiFi memaksa warga memperluas jaringan sosial mereka, karena beberapa tempat menjadi titik perhentian untuk menyalurkan informasi.

Salah satu warga, Siti, mengaku lebih sadar tentang pentingnya membackup perangkat teknologi. “Saya sekarang selalu bawa power bank di tas, karena takut kalau listrik padam lagi,” katanya. Pada saat yang sama, ia juga menyarankan pemerintah untuk memperkuat jaringan internet di area rawan gangguan, agar warga tidak lagi terjebak dalam situasi seperti ini.

Keluhan dan Harapan Warga

Meski berusaha mencari solusi, beberapa warga tetap mengeluhkan dampak jangka panjang dari kejadian ini. Sistem kelistrikan yang rawan gangguan mengakibatkan beberapa keluarga kehilangan kontak untuk beberapa jam. “Pernah ada saat listrik padam selama lebih dari 12 jam, jadi harus belajar cara mengelola waktu dan energi,” ujar Ibu Neni, yang mengalami kekacauan saat berusaha mengirimkan pesan darurat kepada keponakan yang tinggal di luar kota.

Keluhan ini memicu diskusi di media sosial, di mana banyak warga Medan meminta kepastian dari penyedia layanan listrik. Dalam sejumlah komentar, mereka menyoroti kebutuhan akan stabilitas jaringan internet sebagai alat komunikasi dalam situasi darurat. “Jika listrik mati, harus ada backup untuk jaringan internet,” tulis seorang netizen. Harapan ini menjadi penting, karena kejadian serupa bisa terjadi kapan saja, tanpa pemberitahuan.

Baca selengkapnya di sini. (rfs/zap)

Leave a Comment