Internasional

10 Ribu Lebih Rumah di Lebanon Hancur Sejak Gencatan Senjata dengan Israel

10 Ribu Lebih Rumah di Lebanon Hancur Sejak Gencatan Senjata dengan Israel 10 Ribu Lebih Rumah di Lebanon - Dalam perang antara Lebanon dan Israel yang

Desk Internasional
Published Mei 14, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

10 Ribu Lebih Rumah di Lebanon Hancur Sejak Gencatan Senjata dengan Israel

10 Ribu Lebih Rumah di Lebanon – Dalam perang antara Lebanon dan Israel yang terjadi sejak 17 April, jumlah rumah yang hancur di Lebanon terus meningkat, mencapai lebih dari 10 ribu unit hingga akhir Mei 2026. Sebuah laporan terkini dari CRNS, lembaga pemantau perang yang bekerja sama dengan pemerintah Lebanon, menunjukkan bahwa kerusakan terparah terjadi di daerah-daerah yang dekat dengan garis perbatasan, dengan sekitar 5.386 rumah mengalami kerusakan total dan 5.246 rumah lainnya rusak sebagian. Angka ini menggambarkan dampak luas dari serangan udara Israel yang terus berlangsung meski gencatan senjata telah ditandatangani. Bahkan, setelah tiga bulan konflik, pemerintah Lebanon masih melaporkan bahwa 10 ribu lebih rumah di negara ini menjadi korban serangan.

“CRNS melaporkan bahwa hingga saat ini telah tercatat 5.386 unit rumah yang hancur total, dan 5.246 unit rumah yang rusak,” ujar Chadi Abdallah, kepala organisasi tersebut, dalam konferensi pers yang dilaporkan media lokal dan disiarkan AFP, Kamis (14/5/2026).

Konteks Perang dan Zona Operasional

Perang yang memicu kerusakan massif tersebut dimulai setelah serangan Israel ke wilayah Lebanon pada 17 April, sebagai respons atas serangan rudal yang diduga dilakukan oleh grup gerilya Hizbollah. Zona operasional yang ditetapkan oleh Israel, dikenal sebagai “garis kuning,” mencakup wilayah sekitar 10 kilometer di utara perbatasan Lebanon-Israel. Wilayah ini menjadi sasaran utama serangan udara, menyebabkan kerusakan pada infrastruktur sipil, termasuk rumah-rumah penduduk sipil yang banyak terletak di dekat jalur perbatasan.

Menurut laporan dari AFP, Rabu (13/5), Kementerian Kesehatan Lebanon menyebutkan bahwa serangan udara telah menewaskan 13 korban, terdiri dari satu anggota militer, satu anak kecil, dan dua petugas pemadam kebakaran. Angka ini menunjukkan bahwa dampak serangan tidak hanya terbatas pada kerusakan fisik, tetapi juga menimbulkan korban jiwa yang signifikan. Pemerintah Lebanon terus berupaya untuk mengumpulkan data lengkap mengenai jumlah rumah yang hancur, tetapi beberapa wilayah masih terisolasi karena keterbatasan akses.

Kerusakan di Wilayah Nabatieh dan Jebchit

Dalam serangan terpisah di kota Nabatieh, 5 warga sipil tewas, termasuk dua petugas penyelamat Pertahanan Sipil. Wilayah ini terkena dampak paling parah karena serangan yang dilakukan Israel sepanjang minggu lalu. AFP mencatat, jumlah korban jiwa tersebut dilaporkan oleh kementerian kesehatan, yang menekankan bahwa kekerasan berlangsung di luar kota-kota besar dan melibatkan area pedesaan yang kurang dilindungi.

Di Jebchit, serangan udara juga menyebabkan kematian empat warga sipil, termasuk seorang tentara dan warga negara Suriah. Informasi ini didapat dari sumber resmi Lebanon, yang menyatakan bahwa Jebchit menjadi lokasi utama konflik selama beberapa hari terakhir. Daerah ini terkena serangan berulang, mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur dan kehidupan sehari-hari warga setempat. Meski gencatan senjata telah diumumkan, situasi di Lebanon tetap memicu kekhawatiran mengenai jumlah rumah yang hancur dan kebutuhan bantuan darurat.

Perang di Bint Jbeil dan Sumber Daya Penduduk

Perang antara Lebanon dan Israel juga menimbulkan dampak besar di Bint Jbeil, wilayah yang menjadi pusat perjuangan sejak awal konflik. Kementerian Kesehatan mencatat bahwa empat warga sipil tewas di sana, di antaranya seorang anak dan seorang perempuan. Angka ini menunjukkan bahwa daerah yang awalnya dianggap relatif aman kini menjadi zona perang yang rentan. Dengan 10 ribu lebih rumah yang hancur, banyak penduduk terpaksa berpindah ke daerah lain, menyebabkan krisis pengungsian yang memburuk.

Di sisi lain, pemerintah Lebanon memperkirakan bahwa jumlah rumah yang hancur bisa mencapai 12 ribu unit pada akhir musim panas. Dengan tingkat kerusakan yang terus meningkat, perlu adanya koordinasi internasional untuk menangani kebutuhan masyarakat yang terdampak. Banyak penduduk mengeluhkan bahwa mereka tidak memiliki akses ke bantuan pangan dan air, meski pemerintah sudah mengalokasikan dana darurat.

Peluang Rekonstruksi dan Pengaruh Global

Kerusakan yang terjadi di Lebanon selama perang ini tidak hanya mengguncang penduduk lokal, tetapi juga menarik perhatian internasional. Pihak-pihak seperti PBB dan organisasi kemanusiaan sedang mengupayakan intervensi untuk membantu rekonstruksi rumah-rumah yang hancur. Namun, proyek tersebut masih menghadapi tantangan, termasuk konflik kepentingan antara Lebanon dan Israel, serta kesulitan mengakses wilayah yang terkena serangan.

Angka 10 ribu lebih rumah di Lebanon yang hancur menjadi indikator seriusnya dampak perang. Banyak daerah yang kini hancur dulu menjadi pusat ekonomi atau tempat tinggal masyarakat. Jumlah ini juga menyoroti kebutuhan Lebanon untuk mempercepat pemulihan infrastruktur, sementara pemerintah mencoba menyeimbangkan antara keamanan dan kesejahteraan penduduk. Seiring berjalannya waktu, kerusakan yang terjadi semakin menjadi sorotan dalam diskusi mengenai konflik berkepanjangan antara kedua negara.

Dalam upaya untuk mempercepat proses pemulihan, beberapa organisasi internasional mulai memberikan bantuan darurat. Namun, hambatan utama tetap ada karena ketidakpastian tentang masa depan gencatan senjata. Pemulihan rumah-rumah yang hancur di Lebanon akan memakan waktu lama, terutama jika konflik terus berlanjut. Angka 10 ribu lebih rumah yang hancur menjadi bukti bahwa perang ini tidak hanya mengubah kehidupan penduduk, tetapi juga mengubah landscape wilayah tersebut secara permanen.

Leave a Comment