Kenalin! Iyung, Jagal Senior yang Sudah 47 Tahun Potong Hewan Kurban
Facing Challenges – Dalam kesibukan jagal-jagal pada Hari Raya Idul Adha 2026, Iyung (64) menjadi salah satu figure yang tetap mampu menghadapi tantangan dengan tenang. Dengan pengalaman bertahun-tahun, Iyung tidak hanya menguasai teknik potong hewan kurban, tetapi juga menghadapi berbagai kesulitan secara profesional. Bagi dia, menjadi jagal bukan sekadar pekerjaan, melainkan bagian dari tradisi dan tanggung jawab yang diwariskan.
Pengalaman Berharga dari Keluarga
Pelatihan jagal yang Iyung lakukan sejak usia 17 tahun membentuk keahlian yang luar biasa. Bukan hanya keberanian, tetapi juga ketelitian dalam setiap langkah yang membuatnya mampu menghadapi hewan besar dengan tenang. Teknik yang diterapkan bukan hanya berdasarkan pengalaman, tetapi juga dipengaruhi oleh bimbingan keluarga.
“Saya bilang, tukang potong sekarang cuma modal keberanian doang. Saya tuh takut kalau yang namanya sapi, sapi Bali, itu pernah kejadian ada yang ketusuk sampai mati,”
Kakek Iyung adalah mentor pertama yang mengajarkan teknik penyembelihan hewan. Dengan bimbingan tersebut, Iyung menjalani proses yang tidak hanya mengasah kemampuan fisik, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri. Teknik yang ia terapkan hingga kini tetap dijaga ketat, termasuk cara memastikan pisau tajam untuk menghindari kesalahan.
Tantangan dalam Setiap Proses Penyembelihan
Menjadi jagal senior bukan berarti bebas dari tantangan. Setiap hewan kurban memiliki karakteristik unik yang memerlukan pendekatan berbeda. Iyung menjelaskan bahwa sapi Bali, misalnya, memiliki kecenderungan menendang tiba-tiba. Tantangan ini memaksa dia tetap waspada dan menyesuaikan posisi saat melakukan penyembelihan.
“Tantangannya jangan ngambil dari belakang kaki. Sapi Bali itu nendangnya begitu, sama samping,”
Kelelahan dan stres juga menjadi bagian dari tugasnya. Iyung menekankan bahwa saat hewan mengeluarkan darah dari hidung, kondisi tersebut menandakan kegugupan yang perlu diatasi dengan kesabaran. “Kalau sapi sudah hidungnya berdarah, dijemur, itu lebih gila,” katanya dengan ekspresi serius.
Perjalanan Penuh Konsistensi
Dalam perjalanan hampir lima dekade, Iyung pernah mengalami situasi kritis. Beberapa tahun lalu, kerbau yang sudah disembelih masih bisa menyerang jagal karena kekuatan tersisa. Kejadian itu mengingatkannya untuk tetap waspada dalam setiap langkah, terlepas dari usia yang terus bertambah.
“Udah berapa tempat. Sapinya udah 8, terus 5, 7. Ya 20-an lah,”
Meski menghadapi cedera ringan, usia 64 tahun tidak menghentikan semangatnya. Iyung tetap berpindah lokasi penyembelihan sejak pagi hari untuk memastikan proses berjalan lancar. Konsistensi ini menjadi bukti bahwa Facing Challenges adalah bagian dari profesionalismenya.
Metode Khusus untuk Tetap Terjaga
Untuk mengatasi kelelahan, Iyung mengandalkan cara khusus. Salah satunya adalah mengonsumsi susu kambing yang dipercaya memberikan energi tambahan. “Ada, minum susu kambing, segala macam lah,” katanya sambil tersenyum.
Metode ini tidak hanya membantu menjaga kebugaran fisik, tetapi juga mengurangi risiko kesalahan saat menghadapi hewan yang sedang tegang. Iyung percaya bahwa menghadapi tantangan secara teratur adalah cara untuk tetap berkembang dalam bidangnya.
Pesan untuk Generasi Muda
Menjadi jagal senior, Iyung juga memberikan pesan penting kepada generasi muda. Ia menekankan bahwa hewan kurban perlu dihormati, dan keselamatan harus selalu diutamakan. “Berhati-hatilah, jangan terlalu sombong. Jangan anggap sapi itu nggak berani ngelawan kita,” pesannya.
Menghadapi tantangan seperti ini membutuhkan mental yang kuat dan komitmen tinggi. Iyung percaya bahwa dengan menanamkan rasa hormat dan kesadaran akan risiko, generasi muda dapat menjalani pekerjaan ini dengan baik. Pernyataan ini menggambarkan bagaimana Facing Challenges bisa menjadi pelajaran berharga dalam kehidupan sehari-hari.
