Waka MPR Ibas: Pendidikan Bukan Sekadar Sekolah, Tapi Investasi Peradaban
Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab disapa Ibas, menyampaikan pesan tegas bahwa sektor pendidikan harus diposisikan sebagai instrumen
Table of Contents
Ibas: Pendidikan Adalah Investasi Peradaban, Bukan Sekadar Urusan Sekolah
Wahanaberita.com – Wakil Ketua MPR RI Edhie Baskoro Yudhoyono, yang akrab disapa Ibas, menyampaikan pesan tegas bahwa sektor pendidikan harus diposisikan sebagai instrumen jangka panjang penentu kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia. Pernyataan itu ia lontarkan dalam Diskusi Kebangsaan bertema “Sekolah Berkualitas, SDM Berkualitas: Investasi Pendidikan untuk Indonesia Emas dalam RAPBN 2027”, yang digelar di Ruang Rapat Pimpinan MPR RI, Jakarta, pada Kamis (20/8/2026).
“Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah. Pendidikan adalah investasi peradaban. Kalau kita ingin mengubah masa depan Indonesia, kita harus mulai dari ruang kelas.”
Anggaran Pendidikan: Bukan Soal Nominal, Tapi Dampak Nyata
Ibas menekankan bahwa pembahasan alokasi anggaran pendidikan dalam RAPBN 2027 tidak boleh direduksi menjadi sekadar angka nominal. Setiap rupiah yang dialokasikan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) ke sektor pendidikan harus membawa manfaat konkret bagi rakyat. Indikator keberhasilannya, menurutnya, terletak pada kemampuan mengubah jalan hidup anak-anak Indonesia.
“Pertanyaannya sederhana: apakah anak belajar lebih baik, apakah guru lebih kuat, apakah sekolah lebih aman, dan apakah anak dari keluarga kurang mampu memiliki kesempatan yang sama? Ukuran keberhasilan anggaran bukan hanya berapa banyak yang dibelanjakan, tetapi berapa banyak masa depan anak yang berhasil kita ubah.”
Revitalisasi Sekolah: Lebih dari Perbaikan Fisik
Ibas mengapresiasi langkah pemerintah yang memprioritaskan anggaran pendidikan serta program revitalisasi sekolah. Namun, ia mengingatkan agar proses tersebut tidak berhenti pada perbaikan fisik bangunan semata.
“Jangan hanya membangun ruang kelas. Kita harus membangun ruang untuk bermimpi. Sekolah yang aman, bersih, dan berkualitas bukan kemewahan. Itu adalah hak setiap anak Indonesia.”
Guru sebagai Investasi Utama
Di luar infrastruktur sekolah, Ibas mendorong agar tenaga pendidik menjadi fokus utama investasi pemerintah. Ia menegaskan bahwa peningkatan kesejahteraan guru wajib berjalan beriringan dengan penguatan kompetensi profesional mereka.
“Guru harus menjadi investasi utama. Kesejahteraan harus berjalan bersama peningkatan kompetensi. Kita ingin guru bukan hanya hadir di kelas, tetapi mampu menjadi penggerak utama peningkatan kualitas pembelajaran.”
Adaptasi Teknologi dan Peran Guru di Era AI
Diskusi tersebut juga menyoroti tantangan adaptasi terhadap perkembangan teknologi, khususnya artificial intelligence (AI). Dalam konteks ini, guru dinilai memegang peran krusial dalam membimbing siswa berpikir secara kritis dan etis ketika berhadapan dengan teknologi.
“AI bisa memberikan jawaban. Tetapi guru mengajarkan pertanyaan apa yang layak ditanyakan.”
Dari sudut pandang generasi muda, Ibas menegaskan bahwa anak-anak Indonesia harus dipersiapkan secara matang untuk menjadi inovator yang andal, bukan sekadar konsumen di pasar digital global.
“Kita tidak ingin generasi Indonesia hanya menjadi pengguna teknologi. Kita ingin mereka menjadi pencipta teknologi. Bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi mampu menciptakan pekerjaan.”
Lima Arah Kebijakan dan APBN sebagai Alat Perjuangan
Ibas kemudian memaparkan lima arah kebijakan utama bagi penyusunan pendidikan dalam RAPBN 2027. Salah satu fokus utamanya adalah menjamin kesempatan pendidikan yang setara bagi seluruh anak, tanpa memandang latar belakang sosial ekonomi.
“Tempat lahir boleh berbeda. Kesempatan untuk memiliki masa depan tidak boleh berbeda.”
Ia juga menegaskan bahwa APBN harus dipandang sebagai instrumen perjuangan nyata untuk meningkatkan kualitas kehidupan rakyat. Setiap rupiah dalam anggaran pendidikan dituntut menghasilkan dampak yang terukur.
“APBN bukan sekadar angka. APBN adalah alat perjuangan untuk melindungi rakyat, memperkuat bangsa, dan menghadirkan kehidupan yang lebih baik.”
Rantai Produktivitas dan Visi Indonesia Emas 2045
Ibas merangkum logika pembangunan pendidikan dalam sebuah rangkaian sebab-akibat:
“Sekolah berkualitas melahirkan SDM berkualitas. SDM berkualitas melahirkan produktivitas. Produktivitas melahirkan daya saing. Dan daya saing melahirkan kesejahteraan.”
Ia menutup paparannya dengan penegasan bahwa misi mewujudkan visi besar negara tidak dapat ditunda hingga bertahun-tahun mendatang.
“Indonesia Emas 2045 tidak dimulai pada tahun 2045. Indonesia Emas dimulai dari ruang kelas hari ini.”
Dukungan Pakar dan Akademisi
Pandangan Ibas mendapat dukungan dari para pakar serta perwakilan legislatif yang hadir dalam diskusi tersebut. Guru Besar Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), Prof Cecep Darmawan, mengingatkan bahwa batas konstitusional alokasi 20 persen anggaran pendidikan bukanlah ukuran tunggal keberhasilan sektor pendidikan.
Related Reading
Frequently Asked Questions
What is Waka MPR Ibas?
Waka MPR Ibas is the main topic of this guide. The article explains the context, practical details, and next steps readers should understand.
Why does Waka MPR Ibas matter?
Waka MPR Ibas matters because readers are looking for a useful answer, not just a short summary. Good content should match search intent and help them decide what to do next.
