Aliansi Baru Rombak Lanskap Geopolitik Timur Tengah
Key Discussion: Kunjungan rahasia Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ke Uni Emirat Arab (UEA) memicu perubahan mendasar dalam dinamika geopolitik wilayah tersebut. Ia mengumumkan lawatannya pada malam 13 Mei, namun hanya beberapa jam kemudian, pemerintah UEA menyatakan bahwa perjalanan tersebut tidak pernah terjadi. Aksi ini menjadi bagian dari pembicaraan global yang memperdebatkan hubungan baru antara Israel dan negara-negara Teluk, serta dampaknya terhadap keseimbangan kekuatan di kawasan ini.
Dalam Key Discussion yang terjadi, keputusan UEA untuk membangun hubungan diplomatik dengan Israel dilihat sebagai tanda pergeseran kebijakan yang signifikan. Sementara itu, Duta Besar Amerika Serikat untuk Israel Mike Huckabee dalam acara di Tel Aviv menyebutkan bahwa Israel meminjamkan sistem pertahanan udara kepada UEA sebagai langkah strategis menghadapi ancaman dari Iran. Kombinasi ini memperkuat ekspektasi bahwa aliansi baru akan mengubah peta kekuasaan Timur Tengah.
Timur Tengah Memasuki Babak Baru
Key Discussion tentang aliansi baru ini terus berkembang, terutama setelah UEA mengambil keputusan penting untuk keluar dari OPEC setelah menjadi anggota selama 59 tahun. Tindakan ini menciptakan ruang untuk ulasan mendalam tentang perubahan struktur geopolitik yang sedang terjadi di kawasan tersebut. Analis mengungkapkan bahwa keterbukaan UEA terhadap Israel menunjukkan pergeseran dari kebijakan tradisionalnya.
“Orde lama di Teluk yang bertahan puluhan tahun kini mulai pudar, sementara tatanan baru sedang terbentuk,” tulis Cinzia Bianco, peneliti tamu di European Council on Foreign Relations, dalam komentarnya pertengahan Mei.
Bianco menekankan bahwa kebijakan UEA dan Israel membentuk aliansi yang berpotensi mengubah dinamika politik dan ekonomi Timur Tengah. Mantan Duta Besar Korea Selatan untuk Israel, Ma Young-sam, menambahkan bahwa skenario ini menandai lahirnya “tatanan Timur Tengah baru,” yang menunjukkan pergeseran dalam pendekatan kawasan terhadap konflik regional.
Saudi Memilih Jalur Berbeda
Kelompok “berlian Sunni” mengambil pendekatan berbeda dalam Key Discussion ini. Marcus Schneider dari Friedrich Ebert Foundation di Lebanon menggambarkan munculnya dua blok utama di kawasan: “heksagon” yang terdiri dari UEA dan Israel, serta “berlian Sunni” yang mencakup Arab Saudi, Pakistan, Turki, dan Mesir. Perbedaan ini menunjukkan pergeseran strategi antara negara-negara Teluk.
Menurut Schneider, Israel dan UEA menerapkan politik “disrupsi” untuk membangun jaringan pengaruh yang berpusat pada diri mereka sendiri. Netanyahu secara berkala menegaskan bahwa negaranya sedang “mengubah wajah Timur Tengah,” termasuk setelah serangan gabungan Israel-AS ke Iran awal Maret. Di sisi lain, UEA juga memiliki ambisi serupa untuk mendominasi kebijakan regional.
“Bagi UEA, Israel menawarkan sumber daya, jaringan, kemampuan pertahanan, teknologi, dan pengaruh global,” tulis Bianco.
Kekhawatiran Arab Saudi terhadap Israel terlihat dalam artikel opini Pangeran Turki al-Faisal, mantan kepala intelijen Saudi, di surat kabar Asharq Al-Awsat. Tulisan tersebut dianggap merepresentasikan pandangan pemerintah Riyadh yang cemas akan dominasi Israel di kawasan tersebut.
Retakan di Teluk Kembali Muncul
Sebelum perang Iran meletus, ketegangan antara UEA dan Arab Saudi sudah terlihat, terutama terkait konflik Yaman. Kristian Coates Ulrichsen dari Baker Institute for Public Policy menilai perbedaan ini mencerminkan visi kawasan yang semakin bertolak belakang. Dalam Key Discussion, retakan ini menjadi sinyal bahwa pergeseran kebijakan sedang menciptakan kekacauan di antara negara-negara Teluk.
“Arab Saudi tidak lagi tertarik pada petualangan militer, berbeda dengan Abu Dhabi yang dianggap nyaman mengambil risiko dan mendukung kelompok bersenjata non-negara,” ujarnya kepada DW awal tahun ini. Ketika perang Iran pecah, negara-negara Teluk sempat menunjukkan solidaritas, namun kini perpecahan kembali muncul karena pendekatan yang berbeda terhadap Israel.
“Saudi dan Emirat bergerak ke arah yang berlawanan,” kata Schneider.
Tidak Ada Aliansi Permanen
Banyak analis menyatakan bahwa situasi ini tidak bisa disederhanakan sebagai pilihan antara dua kubu. Dalam Key Discussion, keberlanjutan aliansi baru masih dipertanyakan karena dinamika politik yang kompleks. Menurut Schneider, hubungan di Timur Tengah kini lebih dinamis dibanding era Perang Dingin.
“Kita hidup di era ‘promiskuitas geopolitik’, di mana aliansi tidak lagi kaku,” ujar Schneider. Profesor ekonomi dari Universitas Duisburg-Essen, Ibrahim Ozturk, menilai bahwa negara-negara Teluk sebenarnya sedang berusaha bertahan di tengah ketidakstabilan. Ia menyebut bahwa aliansi antar-negara tidak akan bertahan lama karena perbedaan struktur politik, ekonomi, dan kepentingan strategis yang berbeda.
Dalam Key Discussion, persaingan antar-negara Teluk semakin terasa. UEA dan Arab Saudi, meski sama-sama Sunni, menunjukkan perbedaan prioritas. UEA fokus pada pengembangan ekonomi dan hubungan internasional, sementara Arab Saudi lebih berhati-hati dalam menghadapi ancaman dari Iran. Perubahan ini menunjukkan bahwa Timur Tengah sedang memasuki fase baru dengan pergeseran kekuasaan yang tidak bisa diprediksi.
