Key Strategy: Adaptasi Nilai Pancasila di Era Digital
Key Strategy – Dalam rangka menghadapi tantangan zaman digital, Ketua Fraksi Golkar di DPR, M Sarmuji, mengajak generasi muda Indonesia untuk tidak hanya menghafal teori Pancasila, tetapi juga mengimplementasikan nilai-nilai tersebut secara aktif dalam kehidupan sehari-hari. Menurut Sarmuji, adaptasi Pancasila di era digital adalah Key Strategy yang kritis untuk memastikan nilai-nilai luhur bangsa tetap relevan dan menjadi fondasi kehidupan sosial, politik, dan ekonomi. “Kita harus menyadari bahwa Pancasila bukan sekadar simbol, tetapi landasan untuk menghadapi perubahan yang begitu cepat,” katanya dalam seminar wawasan kebangsaan yang diadakan di UPNVJ, Selasa (14/7/2026).
Menumbuhkan Makna Pancasila di Kalangan Mahasiswa
Sarmuji menekankan bahwa Pancasila, sebagai dasar negara, harus terus diperluas maknanya melalui Key Strategy yang lebih kontemporer. Dalam sesi diskusi, ia menyampaikan bahwa nilai-nilai Pancasila tidak boleh hanya menjadi bacaan di kelas, tetapi harus menjadi pedoman praktis dalam tindakan nyata. “Mahasiswa adalah agen perubahan, dan mereka harus menjadi pionir dalam menyebarluaskan nilai Pancasila melalui media dan teknologi modern,” ujar Sarmuji, yang juga menyoroti peran lembaga pendidikan dalam membentuk generasi yang kritis dan berwawasan.
Konteks digital mempercepat transmisi informasi, tetapi juga menghadirkan risiko terhadap pemahaman nilai-nilai tradisional. Sarmuji mengatakan, tantangan utama adalah memastikan bahwa generasi muda tidak kehilangan makna Pancasila karena pengaruh budaya global dan konten digital yang sering kali lebih menarik. “Kita perlu menemukan Key Strategy yang memadukan kecerdasan buatan dan teknologi dengan kearifan lokal agar Pancasila tetap hidup di tengah kehidupan digital,” jelasnya.
Kemitraan untuk Mengaktifkan Pancasila di Era Digital
Mengenai upaya konkret, Sarmuji mengusulkan kerja sama antara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dengan berbagai institusi, termasuk media, teknologi, dan seni, untuk menciptakan ekosistem kreatif yang mendukung Key Strategy adaptasi Pancasila. “BPIP harus menjadi penggerak, sementara lembaga lainnya bertindak sebagai mitra dalam menyebarkan nilai-nilai Pancasila melalui konten yang menarik,” tambahnya. Ia juga menyoroti perlunya pembuatan konten digital yang relevan, seperti video edukasi, podcast, atau game interaktif, agar nilai-nilai Pancasila bisa diterima dengan lebih luas.
Dalam seminar tersebut, Sarmuji juga membandingkan metode pendidikan Pancasila tradisional dengan pendekatan digital. “Kemarin, nilai Pancasila disampaikan melalui dongeng, tembang, dan wayang. Kini, kita harus menemukan cara baru, seperti memanfaatkan media sosial dan platform digital untuk menyampaikan pesan yang sama,” ujarnya. Menurutnya, Key Strategy ini adalah bagian dari upaya menghidupkan Pancasila di tengah dinamika sosial yang terus berubah. “Yang terpenting adalah bagaimana kita memastikan nilai-nilai Pancasila tidak hanya dipahami, tetapi juga diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” katanya.
Sarmuji juga menyoroti peran media sosial dalam memperkuat nilai-nilai Pancasila. “Platform digital bisa menjadi sarana penting untuk menumbuhkan rasa nasionalisme, aspek keadilan, dan kebersamaan di kalangan masyarakat,” ungkapnya. Ia menambahkan, keberhasilan Key Strategy ini tergantung pada kolaborasi antara pemerintah, lembaga pendidikan, dan masyarakat. “Kita harus membuat kesadaran bahwa Pancasila bukan hanya untuk masa lalu, tetapi untuk masa depan bangsa Indonesia,” pungkasnya.
Dalam kesempatan itu, Sarmuji juga menyinggung keterlibatan aktif pemuda dan mahasiswa dalam memperkuat Key Strategy adaptasi Pancasila. “Mereka harus menjadi bagian dari solusi, bukan sekadar sasaran,” katanya. Ia mencontohkan bagaimana inisiatif kecil, seperti membuat konten viral atau berpartisipasi dalam diskusi daring, bisa menjadi alat untuk menyebarluaskan nilai-nilai Pancasila secara efektif. “Menggali nilai dari tradisi lokal dan mengemasnya dalam bentuk yang modern adalah Key Strategy yang perlu diutamakan,” jelasnya.
Seminar wawasan kebangsaan ini dihadiri oleh Sekretaris Fraksi Partai Golkar MPR RI, Ferdiansyah, serta Rektor UPNVJ, Anter Venus. Hadir pula sejumlah mahasiswa yang turut serta dalam diskusi ini, menunjukkan pentingnya partisipasi generasi muda dalam Key Strategy adaptasi Pancasila. Dengan memanfaatkan platform digital dan kreativitas lokal, Sarmuji yakin bahwa Pancasila bisa tetap menjadi pilar kebangsaan yang kuat, meski di tengah transformasi teknologi yang tak terhindarkan.
