Razia Gabungan di Kelab Malam Jakarta Temukan Sembilan Orang Positif Narkotika
Wahanaberita.com – Operasi gabungan Direktorat Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri dan Badan Narkotika Nasional Republik Indonesia menyasar sejumlah tempat hiburan malam di Jakarta serta kawasan sekitarnya. Dari pemeriksaan urine dalam kegiatan tersebut, sembilan orang terindikasi positif etomidate dan amfetamin atau sabu.
Razia berlangsung dengan pengerahan ratusan personel dan dipimpin oleh Direktur Tindak Pidana Narkoba Bareskrim Polri Brigjen Kristian Parluhutan Siagian bersama Pelaksana Tugas Deputi Pemberantasan BNN, Adri Irniadi. Kegiatan ini dilakukan untuk memeriksa dugaan penyalahgunaan maupun penyimpanan narkotika di lokasi-lokasi yang menjadi sasaran operasi.
Dua Klaster Operasi
Tim dibagi ke dalam dua kelompok wilayah. Klaster pertama bergerak di Jakarta Timur. Klaster lainnya menyisir kawasan Pantai Indah Kapuk atau PIK 1 di Penjaringan, Jakarta Utara, serta PIK 2 yang berada di Tangerang.
Setiap tim melakukan pemeriksaan terhadap orang maupun lokasi tertentu di tempat hiburan malam yang dianggap perlu ditelusuri. Pemeriksaan meliputi penggeledahan badan dan pengecekan area yang berpotensi digunakan untuk menyimpan narkotika.
“Kedua tim melaksanakan penggeledahan, baik badan, orang, tempat-tempat tertentu yang diduga menjadi tempat penyimpanan narkotika,” ujar Kanit Subdit 3 Dittipidnarkoba Bareskrim Polri AKBP Ivan Adhitira kepada wartawan, Minggu (18/10/2026).
Rangkaian pemeriksaan tersebut menghasilkan temuan enam orang positif narkotika dari klaster PIK. Tiga orang lainnya ditemukan positif pada operasi di wilayah Jakarta Timur. Seluruh temuan itu masih ditindaklanjuti melalui proses asesmen oleh BNN RI.
Positif Etomidate dan Amfetamin
Ivan menyatakan hasil pemeriksaan urine terhadap sembilan orang itu menunjukkan kandungan etomidate dan amfetamin, yang juga dikenal sebagai sabu. Keterangan hasil tes menjadi dasar untuk pemeriksaan lanjutan, termasuk penentuan langkah penanganan bagi masing-masing individu.
“Dari kesembilan orang tersebut itu positif etomidate dan amfetamin atau sabu,” kata Ivan.
Etomidate dikenal sebagai zat yang digunakan dalam bidang medis sebagai obat anestesi. Namun, penggunaan di luar pengawasan tenaga kesehatan dapat menimbulkan risiko. Dalam penanganan perkara narkotika, hasil tes urine perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan dan asesmen agar kondisi setiap orang dapat dipahami secara tepat.
BNN RI kini mendalami status enam orang yang terjaring di klaster PIK. Pemeriksaan tersebut mencakup penilaian atas dugaan penggunaan narkotika serta kemungkinan keterkaitan dengan jaringan peredaran narkoba.
“Untuk klaster Jakarta Timur, terdapat tiga orang yang positif narkotika dan juga dilakukan assessment oleh BNN RI apakah yang bersangkutan hanya pengguna atau terafiliasi jaringan narkoba,” ucap Ivan.
Asesmen Menentukan Penanganan Lanjutan
Asesmen menjadi tahapan penting setelah seseorang dinyatakan positif dalam pemeriksaan awal. Proses ini digunakan untuk membedakan apakah orang tersebut merupakan pengguna atau memiliki keterlibatan lain yang perlu ditelusuri lebih jauh. Penilaian itu juga menentukan bentuk penanganan berikutnya.
Apabila asesmen menyimpulkan seseorang merupakan pengguna, langkah rehabilitasi menjadi bagian dari penanganan yang wajib dilakukan. Pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu pemulihan orang yang terpapar penyalahgunaan narkotika.
“Apabila hasil assessment dari BNN RI yang bersangkutan adalah pengguna, maka kita wajib untuk melakukan rehabilitasi untuk mengobati mereka yang positif tersebut,” tambah Ivan.
Penanganan melalui rehabilitasi tidak menghapus kebutuhan penyelidikan terhadap kemungkinan peredaran narkotika. Aparat tetap perlu memisahkan secara cermat antara pihak yang membutuhkan pemulihan dan pihak yang diduga berperan dalam jaringan penyalahgunaan atau distribusi barang terlarang.
462 Personel Dikerahkan
Operasi ini melibatkan total 462 personel gabungan. Dittipidnarkoba Bareskrim Polri mengerahkan 146 personel. Selain itu, terdapat 95 personel Sabhara, 32 personel Provos, dan 29 personel Paminal.
BNN turut mengirimkan 160 personel dalam kegiatan tersebut. Keterlibatan berbagai unsur menunjukkan bahwa razia tidak hanya berfokus pada pemeriksaan pengunjung, melainkan juga mencakup pengamanan, pengawasan internal, serta tindak lanjut asesmen terhadap orang yang hasil tesnya positif.
Tempat hiburan malam merupakan ruang publik dengan aktivitas yang berlangsung hingga larut malam sehingga pengawasan terhadap keamanan dan kepatuhan hukum memerlukan koordinasi yang terukur. Dalam operasi seperti ini, pemeriksaan di lokasi dilakukan untuk menemukan indikasi penyalahgunaan narkotika sekaligus mencegah tempat usaha digunakan sebagai ruang aktivitas ilegal.
Bagi masyarakat, temuan hasil tes positif belum serta-merta menjelaskan peran hukum setiap orang yang diperiksa. Tahap asesmen dan pendalaman oleh BNN RI tetap menentukan apakah seseorang dikategorikan sebagai pengguna yang membutuhkan rehabilitasi atau memiliki dugaan keterlibatan lain yang memerlukan proses penegakan hukum lebih lanjut.
Dengan sembilan orang positif etomidate dan amfetamin dari dua klaster operasi, aparat masih melanjutkan pemeriksaan terhadap hasil razia tersebut. Perkembangan asesmen akan menjadi penentu langkah berikutnya bagi enam orang dari kawasan PIK dan tiga orang yang diperiksa di Jakarta Timur.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Bareskrim dan BNN Razia Kelab Malam?
Bareskrim dan BNN Razia Kelab Malam is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Bareskrim dan BNN Razia Kelab Malam matter?
Bareskrim dan BNN Razia Kelab Malam matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

