Internasional

Pemilu Israel Memanas, Netanyahu Tuduh Warga Arab Hendak Curi Suara

billboard-di-israel-menampilkan-netanyahu-dan-penantang-utamanya-dalam-pemilu-gadi-eisenkot-1793098921568_169

Wahanaberita.com – Pemilu Israel Memanas Netanyahu Tuduh warga Arab Israel berupaya “mencuri pemilu” ketika persaingan politik semakin ketat. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu meminta para pendukungnya segera mendatangi tempat pemungutan suara dan memilih Partai Likud, bahkan mengimbau mereka menunda kegiatan santai demi menggunakan hak pilih.

Dalam pemilu pertama yang berlangsung setelah serangan Hamas pada 7 Oktober 2023, isu keamanan, perang, dan masa depan pemerintahan menjadi perhatian utama. Netanyahu menghadapi persaingan sengit dengan tokoh politik berhaluan tengah, Gadi Eisenkot, di tengah tingginya partisipasi warga.

Netanyahu Serukan Pendukung Likud Datang ke TPS

Dilansir AFP, Rabu (28/10/2026), Netanyahu menyampaikan seruan kepada pendukungnya ketika waktu pemungutan suara mendekati penutupan. Ia meminta agar TPS tetap dibuka melewati jadwal penutupan pukul 22.00 waktu setempat.

Seruan tersebut disertai tudingan terhadap warga Arab Israel. Dalam situasi ketika Pemilu Israel Memanas Netanyahu Tuduh kelompok Arab dan kubu kiri berusaha memengaruhi hasil akhir, pernyataan itu memicu kritik dari kalangan minoritas Arab yang menilainya sebagai bentuk intimidasi politik.

“Kita tidak bisa membiarkan pertarungan ini berakhir di tangan kelompok kiri dan partai-partai Arab yang ingin mengakhiri negara Yahudi,” kata Netanyahu kepada para pendukungnya di wilayah basis Partai Likud.

Ia juga menyampaikan ajakan yang lebih langsung kepada pemilihnya. Netanyahu meminta para pendukungnya untuk meninggalkan agenda rekreasi dan menuju TPS demi memberikan suara untuk Likud.

“Jadi, jangan ada acara barbeku, jangan pergi ke pantai. Pergilah ke TPS dan pilih Likud,” imbuhnya.

Komite Pemilihan Umum Israel mencatat partisipasi pemilih nasional mencapai 66,7 persen hingga pukul 18.00 waktu setempat. Angka tersebut menjadi tingkat partisipasi tertinggi pada jam yang sama sejak statistik serupa mulai dicatat pada 1973.

Pemilu Digelar di Tengah Bayang-bayang Konflik

Pemilu ini berlangsung ketika masyarakat Israel masih merasakan dampak serangan 7 Oktober 2023 dan perang regional yang terjadi setelahnya. Trauma atas serangan tersebut tetap kuat, sementara pertanyaan mengenai keamanan nasional dan tanggung jawab pemerintah mendominasi perdebatan selama kampanye.

Israel juga menghadapi tekanan internasional yang semakin besar. Tekanan itu berkaitan dengan perang di Iran, operasi militer yang menghancurkan di Jalur Gaza, perluasan permukiman Israel, serta kekerasan di Tepi Barat yang diduduki.

Dalam konteks ini, isu pemilu tidak hanya berkisar pada perebutan kursi kekuasaan. Warga juga menilai arah kebijakan pemerintah terhadap perang, keamanan, hubungan internasional, dan kondisi politik dalam negeri. Ketegangan tersebut membuat setiap seruan kepada pemilih menjadi perhatian besar.

Persaingan Netanyahu dan Gadi Eisenkot

Jajak pendapat terakhir yang dipublikasikan sebelum pemungutan suara memperlihatkan Netanyahu bersaing ketat dengan Gadi Eisenkot. Netanyahu merupakan perdana menteri terlama dalam sejarah Israel, sedangkan Eisenkot dikenal sebagai tokoh sentris yang sebelumnya menjabat kepala militer Israel.

Gaya politik Eisenkot yang dinilai lebih tenang menjadi kontras dengan Netanyahu, yang telah lama menjadi figur dominan dalam politik Israel. Perbedaan pendekatan keduanya terlihat jelas ketika situasi pemilu memasuki fase penentuan.

Partai Yashar pimpinan Eisenkot memperingatkan bahwa Netanyahu sedang “menyiapkan landasan untuk menggugat hasil pemilu”. Partai tersebut juga menolak permintaan untuk memperpanjang waktu pemungutan suara karena tidak melihat adanya “insiden luar biasa” yang dapat membenarkannya.

Sebelum memberikan suara, Eisenkot yang berusia 66 tahun mengunjungi makam putranya, Gal, secara tertutup. Gal tewas saat bertempur di Gaza, dan peristiwa tersebut menimbulkan simpati luas di kalangan warga Israel.

Setelah kunjungan itu, Eisenkot mengajak masyarakat untuk memakai hak pilih mereka guna mengganti pemerintahan Netanyahu. Ia menyebut pemerintahan yang dipimpin rivalnya sebagai “pemerintahan terburuk sejak negara ini didirikan”.

Pernyataan Netanyahu Jadi Sorotan

Ketika Pemilu Israel Memanas Netanyahu Tuduh warga Arab hendak mencuri suara, pernyataan itu menambah panas suasana politik menjelang penghitungan hasil. Tuduhan tersebut muncul bersamaan dengan desakan Netanyahu agar TPS tetap dibuka lebih lama, sebuah permintaan yang ditolak oleh kubu lawan.

Persaingan ketat antara Netanyahu dan Eisenkot membuat hasil pemilu menjadi sangat penting bagi arah pemerintahan Israel berikutnya. Tingginya partisipasi pemilih menunjukkan besarnya perhatian publik terhadap pemilu yang berlangsung di tengah konflik dan tekanan politik yang luas.

FAQ Pemilu Israel

Mengapa pemilu Israel kali ini menjadi perhatian besar?

Pemilu berlangsung setelah serangan 7 Oktober 2023 dan konflik regional yang menyusul. Karena itu, keamanan, perang, serta pertanggungjawaban pemerintah menjadi isu utama bagi pemilih.

Siapa rival utama Benjamin Netanyahu dalam pemilu ini?

Rival utama Netanyahu adalah Gadi Eisenkot, tokoh politik berhaluan tengah yang sebelumnya menjabat sebagai kepala militer Israel dan memimpin Partai Yashar.

Berapa tingkat partisipasi pemilih yang tercatat?

Hingga pukul 18.00 waktu setempat, partisipasi pemilih mencapai 66,7 persen. Angka itu disebut sebagai yang tertinggi pada jam tersebut sejak pencatatan statistik dimulai pada 1973.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *