Operasi Gabungan Ungkap Dugaan Penyelundupan Ketamin dengan MT Global 168
Wahanaberita.com – Tim gabungan Badan Narkotika Nasional (BNN), Bea Cukai, dan Bareskrim Polri mengamankan kapal MT Global 168 dalam pengungkapan penyelundupan lebih dari satu ton narkotika jenis ketamin. Kapal tersebut diduga menjadi bagian dari jaringan yang memindahkan muatan di laut sebelum memasuki jalur perairan regional.
Kapolri Jenderal Suyudi Ario Seto menyampaikan bahwa pemantauan terhadap MT Global 168 telah berlangsung sejak Agustus 2026. Identitas kapal itu muncul dalam dokumen docking yang ditemukan di kapal Fushanxing 1. Kapal sebelumnya telah ditangkap karena membawa 800 kilogram ketamin bersama empat tersangka.
“Kita selalu menganalisa kapal itu tidak sebentar,” kata Jenderal Suyudi.
Pengungkapan ini memperlihatkan pentingnya pengawasan berkelanjutan terhadap kapal yang bergerak di kawasan Selat Malaka dan Laut Andaman. Jalur laut tersebut memiliki aktivitas pelayaran padat, sehingga penyidik perlu membedakan pergerakan rutin dengan pola yang menunjukkan dugaan pelanggaran hukum.
Jejak Pelayaran dari Malaysia ke Laut Andaman
Pada September 2026, MT Global 168 bertolak dari lokasi docking di Pasir Gudang, Johor, Malaysia. Tujuan awal pelayarannya adalah perairan Andaman di Thailand. Sebelum melanjutkan perjalanan, kapal itu singgah di Port Klang untuk mengisi pasokan air serta bahan bakar.
Setelah berada beberapa hari di Port Klang, kapal meneruskan perjalanan menuju Laut Andaman. Di kawasan itu, petugas menduga terjadi transaksi ship-to-ship atau STS, yaitu pemindahan barang dari satu kapal ke kapal lain di tengah laut.
Skema tersebut memungkinkan kapal pembawa barang menyerahkan muatan kepada kapal penerima tanpa harus melakukan bongkar muat di pelabuhan. Dalam perkara ini, MT Global 168 diduga menerima ketamin melalui mekanisme tersebut.
“Ada kapal pembawa barang, ada penerima,” ujar Jenderal Suyudi saat menjelaskan pola transaksi antarkapal.
Ia juga menggambarkan bahwa penyelundup dapat bergerak lintas negara sebelum melakukan perpindahan muatan di Laut Andaman maupun Selat Malaka. Pola seperti ini membutuhkan ketelitian dalam membaca data perjalanan kapal, termasuk perubahan kecepatan, arah, dan status perangkat pelacakan.
Sinyal AIS Sempat Tidak Aktif
Pada pekan kedua Oktober 2026, tim analis meyakini MT Global 168 sedang melakukan kegiatan STS di perairan Andaman. Keyakinan itu diperkuat oleh kondisi ketika sistem Automatic Identification System atau AIS kapal tidak aktif selama 3 hari 17 jam.
AIS lazim digunakan untuk menampilkan identitas, lokasi, arah, dan kecepatan kapal. Ketika perangkat tersebut dimatikan atau tidak memancarkan data dalam waktu tertentu, situasi itu dapat menjadi anomali yang perlu ditelusuri lebih jauh oleh aparat.
“Para penyelundup itu selalu mematikan AIS pada saat transaksi,” tutur Jenderal Suyudi.
Dalam kasus ini, matinya sinyal justru menjadi salah satu petunjuk bagi tim untuk mempersempit perhatian terhadap pergerakan MT Global 168. Setelah sinyal kembali muncul, petugas terus mengikuti jalur kapal di kawasan Selat Malaka hingga Laut Andaman.
Pergerakan Kapal di Selat Malaka
Pada Rabu, 14 Oktober, antara pukul 12.31 hingga 13.25 WIB, MT Global 168 tercatat melintas di bagian tengah Selat Malaka menuju barat laut. Posisi kapal sejajar dengan perairan Perak atau Taiping, Malaysia, dengan kecepatan stabil sekitar 5,5 hingga 6 knot.
Sehari kemudian, Kamis 15 Oktober pukul 02.26 WIB, kapal kembali terlihat berada di kawasan tengah Selat Malaka dengan arah yang sama. Kecepatannya mulai berkurang. Pada pukul 10.32 WIB, kapal melanjutkan pelayaran ke bagian utara Selat Malaka atau menuju perairan terbuka.
Data AIS pada pukul 22.28 sampai 23.55 WIB memperlihatkan kapal berada di lepas pantai utara Aceh atau wilayah Langsa. Kecepatan yang tercatat berada pada kisaran 5 hingga 5,5 knot.
Pada Jumat, 16 Oktober, kapal bergerak di perairan utara sejak pukul 00.57 hingga 04.50 WIB dengan kecepatan sekitar 4,9 knot. Pukul 05.37 WIB, MT Global 168 tiba di wilayah perairan terluar Thailand bagian barat, di sekitar lepas pantai Trang atau Palian.
Di lokasi tersebut, kapal melakukan pola putaran atau looping pattern sambil mengurangi laju. Pada pukul 14.50 WIB, AIS kembali menunjukkan kecepatan sekitar 4,9 knot. Menjelang malam, antara pukul 18.57 hingga 20.57 WIB, kapal mengubah haluan ke tenggara atau selatan menuju area labuh jangkar.
Identitas Ganda Menjadi Perhatian Petugas
Pada Minggu, 18 Oktober, sistem AIS merekam 161 parameter posisi MT Global 168 di area labuh jangkar. Kecepatan kapal bahkan tercatat sampai 5,8 knot. Dalam pemantauan, kondisi itu dikaitkan dengan kemungkinan dampak pergerakan jangkar maupun arus laut.
Tim kemudian menemukan anomali lain pada identitas kapal. Satu nomor Maritime Mobile Service Identity atau MMSI disebut memancarkan dua nama berbeda, yakni MT Global 168 sebagai kapal tanker dan Rovos Ki Dotim sebagai kapal tunda.
“Tim menemukan sejumlah indikasi anomali AIS,” kata Jenderal Suyudi.
Perbedaan data identitas menjadi unsur penting dalam pemeriksaan karena informasi AIS digunakan untuk membantu mengenali karakter dan aktivitas kapal di laut. Ketidaksesuaian tersebut, bersama riwayat hilangnya sinyal dan manuver kapal, memperkuat alasan petugas untuk melakukan tindakan lebih lanjut.
Intersepsi dan Pengamanan Delapan Awak
Pada Senin, 19 Oktober, BNN, Bea Cukai, dan Bareskrim Polri menyiapkan operasi penindakan terhadap MT Global 168. Operasi itu mendapat dukungan kapal Bea Cukai BC 20006 dan KP Murai 4018.
Rencana awalnya adalah melakukan intersepsi sebelum kapal memasuki Pelabuhan Port Klang, Malaysia. Namun, MT Global 168 akhirnya diamankan di perairan Tanjung Balai Asahan.
Delapan awak kapal turut diamankan dalam operasi tersebut. Pengungkapan ini melanjutkan rangkaian penyelidikan setelah penangkapan kapal Fushanxing 1 yang membawa 800 kilogram ketamin dan melibatkan empat tersangka.
Kasus MT Global 168 menegaskan bahwa pengawasan narkotika di laut tidak hanya bergantung pada pemeriksaan fisik kapal. Analisis dokumen, pemantauan sinyal AIS, pembacaan pola pelayaran, serta koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting untuk menelusuri dugaan penyelundupan yang dilakukan jauh dari pelabuhan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is 4 Fakta Terbongkarnya Kapal Pengangkut 1 Ton?
4 Fakta Terbongkarnya Kapal Pengangkut 1 Ton is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does 4 Fakta Terbongkarnya Kapal Pengangkut 1 Ton matter?
4 Fakta Terbongkarnya Kapal Pengangkut 1 Ton matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

