Internasional

New Policy: Survei Global Sebut Israel Jadi Negara Paling Tidak Disukai di Dunia

sapproval List New Policy - Hasil survei terbaru yang diluncurkan oleh Nira Data, mengungkapkan bahwa Israel menduduki posisi teratas dalam daftar

Desk Internasional
Published Mei 14, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

New Policy Pushes Israel to Top of Global Disapproval List

New Policy – Hasil survei terbaru yang diluncurkan oleh Nira Data, mengungkapkan bahwa Israel menduduki posisi teratas dalam daftar negara-negara yang paling tidak disukai secara global. Survei ini, yang dilakukan pada Mei 2026, menunjukkan bahwa negara ini menjadi target kritik utama karena kebijakan baru yang diterapkan selama beberapa bulan terakhir. New Policy, khususnya keputusan militer dan politik Israel terhadap Jalur Gaza, terbukti memengaruhi persepsi internasional secara signifikan.

Global Persepsi dan Dampak New Policy

Dalam survei yang melibatkan 46.667 responden dari 129 negara, Israel mengalami penurunan drastis dibandingkan tahun sebelumnya. Negara-negara seperti Korea Utara, Afghanistan, dan Iran hanya berada di posisi kedua, ketiga, dan keempat. New Policy yang melibatkan peningkatan serangan terhadap warga sipil dan kebijakan yang memicu kelaparan di Jalur Gaza menjadi faktor utama. Tepi Barat yang diduduki juga menjadi sumber kekhawatiran akibat terus meningkatnya kekerasan.

“New Policy ini memperparah ketegangan antara Israel dengan dunia internasional,”

kata Nira Data dalam laporan mereka. Survei ini juga mencerminkan ketidakpuasan publik terhadap kebijakan militer yang terus berlanjut, termasuk serangan terhadap rumah sakit dan fasilitas pendidikan di Gaza.

Survei Global dan Indeks Persepsi Demokrasi

Survei ini dirilis bersamaan dengan Indeks Persepsi Demokrasi tahun 2026, yang menjangkau 94.146 responden di 98 negara. Hasil kedua survei tersebut menegaskan bahwa Indonesia, Swiss, dan Jepang tetap menjadi negara-negara yang paling disukai. Sementara itu, New Policy di Israel menjadi pemicu utama penurunan citra negara tersebut, terutama karena klaim genosida yang dibuat oleh lembaga hak asasi manusia dan PBB.

Menurut Nira Data, kebijakan baru yang diterapkan Israel selama 2026, termasuk penggunaan senjata yang mematikan dan penggusuran tanah di wilayah Palestina, telah menciptakan gelombang protes internasional. Konflik yang terus berlanjut sejak Oktober 2023 menjadi bahan pembicaraan utama dalam laporan survei ini. Selain itu, New Policy juga memicu kecaman terhadap kebijakan perdagangan dan hubungan diplomatik negara tersebut.

Peran New Policy dalam Isolasi Internasional

Survei ini memberikan wawasan bahwa New Policy di Israel telah memperkuat isolasi negara tersebut di kancah internasional. Ratusan organisasi dan lembaga seperti UNICEF, Amnesty International, serta media massa global mengkritik keputusan Israel terkait kebijakan militer dan politik mereka. Masyarakat internasional, khususnya di Eropa dan Asia, semakin skeptis terhadap kebijakan New Policy yang dianggap melanggar prinsip hukum internasional.

Dalam konteks kebijakan luar negeri, New Policy juga memicu ketegangan dengan negara-negara Arab dan organisasi seperti Liga Arab. Penurunan popularitas Israel tidak hanya terjadi di wilayah Timur Tengah, tetapi juga di berbagai belahan dunia. Perubahan sikap publik ini mencerminkan kritik terhadap tindakan militer yang dianggap tidak proporsional dan penggunaan kekuasaan yang memperparah situasi kemanusiaan.

Perbandingan dengan Negara-Negara Lain

Dibandingkan dengan negara-negara seperti Amerika Serikat dan Rusia, Israel berada di posisi terbawah dalam hal persetujuan internasional. Meski AS juga mengalami penurunan, New Policy di Israel menunjukkan penurunan yang lebih tajam. Survei menunjukkan bahwa negara-negara seperti China dan Rusia lebih disukai daripada Tel Aviv, karena kebijakan mereka dianggap lebih stabil dalam membangun hubungan diplomatik.

Selain itu, New Policy di Israel juga menjadi sorotan dalam konteks pertahanan hak asasi manusia. Kritik terhadap kebijakan negara tersebut semakin tajam karena dampaknya terhadap jumlah korban tewas dan luka-luka, serta pengungsian massal. Penelitian lebih lanjut menunjukkan bahwa tindakan militer Israel memperparah krisis kemanusiaan di Jalur Gaza, yang menjadi bagian penting dari New Policy ini.

Hasil survei ini mengingatkan bahwa New Policy tidak hanya memengaruhi hubungan bilateral, tetapi juga menciptakan ketidakpuasan terhadap citra global negara. Meski beberapa negara tetap mendukung Israel, jumlah responden yang memberikan penilaian negatif meningkat drastis, menunjukkan perubahan mendasar dalam persepsi dunia terhadap kebijakan New Policy yang dijalankan. Survei ini menjadi bukti bahwa kebijakan luar negeri yang tidak seimbang dapat menimbulkan efek jangka panjang pada reputasi sebuah negara.

Leave a Comment