Internasional

Bicara di Sidang PBB, Menlu Rusia Tuduh Eropa Hambat Perundingan Ukraina

menteri-luar-negeri-rusia-sergey-lavrov-berbicara-dalam-sidang-umum-perserikatan-bangsa-bangsa-pbb-ke-81-di-markas-besar-pbb-n-1790451929050_169

Lavrov Tuding Eropa Menghalangi Jalur Damai Ukraina di Forum PBB

Wahanaberita.com – Ketegangan diplomatik terkait perang Ukraina kembali mencuat di Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa. Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov menilai negara-negara Eropa justru menghambat proses perundingan yang didorong pemerintahan Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk mengakhiri konflik antara Moskow dan Kyiv.

Dalam pidatonya di forum PBB pada Sabtu, 26 September 2026, Lavrov menyampaikan kritik keras terhadap sikap Eropa. Ia menggambarkan kawasan tersebut sebagai pihak yang berusaha menggagalkan peluang diplomasi di tengah perang yang belum menunjukkan tanda berakhir.

“Eropa melakukan segala yang bisa dilakukan untuk menggagalkan perundingan damai yang diinginkan pemerintahan Trump.”

Lavrov kembali menggunakan istilah “operasi militer khusus”, sebutan resmi Rusia untuk perang di Ukraina. Ia menegaskan bahwa sasaran Moskow akan tetap dijalankan, termasuk penghapusan ancaman yang dianggap Rusia mengganggu keamanannya serta pemulihan kehidupan damai.

“Tujuan operasi militer khusus akan tercapai, ancaman terhadap keamanan Rusia akan dihilangkan dan kehidupan damai akan kembali. Ini akan terjadi apa pun keadaannya.”

Korban Sipil Terus Bertambah

Pernyataan Lavrov muncul ketika serangan dari kedua pihak kembali menimbulkan korban jiwa. Dalam kurun 24 jam terakhir, sedikitnya 16 orang dilaporkan tewas akibat serangan Rusia dan Ukraina.

Di pihak Ukraina, serangan Rusia menewaskan sedikitnya enam orang di Sumy, wilayah timur laut Ukraina, Zaporizhzhia, serta Dnipropetrovsk. Seorang remaja perempuan berusia 17 tahun berada di antara korban meninggal. Serangan pada siang hari di Kyiv pada Jumat juga menewaskan tujuh orang.

Rusia menyebut empat orang tewas akibat serangan Ukraina di wilayah Krasnodar dan Belgorod. Enam korban lain dilaporkan oleh pejabat yang ditempatkan Kremlin di wilayah selatan Ukraina yang diduduki Rusia. PBB telah berkali-kali mengingatkan bahwa jumlah korban warga sipil dalam perang ini terus meningkat.

Situasi tersebut memperlihatkan jurang besar antara pernyataan diplomatik di panggung internasional dan kenyataan di lapangan. Saat pembicaraan damai masih belum menghasilkan terobosan, warga sipil tetap menghadapi risiko serangan rudal, drone, dan operasi militer lintas wilayah.

Perundingan AS Belum Menembus Kebuntuan

Pada Sidang Umum PBB awal pekan ini, Trump kembali menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan antara Rusia dan Ukraina pada akhirnya akan tercapai. Namun, pembicaraan yang dipimpin Amerika Serikat belum mampu menghasilkan kemajuan nyata untuk menghentikan pertempuran.

Kremlin tetap berulang kali menyatakan niatnya untuk menguasai wilayah di Ukraina timur yang masih berada di bawah kendali Kyiv. Pada saat yang sama, Rusia meningkatkan tekanan militer terhadap Kyiv menjelang musim dingin, ketika kebutuhan energi, perlindungan warga, dan ketahanan infrastruktur menjadi semakin penting.

Ukraina juga memperluas jangkauan serangannya ke dalam wilayah Rusia sepanjang tahun ini. Serangan Ukraina telah mencapai kawasan Ural dan Siberia, menunjukkan bahwa dampak perang tidak lagi terbatas pada garis depan maupun daerah perbatasan.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky menilai Rusia terus menaikkan tingkat eskalasi dan meminta negara-negara sekutu memperketat sanksi terhadap Moskow. Di Kyiv, rasa takut dan kelelahan akibat perang terus dirasakan warga yang hidup di bawah ancaman serangan berulang.

“Mereka hanya ingin memusnahkan bangsa kami,” kata Oleksandr Gorlachov, warga Kyiv berusia 43 tahun.

Pertemuan Langka Rusia dan Jerman

Sebelum menyampaikan pidatonya, Lavrov bertemu Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul. Pertemuan itu menjadi kontak langsung pertama antara menteri luar negeri Rusia dan Jerman sejak sebelum perang Ukraina pecah.

Hubungan Berlin dan Moskow sedang berada dalam tekanan besar. Jerman menuduh Rusia berada di balik upaya serangan drone terhadap Bandara Leipzig. Kedua negara juga telah saling memerintahkan penutupan konsulat masing-masing.

Sejumlah negara Eropa, termasuk Jerman, belakangan menyampaikan kekhawatiran atas peningkatan dugaan aktivitas sabotase Rusia di wilayah mereka. Dalam pertemuan dengan Lavrov, Wadephul meminta Rusia menghentikan langkah yang dinilai berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan NATO.

“Wadephul menyerukan Federasi Rusia untuk meninggalkan jalur eskalasinya yang berbahaya terhadap Jerman, Eropa, dan NATO.”

Seorang diplomat Jerman menyatakan bahwa insiden seperti dugaan upaya serangan di Leipzig dan bentuk serangan hibrida lain tidak akan mengubah dukungan Berlin bagi Ukraina. Jerman tetap menjadi salah satu mitra utama Kyiv sejak Rusia menginvasi Ukraina pada Februari 2022.

“Upaya untuk meningkatkan tekanan ini tidak mengubah situasi Rusia yang tidak dapat dipertahankan: setiap bulan, puluhan ribu tentara Rusia tewas dalam perang posisi yang tanpa harapan, sementara ekonomi Rusia terus runtuh.”

Lavrov terakhir bertemu menteri luar negeri Jerman saat Annalena Baerbock masih menjabat, pada Januari 2022, kurang dari satu bulan sebelum invasi Rusia dimulai. Sebagai menteri luar negeri Rusia yang paling lama menjabat, Lavrov dikenal sebagai salah satu suara paling keras Moskow dalam mengkritik negara-negara Barat.

Ia bahkan baru-baru ini menuduh Jerman kembali menginginkan perang. Di hadapan Majelis Umum PBB, kritik Lavrov kepada Berlin kembali disampaikan ketika membahas kemungkinan reformasi Dewan Keamanan PBB.

“Reformasi Dewan Keamanan PBB tidak boleh mencakup pemberian kursi tambahan kepada negara-negara Barat, terutama Jerman dan Jepang, yang kini berada di jalur menuju militerisme.”

Pernyataan itu menegaskan bahwa konflik Ukraina kini tidak hanya dipertarungkan di medan perang. Perang tersebut juga memperdalam perpecahan diplomatik antara Rusia, Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara lain yang terlibat dalam upaya mencari jalan keluar.

Frequently Asked Questions

What is Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia?

Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.

Why does Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia matter?

Bicara di Sidang PBB Menlu Rusia matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *