Berita

New Policy: AHY Buka Peluang Kolaborasi Pembangunan Infrastruktur Berketahanan Iklim

New Policy: AHY Dorong Kolaborasi Infrastruktur Tahan Iklim New Policy - Pembangunan infrastruktur berbasis ketahanan iklim menjadi fokus utama dalam

Desk Berita
Published Juni 5, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

New Policy: AHY Dorong Kolaborasi Infrastruktur Tahan Iklim

New Policy – Pembangunan infrastruktur berbasis ketahanan iklim menjadi fokus utama dalam kebijakan baru yang diusung oleh Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Pada acara St. Petersburg International Economic Forum (SPIEF) 2026, AHY mengungkapkan bahwa kebijakan ini dirancang sebagai langkah strategis untuk menghadapi tantangan perubahan iklim yang semakin mengancam keberlanjutan perekonomian nasional.

Tantangan Iklim yang Menyentuh Sektor Penting

AHY menekankan bahwa ancaman perubahan iklim tidak hanya berdampak pada lingkungan, tetapi juga menyentuh sektor-sektor vital seperti transportasi, logistik, dan ketahanan pangan. Dalam sesi EAEU-ASEAN, ia menyampaikan bahwa investasi dalam infrastruktur yang resilien menjadi keharusan mutlak, terutama di wilayah pesisir yang rentan terhadap banjir, kenaikan permukaan laut, dan erosi tanah.

Menurutnya, tantangan global seperti fluktuasi harga energi, defisit pasokan, serta perubahan pola cuaca memerlukan pendekatan kolaboratif yang melibatkan negara-negara anggota ASEAN dan EAEU. “Kita perlu memperkuat kerja sama untuk menciptakan solusi yang berkelanjutan, karena infrastruktur tahan iklim bukan hanya mengurangi risiko, tetapi juga membuka peluang pertumbuhan ekonomi baru,” ujarnya.

Strategi Utama Kebijakan Baru

Keputusan AHY untuk mengembangkan kebijakan baru ini melibatkan tiga aspek utama. Pertama, transformasi sistem transportasi menuju dekarbonisasi dengan penggunaan energi terbarukan dan teknologi rendah emisi. Kedua, pengembangan jaringan logistik yang terintegrasi, termasuk peningkatan kapasitas pelabuhan dan perkeretaapian. Ketiga, pembangunan Giant Sea Wall yang diharapkan menjadi proyek pelindung wilayah pesisir sekaligus menopang keberlanjutan ekonomi.

Kebijakan ini, yang disebut sebagai New Policy, dirancang untuk mengoptimalkan penggunaan sumber daya alam dan energi secara lebih efisien. AHY menekankan bahwa keberhasilan kebijakan ini bergantung pada komitmen kuat dari pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat sipil. “New Policy ini akan menjadi landasan untuk meningkatkan ketahanan nasional, terutama dalam menghadapi krisis iklim yang semakin berat,” tambahnya.

Implementasi dalam Praktik

AHY menjelaskan bahwa kebijakan tahan iklim akan diaplikasikan melalui proyek-proyek infrastruktur yang dirancang secara holistik. Dalam pernyataannya, ia menegaskan bahwa Giant Sea Wall akan menjadi salah satu landmark utama kebijakan ini, dengan biaya sekitar 12 triliun rupiah dan diharapkan selesai dalam lima tahun ke depan. Proyek ini juga menawarkan peluang kerja sama teknis dengan negara-negara penjuru dunia, seperti Rusia dan negara-negara anggota EAEU.

Terlebih lagi, AHY menyebutkan bahwa New Policy ini bertujuan mempercepat pengembangan infrastruktur berkelanjutan yang selaras dengan target Net Zero Emissions hingga 2060. Dalam konteks ini, kolaborasi dengan negara-negara EAEU akan membantu Indonesia memperoleh akses ke teknologi canggih dan pengalaman internasional dalam pembangunan infrastruktur yang ramah lingkungan.

“New Policy ini adalah bagian dari upaya menyeluruh untuk memastikan infrastruktur Indonesia tidak hanya mengakomodasi pertumbuhan ekonomi, tetapi juga mampu beradaptasi dengan perubahan iklim yang terus berlangsung. Kami ingin menjadi model bagi negara-negara lain dalam menggabungkan keterjangjauan dengan keberlanjutan,” tutur AHY.

Kolaborasi sebagai Kunci Keberhasilan

Secara khusus, AHY menyoroti pentingnya kolaborasi dalam mewujudkan kebijakan baru ini. Pemerintah Indonesia, menurutnya, siap berbagi pengalaman dan teknologi dengan negara-negara EAEU, termasuk Rusia, dalam proyek infrastruktur yang tahan terhadap dampak iklim. “Kolaborasi seperti ini tidak hanya mempercepat proses, tetapi juga menciptakan keuntungan ekonomi jangka panjang bagi masyarakat,” jelasnya.

Salah satu contoh kolaborasi yang diusulkan AHY adalah penguatan jaringan logistik dan peningkatan kapasitas pelabuhan, yang akan diperkuat melalui transfer teknologi dan pengalaman dari negara-negara anggota EAEU. Proyek seperti Giant Sea Wall juga diharapkan menjadi kerja sama nyata yang memberikan manfaat langsung, terutama bagi warga pesisir yang rentan terhadap risiko lingkungan.

“Dengan New Policy ini, kita bisa mengubah tantangan menjadi peluang. Infrastruktur tahan iklim bukan hanya mengurangi risiko, tetapi juga menciptakan peluang kerja, meningkatkan kualitas hidup, dan memperkuat daya saing ekonomi,” pungkas AHY.

Leave a Comment