Internasional

15 Aktivis Flotilla Gaza Laporkan Alami Pelecehan Seksual saat Ditahan Israel

15 Aktivis Flotilla Gaza Laporkan Mengalami Pelecehan Seksual Saat Ditahan Israel 15 Aktivis Flotilla Gaza Laporkan Alami - Dalam laporan terbaru yang dibuat

Desk Internasional
Published Mei 23, 2026
Reading time 3 minutes
Conversation No comments

15 Aktivis Flotilla Gaza Laporkan Mengalami Pelecehan Seksual Saat Ditahan Israel

15 Aktivis Flotilla Gaza Laporkan Alami – Dalam laporan terbaru yang dibuat oleh organisasi penyelenggara Global Sumud Flotilla, sebanyak 15 orang anggota tim mengungkapkan bahwa mereka mengalami pelecehan seksual selama ditahan oleh pasukan Israel. Laporan ini dipublikasikan oleh Al Jazeera pada Jumat (22/5/2026), yang menyebutkan bahwa beberapa aktivis melaporkan insiden serangan seksual, termasuk kasus pemerkosaan, sebagai bagian dari perlakuan kasar yang mereka terima setelah dibebaskan dari penahanan.

Konteks Penahanan dan Peristiwa di Perairan Internasional

Pada hari sebelumnya, pasukan Israel mengambil tindakan penculikan terhadap sekitar 430 orang dari 50 kapal yang terlibat dalam operasi flotilla ke Gaza. Tindakan ini dilakukan untuk menghentikan upaya pengiriman bantuan ke wilayah tersebut. Menurut pernyataan dari organisasi penyelenggara, kejadian pelecehan seksual yang dilaporkan bukanlah kejadian yang terpisah dari kebrutalan yang terus-menerus dilakukan Israel terhadap para sandera Palestina.

Detail Pelaporan dari Aktivis dan Saksi Mata

Dalam pesan Telegram, penyelenggara flotilla menyebutkan bahwa total 15 insiden pelecehan seksual terjadi, di antaranya melibatkan pemerkosaan. Banyak dari mereka juga mengalami perlakuan fisik seperti ditembak dengan peluru karet, dilempar ke tanah, ditendang, serta disetrum menggunakan alat kejut listrik. “Kami dilepaskan dari kapal, tetapi kebrutalan tidak berhenti sampai di sana,” kata seorang aktivis yang terlibat dalam laporan tersebut.

Sejumlah saksi mata menambahkan bahwa para aktivis tidak hanya mengalami kekerasan fisik, tetapi juga pelecehan seksual yang terjadi di bawah pengawasan Israel. Beberapa dari mereka ditempatkan di ruangan sempit atau ruang terbuka di mana mereka rentan terhadap perlakuan tidak menyenangkan. Dalam satu pernyataan, penyelenggara mengatakan bahwa kejadian ini membuktikan bahwa Israel tidak hanya membatasi akses ke Gaza, tetapi juga mengancam kemanusiaan para tahanan.

Kasus Luca Poggi: Pengalaman Pribadi dan Dukungan Internasional

Satu di antara aktivis yang terlibat adalah ekonom Italia, Luca Poggi. Ia memberikan keterangan kepada Reuters bahwa saat ditahan, dirinya dilepaskan pakaian dan dilempar ke tanah. “Beberapa dari kami disetrum dengan alat kejut listrik, sebagian mengalami pelecehan seksual, dan beberapa ditolak aksesnya ke pengacara,” ujar Poggi. Pengalaman ini menarik perhatian organisasi internasional yang sedang memantau situasi di Gaza, termasuk Jaksa Italia yang saat ini sedang menyelidiki kemungkinan pelanggaran hukum terhadap para tahanan.

Banyak dari para aktivis menyebutkan bahwa kebrutalan Israel terjadi secara sistematis, dan pelecehan seksual menjadi bagian dari strategi yang digunakan untuk menekan mereka. Menurut laporan, para tahanan tidak diberi kesempatan untuk berkumpul atau berkomunikasi dengan keluarga. Beberapa dari mereka bahkan mengalami patah tulang akibat perlakuan kasar selama ditahan. “Ini bukan kejadian tunggal, melainkan bagian dari kebijakan yang berlangsung sehari-hari,” tambah penyelenggara dalam pernyataan terpisah.

Respon Internasional dan Upaya untuk Penguatan Kebijakan

Kasus pelecehan seksual yang dilaporkan ini memicu reaksi dari berbagai pihak internasional. Beberapa organisasi hak asasi manusia mengkritik tindakan Israel, sementara pihak ekonomi dan diplomatik berupaya untuk memperkuat tekanan terhadap pemerintah Israel. Dalam upaya meningkatkan transparansi, beberapa aktivis menuntut investigasi lebih lanjut dari pihak penahanan, termasuk dokumentasi lengkap terhadap setiap insiden yang terjadi.

Penyelenggara flotilla menegaskan bahwa laporan ini hanya satu bagian dari cerita yang lebih luas. Mereka meminta dunia untuk menyadari bahwa para aktivis tidak hanya menjadi korban kekerasan fisik, tetapi juga terhadap pelecehan seksual yang terjadi dalam kondisi ketidakadilan. “Kami ingin dunia mengetahui bahwa kebrutalan Israel tidak hanya terjadi di medan perang, tetapi juga di tempat-tempat yang seharusnya aman untuk para tahanan,” kata mereka dalam pesan terbaru. Laporan ini diharapkan bisa menjadi dasar untuk mengubah kebijakan penahanan Israel terhadap para pengunjuk rasa.

Leave a Comment