Berita

Pegawai Scammer Komplotan Eks Artis Fabiola Digaji Rp 10-20 Juta Per Bulan

omplotan Eks Artis Fabiola Digaji Rp 10-20 Juta Per Bulan Pegawai Scammer Komplotan Eks Artis Fabiola - Terungkapnya kasus penipuan yang melibatkan komplotan

Desk Berita
Published Juni 2, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

Pegawai Scammer Komplotan Eks Artis Fabiola Digaji Rp 10-20 Juta Per Bulan

Pegawai Scammer Komplotan Eks Artis Fabiola – Terungkapnya kasus penipuan yang melibatkan komplotan eks artis Fabiola mengejutkan banyak pihak. Berdasarkan laporan detikJateng, Direktur Reserse Siber Polda Jateng, Kombes Himawan Susanto Saragih, mengungkap bahwa para pekerja di jaringan penipuan internasional dengan nama PT Digi Global Konsultan menerima upah sekitar Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per bulan. Kasus ini menggambarkan bagaimana komplotan pegawai scammer eks artis bisa memanfaatkan reputasi dan relasi di dunia maya untuk menjaring korban.

Modus Penipuan yang Terstruktur

Menurut Himawan, komplotan ini mengatur modus yang sangat terorganisir. Mereka mengiming-imingi calon korban dengan iming-iming investasi menjanjikan melalui sistem trading kripto yang telah dimanipulasi. Para pegawai scammer, yang terdiri dari marketing, leader, dan model, bekerja sama untuk mengelabui para pemula yang tertarik mengikuti program tersebut. “Gaji dari peran marketing, leader, dan model mencapai Rp 10 juta hingga Rp 20 juta per bulan,” jelas Himawan.

Struktur operasi penipuan ini juga mencakup rekrutmen yang dilakukan secara sistematis. Calon anggota diundang untuk bergabung melalui media sosial, terutama Facebook, dengan tawaran gaji yang menarik. Sistem ini dirancang agar para pekerja merasa aman dan percaya akan keberhasilan bisnis yang mereka ikuti. Seiring waktu, mereka diberi tugas untuk menarik lebih banyak korban, baik dari kalangan lokal maupun internasional.

Target Korban dan Jaringan Internasional

Komplotan yang beroperasi di Solo Baru, Jawa Tengah, khusus menargetkan warga asing, terutama warga negara Amerika Serikat. Polisi menyebutkan bahwa perusahaan Digi Global Konsultan digunakan sebagai alat untuk merekrut karyawan sekaligus sebagai pusat pengelolaan penipuan. Setiap anggota komplotan diharapkan membangun ikatan emosional dengan korban melalui komunikasi intensif, aplikasi kencan, atau forum diskusi online.

Dalam prosesnya, pelaku sering kali mengatur penggunaan identitas palsu atau relasi yang mereka bangun untuk memperkuat kepercayaan korban. Mereka mengajak korban mengikuti program investasi dengan bimbingan dari tim marketing yang profesional. Tidak hanya itu, leader dalam komplotan juga terlibat langsung dalam mengarahkan korban untuk melakukan transfer dana secara bertahap dalam jumlah besar.

Pegawai scammer eks artis Fabiola, yang menjadi pusat operasi, memanfaatkan pengalamannya di dunia hiburan untuk menjangkau audiens yang lebih luas. Mereka menggunakan kepopuleran nama-nama tertentu untuk menarik perhatian korban yang berpotensi menjadi investornya. “Modus ini dirancang agar korban merasa nyaman berinvestasi, sekaligus memperbesar risiko kerugian saat bertransaksi,” tambah Himawan.

Hasil Penyelidikan dan Penangkapan

Direktur Reserse Siber Polda Jateng, Himawan Susanto Saragih, mengungkapkan bahwa penyelidikan telah mengarah pada penangkapan 39 pelaku, termasuk 11 orang yang berasal dari Myanmar dan Nepal. Para pelaku ini diidentifikasi sebagai bagian dari jaringan penipuan yang terbuka di berbagai wilayah. “Pegawai scammer yang terlibat dalam komplotan eks artis ini memiliki peran yang sangat penting dalam mengelola kegiatan penipuan,” kata Himawan.

Dalam proses investigasi, polisi menemukan bahwa komplotan ini tidak hanya menipu warga negara Indonesia (WNI) tetapi juga memanfaatkan peran model dan marketing yang lebih spesifik untuk menarik perhatian korban. Modusnya berupa pengelolaan akun media sosial yang terlihat profesional, dengan tujuan membuat korban percaya bahwa investasi tersebut aman dan menguntungkan. “Korban dibujuk agar terlibat dalam investasi melalui sistem trading kripto yang telah dimanipulasi,” terang Himawan.

Penangkapan para pelaku scammer ini menjadi bukti bahwa kejahatan di dunia maya bisa berjalan dengan sangat efektif dan terorganisir. Polisi menegaskan bahwa kerja sama dengan tim investigasi internasional penting dalam mengungkap jaringan yang menargetkan WNI dan WNA. “Kasus ini menggambarkan betapa rentannya masyarakat modern terhadap taktik penipuan yang memanfaatkan kepercayaan dan teknologi,” tambah Himawan.

Leave a Comment