Kunjungan Trump ke China: Jalan Keluar Akhiri Perang?
Main Agenda – Kunjungan Trump ke China menjadi sorotan global sebagai langkah pertama sejak satu dekade terakhir. Dalam tengah kompleksitas negosiasi damai antara AS dan Iran, publik mulai memprediksi apakah kunjungan ini membawa solusi atau justru menggambarkan ketidakpuasan Trump terhadap keadaan yang tidak kunjung selesai.
Sejak Trump mengumumkan gencatan senjata dengan Iran pada 7 April 2026, hingga saat ini belum ada tanda-tanda konflik akan berakhir secara damai. Membicarakan proposal perdamaian antara kedua belah pihak masih terjebak dalam perdebatan tanpa kesepakatan. Kebuntuan makin memuncak ketika Iran menutup selat Hormuz, direspons AS dengan blokade laut yang memperparah ketegangan.
Strategi Trump: Mengandalkan China
Ketegangan antara AS dan Iran yang terus memanas menunjukkan ironi geopolitik bahwa kekuatan superpower bisa terjebak dalam konflik yang tak bisa diselesaikan sendiri. Dalam era politik global multipolar, Trump membutuhkan China sebagai mitra kritis untuk mendorong de-eskalasi konflik tersebut.
“China adalah kekuatan global abad 21 yang akan menggeser dominasi Barat, baik dalam ekonomi maupun politik,” tulis Martin Jaquez dalam bukunya When China Rules the World (2011).
Analisis Goldman Sachs dalam buku tersebut memproyeksikan China akan mengalahkan AS sebagai negara perekonomian terbesar dunia pada 2050. Saat ini, data tahun 2025 menunjukkan AS tetap menduduki posisi pertama dengan PDB sebesar 30,34 triliun dolar AS, sedangkan China berada di peringkat kedua dengan 19,53 triliun dolar AS. Pertumbuhan ekonomi China dalam beberapa dekade terakhir membuat Trump sadar bahwa keberlanjutan kebijakan AS tergantung pada kerja sama dengan negara tersebut.
Pengaruh China di Timur Tengah
China bukan hanya kekuatan ekonomi, tetapi juga aktor penting di Timur Tengah. Penandatanganan Joint Trilateral Statement pada 2023 di Beijing menunjukkan keberhasilannya memediasi hubungan Arab Saudi dan Iran yang memburuk sejak 2016. Kebuntuan ini mencerminkan kapasitas China dalam membangun konsensus di kawasan tersebut.
Di sisi lain, Iran sangat bergantung pada pasar China untuk menjaga pendapatan minyak. Selama periode pertama Trump (2018), sanksi ekonomi AS menyebabkan Iran harus menawarkan minyak dengan harga lebih rendah guna menarik pembeli global. Seiring waktu, lebih dari 80% ekspor minyak Iran mengalir ke China, memberi dampak ekonomi besar sekitar US$ 32,5 miliar atau setara Rp 549,3 triliun.
Kepentingan China untuk Stabilitas
Posisi strategis China terhadap pasokan minyak juga membuatnya punya kepentingan dalam mempertahankan stabilitas selat Hormuz. Dengan akses energi murah, China mendapat keuntungan ekonomi dan pengaruh politik yang meningkat. Karena itu, China justru bisa menjadi mitra lebih efektif dibanding AS, yang kesulitan mengendalikan Iran meski menggunakan pendekatan koersif.
Kunjungan Trump ke China dianggap sebagai upaya mencari titik temu untuk mengakhiri perang AS vs Iran. Dalam tekanan ekonomi dan politik dalam negeri, Trump membutuhkan negara ini sebagai penyeimbang kekuatan, agar AS tetap dianggap sebagai superpower yang mampu mengatur konflik internasional.
