Berita

Pramono Ungkap Gerakan Pilah Sampah Jakarta Capai 23,14%

Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, baru-baru ini menyatakan bahwa gerakan pilah sampah di ibu kota telah mencapai level yang signifikan, yakni 23,14 persen

Desk Berita
Published Agustus 10, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments
gubernur-dki-jakarta-pramono-anung-1786344109705_169
Foto : Jennifer Jackson - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Pramono Ungkap Gerakan Pilah Sampah di Jakarta Capai 23,14 Persen
  2. Related Reading

Pramono Ungkap Gerakan Pilah Sampah di Jakarta Capai 23,14 Persen

Wahanaberita.com – Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, baru-baru ini menyatakan bahwa gerakan pilah sampah di ibu kota telah mencapai level yang signifikan, yakni 23,14 persen. Pencapaian ini merupakan hasil dari berbagai upaya yang dilakukan pemerintah provinsi bersama masyarakat dalam meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemilahan limbah sejak dari rumah tangga. Program ini kini telah merambah hingga ke tingkat rukun tetangga dan rukun warga, menunjukkan bahwa inisiatif tersebut benar-benar telah menjadi gerakan massal.

Pernyataan tersebut diungkapkan Pramono saat menghadiri acara peresmian perlindungan sosial untuk sektor informal di bidang persampahan. Acara berlangsung di fasilitas RDF Rorotan, Jakarta Utara, pada Senin (10/8/2026). Kehadiran Pramono dalam acara ini sekaligus menjadi momen penting untuk menyampaikan perkembangan terbaru terkait pengelolaan sampah di Jakarta.

Transformasi Pola Pengelolaan Limbah

Pramono menegaskan bahwa pemerintah provinsi terus mendorong transformasi dalam cara menangani limbah. Ia menjelaskan bahwa inisiatif ini awalnya sempat dipandang sinis oleh banyak pihak, namun kini telah berkembang pesat. Masyarakat yang sebelumnya mungkin masih ragu, kini mulai aktif memilah sampah berdasarkan jenisnya sebelum dibuang.

“Gerakan pilah sampah di Jakarta yang awalnya mungkin orang masih pesimis, sekarang ini sudah menjadi gerakan yang sampai dengan tingkat RT/RW,” kata Pramono.

Sebagai gubernur, ia secara rutin meminta update mengenai perkembangan penanganan limbah, termasuk capaian pemilahan sampah. Menurutnya, karena hal ini telah menjadi gerakan massal, antusiasme masyarakat meningkat di berbagai wilayah. Hal ini juga didukung oleh adanya fasilitas yang semakin lengkap untuk mendukung proses pemilahan.

“Dan karena ini sudah menjadi gerakan, saya yakin di mana-mana sekarang sudah bergemuruh untuk itu. Sampai dengan bulan Agustus awal, pilah sampah di Jakarta sudah 23,14%,” lanjutnya.

Reformasi TPST Bantargebang Menuju Zero Dumping

Salah satu langkah konkret dalam perubahan pola pengelolaan adalah penyesuaian di Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang. Mulai 1 Agustus 2026, lokasi tersebut secara bertahap hanya menerima sampah residu. Kebijakan ini merupakan bagian dari pergeseran paradigma pengelolaan sampah Jakarta. Sebelumnya, sistem yang diterapkan adalah “angkut buang” di mana limbah ditimbun di Bantargebang. Kini, pendekatan berubah menjadi “pilah angkut olah”.

“Mulai 1 Agustus kemarin, Bantargebang hanya menerima sampah residu secara bertahap,” kata Pramono.

“Kalau dulu angkut buang, ditimbun di Bantargebang, sekarang menjadi pilah angkut olah,” ujarnya.

Pramono menargetkan capaian 100 persen dalam pengelolaan sampah Jakarta pada tahun 2028. Dengan tercapainya target tersebut, volume pembuangan ke Bantargebang dapat ditekan secara signifikan menuju konsep zero dumping. Target ini juga sejalan dengan upaya pemerintah pusat dalam mengurangi dampak lingkungan dari timbunan sampah.

Peningkatan Fasilitas dan Bank Sampah

Seiring dengan peningkatan gerakan pemilahan, jumlah fasilitas pengelolaan juga bertambah. Saat ini tercatat 2.247 unit bank sampah beroperasi di berbagai wilayah Jakarta. Keberadaan bank sampah ini menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung masyarakat untuk memilah dan mengelola sampah secara mandiri.

“Bank sampah pun telah meningkat menjadi 2.247 unit di berbagai wilayah yang ada di Jakarta ini,” jelasnya.

Selain bank sampah, pemerintah provinsi DKI memiliki 31 TPS 3R yang berfungsi menghasilkan bahan bakar alternatif berupa Refuse Derived Fuel (RDF). Produksi RDF dari fasilitas-fasilitas tersebut mencapai 100 hingga 150 ton per hari. Hal ini menunjukkan bahwa sampah yang telah dipilah tidak hanya disimpan, tetapi juga diolah menjadi produk bernilai ekonomi.

“Contohnya di TPS 3R di Menteng Atas. Kemarin ketika kami berkunjung ke sana, produksinya kurang lebih 100 sampai dengan 150 ton per hari,” tuturnya.

FAQ: Gerakan Pilah Sampah Jakarta

Berapa persentase capaian gerakan pilah sampah di Jakarta? Sampai dengan awal Agustus 2026, capaian gerakan pilah sampah di Jakarta mencapai 23,14 persen.

Kapan TPST Bantargebang mulai hanya menerima sampah residu? Mulai 1 Agustus 2026, TPST Bantargebang secara bertahap hanya menerima sampah residu saja.

Berapa jumlah bank sampah yang beroperasi di Jakarta? Saat ini terdapat 2.247 unit bank sampah yang beroperasi di berbagai wilayah Jakarta.

Berapa ton RDF yang diproduksi per hari oleh TPS 3R? Produksi Refuse Derived Fuel (RDF) dari 31 TPS 3R mencapai 100 hingga 150 ton per hari.

Apa target pengelolaan sampah Jakarta pada tahun 2028? Pramono menargetkan capaian 100 persen dalam pengelolaan sampah Jakarta, yang berarti menuju konsep zero dumping.

Leave a Comment