Berita

Cerita Duta Anti-bullying Komnas PA Pernah Speak Up Kasus Pelecehan Anak

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) telah resmi mengangkat lima remaja sebagai Duta Anak Anti-bullying. Pengangkatan ini didasarkan pada pengalaman

Desk Berita
Published Agustus 10, 2026
Reading time 4 minutes
Conversation No comments
komnas-anak-mengangkat-lima-duta-anak-anti-bullying-termasuk-chacha-dan-malik-adhfardetikcom-1786286594559_169
Foto : James Thomas - wahanaberita.com
Table of Contents
  1. Lima Anak Ditunjuk Sebagai Duta Anti-bullying Komnas PA dengan Latar Belakang Beragam
  2. Related Reading
  3. Frequently Asked Questions

Lima Anak Ditunjuk Sebagai Duta Anti-bullying Komnas PA dengan Latar Belakang Beragam

Wahanaberita.com – Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) telah resmi mengangkat lima remaja sebagai Duta Anak Anti-bullying. Pengangkatan ini didasarkan pada pengalaman masing-masing individu, mulai dari mereka yang aktif menyuarakan kasus pelecehan seksual hingga korban perundungan yang pernah mengalami bullying secara langsung.

Charissa Putri Candrakirana: Aktif Menyuarakan Kasus Pelecehan Anak

Salah satu duta yang terpilih adalah Charissa Putri Candrakirana, atau yang lebih dikenal dengan nama Chachahits. Remaja berusia 14 tahun ini berbagi kisahnya kepada detikcom mengenai aktivitas sehari-hari yang ia lakukan. Selain membuat konten digital, ia juga rutin membantu pekerjaan rumah seperti menjemur dan mencuci pakaian.

“Sehari-hari aku yang pastinya pertama ngonten speak up dulu, terus yang kedua aku pastinya karena aku cewek, aku ber-beres rumah kayak jemuran, cucian,” ujar Chacha saat ditemui di kantor Komnas PA pada Minggu, 9 Agustus 2026.

Menurut Chacha, informasinya mengenai berbagai kasus berasal dari platform media sosial. Ia menyebutkan adanya kasus MBG serta berbagai laporan pelecehan seksual yang ia bantu sebarkan.

“Chacha taunya dari berita-berita yang ada di sosial media. Mungkin kayak yang waktu itu apa sih, MBG, terus pelecehan seksual, terus juga banyak yang minta bantu,” sambungnya.

Kasus Pelecehan di Sukabumi yang Disuarakan Chacha

Eva Rosalina, ibu dari Chacha, menceritakan detail kasus yang diangkat oleh putrinya. Kejadian ini bermula ketika seorang narasumber menghubungi Eva untuk melaporkan pelecehan seksual yang terjadi di Sukabumi, Jawa Barat. Awalnya, kasus tersebut hanya didamaikan tanpa proses hukum yang jelas.

“Narasumber ngehubungin saya bilang bahwa di sini juga ada pelecehan seksual, tapi malah didamaikan, katanya didamaikan. Terus saya kulik beritanya, saya cari tahu, bukan di berita ya, itu belum belum naik berita waktu itu. Saya cari tahu, ternyata benar berita itu, oke, saya bilang ke dia, ‘Dek, kita harus kerja nih, kerja sama. Kamu membahas di sosial media, nanti Mama yang akan bikin apa sih, narasi narasinya gitu.’ Akhirnya dengan cerita si narasumber ini tetangganya si si korban ini, korbannya masih anak kecil SD, jadi bapaknya ini suka memperkosa lah gitu,” jelasnya.

Setelah Chacha mempublikasikan cerita tersebut di akun media sosialnya, perhatian publik mulai meningkat. Kasus ini kemudian viral di Facebook, Instagram, dan TikTok. Bahkan, tim detikcom menghubungi Eva untuk mendapatkan klarifikasi lebih lanjut. Eva memutuskan untuk tidak membuka identitas narasumber tersebut demi menjaga privasi.

“Jadi dia masuk ke sosial medianya alhamdulillah kayak di Facebook, di Instagram, di TikTok gitu, rame nih berita, tersebar dong viral. Nah, termasuk yaitu Detik ngehubungin saya untuk menanyakan gitu. Saya tidak akan membuka narasumber itu. Jadi singkat cerita, karena keviralannya dia mengungkap berita itu dan mem-publish ya foto si pelaku, alhamdulillah ketangkap dan sekarang penjara nya 12 tahun,” katanya.

Chacha merasa sangat lega setelah mengetahui pelaku mendapat hukuman penjara selama 12 tahun. Baginya, membantu satu korban berarti memberikan keadilan bagi mereka.

“Pastinya perasaan Chacha seneng banget, Chacha bisa membantu ya gak gak banyak lah, minimal satu orang, Chacha bisa membantu satu orang untuk menjerumuskan si pelaku ke penjara dan membuat si korban tuh apa namanya, lega gitu hidupnya,” ungkap Chacha.

Sebagai Duta Anak Anti-bullying, Chacha berkomitmen untuk terus menyuarakan korban perundungan dan pelecehan seksual. Ia juga berharap dapat berinteraksi lebih dekat dengan para korban.

“Pastinya Chacha bakal lebih sering meng-speak up korban-korban bullying, pelecehan seksual, dan Chacha mungkin banyak apa, berinteraksi lah dengan korban-korban tersebut gitu,” kata dia.

Malik Arrazy: Dari Korban Bullying Raih Beasiswa Kedokteran

Selain Chacha, influencer cilik bernama Malik Arrazy juga ditunjuk sebagai Duta Anak Anti-bullying. Remaja berusia 10 tahun ini mengakui pernah menjadi korban perundungan di sekolah lamanya. Ia mengalami baik bullying verbal maupun fisik yang cukup parah.

“Jadi kronologinya awalnya aku tuh sekolah di sebuah sekolah. Nah, habis itu kan, sebenarnya aku di sekolah itu udah banyak banget kena bully. Bully verbal dan yang paling parah, bully fisik,” ungkap Malik.

Karena tidak bisa lagi mentolerir perlakuan tersebut, orang tua Malik memutuskan untuk memindahkannya ke sekolah baru. Di lingkungan yang baru, Malik tidak lagi mengalami pembulian dan justru meraih berbagai prestasi akademik.

“Karena aku sama orang tua aku enggak bisa mentolerir lagi, jadinya orang tua aku juga udah ngomong ke pihak sekolah. Tapi karena pihak sekolahnya mungkin terlalu menyepelekan, jadinya orang tua aku memutuskan untuk pindah sekolah. Dan alhamdulillahnya, di sekolah baru ini aku memiliki teman yang baik, enggak ada pembulian, dan juga jadinya aku bisa meraih prestasi yang lebih lanjut di sekolah ini,” ungkapnya.

Prestasi tertinggi yang diraih Malik adalah juara pertama dalam lomba cerdas cermat tingkat nasional untuk kategori dokter kecil. Kemenangan ini membukanya kesempatan untuk mendapatkan beasiswa kedokteran di Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada tahun 2025.

“Aku sudah mendapatkan beasiswa Fakultas Kedokteran di UPI Bandung. Itu pas tahun 2025. Karena aku berhasil memenangkan juara 1. Sebenarnya 1, 2, 3 pun sama aja dapat beasiswa. Tapi aku karena aku dapat juara 1, jadinya aku bisa mendapatkan beasiswa kedokteran juga,” katanya.

Malik berharap di masa mendatang ia dapat terus berkontribusi dan membantu anak-anak lain yang mengalami masalah serupa.

Frequently Asked Questions

What is Cerita Duta Anti bullying Komnas PA Pernah?

Cerita Duta Anti bullying Komnas PA Pernah is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Cerita Duta Anti bullying Komnas PA Pernah matter?

Cerita Duta Anti bullying Komnas PA Pernah matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Leave a Comment