Program Terbaru Bamsoet Ajak KBPP Polri Jadi Perekat Sosial di Tengah Tantangan Global
Latest Program – Dalam kondisi keamanan nasional yang relatif stabil di tahun 2025, Bamsoet menekankan bahwa program terbaru yang diusung oleh KBPP Polri menjadi penting dalam menghadapi dinamika sosial yang kompleks. Tantangan seperti kejahatan siber, radikalisme yang berkembang melalui ruang digital, serta konflik sosial akibat tekanan ekonomi global mengharuskan organisasi kemasyarakatan bersifat nasional untuk memainkan peran strategis dalam menjaga persatuan dan ketahanan bangsa.
KBPP Polri Sebagai Perekat Sosial
Bamsoet menyatakan bahwa KBPP Polri harus menjadi kekuatan yang mampu merawat harmoni antar komunitas dan memperkuat rasa kebangsaan masyarakat. Dalam dunia yang penuh ketidakpastian, konsistensi organisasi menjadi kunci untuk menjaga Indonesia tetap aman dan produktif. Ia menegaskan bahwa KBPP Polri bukan hanya sebagai alat pemerintah, tetapi juga sebagai wadah kegiatan sipil yang membentuk keharmonisan sosial.
“KBPP Polri harus tampil sebagai penjaga keharmonisan yang mampu merawat persatuan, memperkuat ketahanan masyarakat, serta menjadi jembatan antara rakyat dengan institusi negara,” ujar Bamsoet dalam keterangan persnya, Jumat (15/5/2026).
Program terbaru ini berfokus pada penguatan kehadiran KBPP di tengah masyarakat, terutama melalui pemberdayaan generasi muda. Bamsoet menjelaskan bahwa kehadiran KBPP harus bersifat aktif dan menyentuh, dengan pendekatan yang lebih holistik. Dengan demikian, KBPP tidak hanya menghadapi ancaman dari luar, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mencegah kemungkinan polarisasi di dalam masyarakat.
Tantangan Global dalam Keamanan Nasional
Menurut Bamsoet, keamanan nasional saat ini menghadapi ancaman yang tidak hanya fisik, tetapi juga ideologis. Perkembangan teknologi digital memungkinkan radikalisme menyebar dengan cepat, bahkan di kalangan generasi muda yang rentan terhadap pengaruh luar. Ia menyoroti bahwa KBPP Polri perlu meningkatkan keterlibatan langsung dalam berbagai isu sosial, termasuk penyebaran hoaks dan tindakan premanisme yang mengganggu kehidupan sosial.
Data dari Polri menunjukkan bahwa jumlah kasus kejahatan yang ditangani oleh aparat kepolisian pada 2025 mencapai lebih dari 325 ribu, dengan penyelesaian perkara sebesar 76,22 persen. Densus 88 juga berhasil mempertahankan catatan nol serangan teroris selama tiga tahun berturut-turut, berkat pendekatan pencegahan yang efektif. Program terbaru KBPP Polri diharapkan bisa melanjutkan kerja-kerja ini dengan menyasar lebih luas.
Strategi Penguatan Peran KBPP
Bamsoet menambahkan bahwa tanggung jawab keamanan nasional tidak hanya menjadi tugas lembaga negara, tetapi juga memerlukan partisipasi aktif dari masyarakat sipil. KBPP Polri, sebagai organisasi yang berasal dari tradisi pengabdian dan disiplin, memiliki posisi unik untuk memperkuat sistem keamanan nasional. Ia berharap program terbaru bisa menjadi model bagi organisasi-organisasi lain dalam membangun sinergi antara institusi dan masyarakat.
“Anak muda harus diarahkan ke gerakan kebangsaan yang konkret. KBPP Polri perlu hadir secara aktif di tengah masyarakat melalui pendidikan karakter, literasi digital, serta penguatan wawasan kebangsaan,” tutur Bamsoet dalam pembukaan Munas VI KBPP Polri di Jakarta.
Menurut Bamsoet, program terbaru ini juga akan memperkuat kerja sama antara KBPP Polri dan berbagai pihak. Contoh seperti peristiwa pengamanan nasional di beberapa wilayah menunjukkan bahwa sinergi antara aparat keamanan dan elemen masyarakat bisa mencegah konflik sosial menjadi gangguan keamanan yang lebih besar. Ia menekankan bahwa KBPP Polri perlu menjadi perekat sosial yang bisa mengatasi polarisasi yang terjadi di tengah persaingan politik dan tekanan ekonomi global.